magista scarpe da calcio Umar Faruk, Pengusaha Tusuk Sate Asal Kepanjen


Umar Faruk, Pengusaha Tusuk Sate Asal Kepanjen


Malang Post, Warga Kepanjen pasti tidak asing dengan nama Umar Faruk. Pria kelahiran Madura itu adalah pengusaha tusuk sate yang sudah menembus pasar nasional dan menyuplai kebutuhan tusuk sate di lima kota besar di Indonesia. Setidaknya, dalam satu minggu ia harus bisa memproduksi 1,5 ton tusuk sate.
 “Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makasar. Serta kota-kota yang lain juga mulai memesan tusuk sate produksi kami,” paparnya saat ditemui Malang Post.
Ia menjelaskan, lima kota besar itulah yang dijadikan prioritas utama karena hasil produksi selalu diambil dalam kurun waktu satu minggu sekali. Faruk  menceritakan, awal mulai menjadi pengusaha tusuk sate bukanlah perkara mudah. Ia harus  membeli mesin pembuat tusuk sate senilai Rp 50 juta. Tak hanya itu, Faruk juga harus mencari batang bambu sebagai bahan dasar tusuk sate yang akan dipasarkannya.
“Rp 50 juta itu harus utang bank. Saya niati diri saja untuk maju karena saat itu saya melihat potensi usaha tusuk sate bisa berkembang di wilayah sekitar,” jelas Faruk.
Kini usaha Faruk mulai terbayar, dari usaha tusuk sate ini dirinya bisa berangkat menunaikan ibadah haji dan menggandeng warga untuk ikut serta dalam mengembangkan usahanya. Ia membuka lowongan pekerjaan baru bagi mereka.
Faruk menjual tusuk satenya dengan harga Rp 11.500 per kilo untuk tusuk sate ayam dan 10.500 per kilo untuk sate kambing. Ia tidak segan menjelaskan bahwa dirinya memberikan harga sesuai dengan tingkat kerumitan serta kualitas tusuk sate hasil produksinya. “Kalau tusuk ayam lebih rumit karena diameternya hanya 2.5 cm, berbeda dengan tusuk sate kambing yang memiliki diameter lebih besar yakni 3 cm sampai 4 cm. Jadi tusuk sate ayam memang harus diserut dengan tenaga manual dan bukan mesin,” imbuhnya.
Tak hanya memproduksi untuk pelayanan skala besar. Faruk juga tidak pernah menolak untuk memberikan pelayanan bagi pemesan dengan skala kecil seperti dari penjual cilok, sempol, dan lain sebagainya. Menurutnya, hal ini ia lakukan sebagai bentuk penjagaan diri dari sifat sombong.
Terhitung ada sekitar 30 orang yang ia gandeng untuk ikut bekerja dalam usahanya ini. “Kami tidak pernah disebut sebagai pegawai melainkan selalu disebut sebagai rekan kerja oleh beliau,” ujar Junet, pemuda yang merupakan warga sekitar.
Ia mengaku sebelumnya hanya menganggur hingga akhirnya ia direkrut oleh Faruk. “Sosoknya sangat menghargai siapapun, saya sudah lima tahun bekerja bersama beliau. Saya hanya bisa mendoakan keselamatan baginya untuk terus bisa mengembangkan usaha serta mengurangi angka pengangguran di Kepanjen,” tandasnya. (mg1/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang