Tiap Hari Wajib Mengaji, Hafal Satu Juz Alquran


Malang Post, KN, ZS dan DNZ memang trauma dan tertekan dengan perlakuan ibu mereka, setahun disekap, tak bisa keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain. Namun kondisi itu juga memunculkan reaksi psikologis berupa kelekatan dan ketergantungan mereka pada sang ibu.
Maka, saat Alikah dieksekusi oleh tim gabungan untuk dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Selasa lalu, jerit dan tangis tiga putri ini pecah. Ketiganya tidak ingin berpisah dengan sang ibu. Sekalipun selama setahun terakhir disekap di dalam rumah, rasa sayang dan cinta mereka terhadap sosok ibu jelas masih terlihat.
Kriminolog dan psikiater Nils Bejerot yang memopulerkan Stockholm syndrome dapat menjelaskan kondisi tersebut. Korban yang mengalami tekanan emosi dan (terkadang) fisik secara serius memunculkan mekanisme pertahanan diri untuk mengatasi tekanan tersebut, yang ditunjukkan dengan perilaku berlawanan. Mereka seharusnya marah, takut dan benci kepada pelaku, namun karena menanggung perasaan itu dalam waktu lama membuat korban lelah, semua perasaan itu berubah menjadi sayang. Mereka bereaksi berlawanan dari apa yang seharusnya dan sebenarnya mereka rasakan.
Berdasarkan penuturan ketiganya kepada sang ayah serta beberapa orang yang menyelamatkan mereka dari penyekapan, KN, ZS dan DNZ tidak pernah mengalami siksaan fisik dari sang ibu. Ketiganya hanya tidak diperbolehkan keluar rumah saja. Selama kurun waktu tersebut, Alikah yang didiagnosa mengalami gangguan jiwa justru mengajari anak-anaknya ilmu agama.
Setiap hari KN, ZS dan DNZ diajari mengaji. Selain membaca Alquran, setiap malam mereka juga diminta untuk membaca surat Yasin. “Mereka semua hafal surat Yasin. Bahkan, yang besar sampai hafal satu juz Alquran karena setiap hari mereka diminta untuk membaca dan menghafalkan Alquran,” terang Emi Lispartina, Kasi Kesos dan Kepemudaan Kecamatan Bululawang.
M Romli serta Malik, sang paman juga membenarkan hal itu. KN, ZS serta DNZ pandai mengaji dan hafal satu juz. “Ketiganya ketika saya tanya juga mengatakan setiap harus mengaji. Alasan ibunya, karena ketika meninggal yang dibawa adalah ilmu agama,” ujar Romli yang diamini Malik.
Sementara itu, beberapa tetangga depan rumah Alikah menyatakan, selama sekitar setahun ini, Alikah dan ketiga anaknya memang tidak pernah keluar rumah. Ketika keluar rumah, pada pagi hari menjelang subuh supaya tidak ada orang yang melihat. Itupun hanya sebentar saja, kemudian masuk rumah lagi.
“Keluar rumah paling pas belanja saja. Itupun, tukang sayur yang melintas dipanggil masuk ke teras. Sekali belanja, selalu dalam jumlah banyak untuk beberapa hari. Setelah itu tidak keluar lagi,” terang Sri Utami, tetangga depan rumah Alikah.
Uang yang digunakan belanja dan membeli sembako dari hasil kerja Alikah sebagai tukang jahit. “Setahu kami, ia masih menerima jahitan dari langganannya. Tetapi pelanggannya bukan warga sekitar sini,” katanya.
Selama ini, tetangga sekitar memang mengetahui Alikah mengalami gangguan kejiwaan. Termasuk ketiga anaknya tidak diperbolehkan keluar. Hanya tetangga tidak ada yang berani masuk ke dalam rumah. Berulang kali dilaporkan ke ketua RT, juga tidak mendapat respon.
“Kami semua tidak ada yang berani. Pernah ada tetangga ngobrol di depan rumah saya, namun Alikah malah menggedor-gedor pintu rumahnya sembari berteriak marah-marah. Setelah kejadian itu, warga tidak ada yang berani,” ungkap Aspiah, tetangga lain depan rumah Alikah.(agp/mp)

Berita Lainnya :