Mochamad Fauzi, Pembuat Gitar Kayu asli Kota Malang


Malang Post,  Bersaing dengan zaman yang memanfaatkan kemajuan teknologi, tidak membuat sosok Mochamad Fauzi putus asa dalam berkarya. Perajin gitar asli Kota Malang tersebut, tetap bertahan lebih dari 25 tahun untuk membuat gitar. Jumlah produksinya memang menyusut, namun dia bertahan karena konsisten melayani pemesanan dari luar kota seperti Papua dan Kalimantan, dengan brand Labas Gitar yang diusungnya.
Rumahnya berada di gang sempit di kawasan Jalan Candi, Karang Besuki Kota Malang. Harus berjalan kaki ketika menuju rumahnya. Sepeda motor bisa masuk, namun terdapat papan peringatan agar pengendara menuntun kendaraan bermotornya dalam kawasan padat penduduk tersebut. Mamad, begitu Fauzi biasa disapa, sedang asyik membuat pesanan gitar ketika Malang Post datang ke rumahnya, yang sekaligus menjadi tempat produksi.
Fauzi lantas bercerita mengenai kondisi saat ini. Dia mengalami penurunan jumlah produksi gitar. Maksimal, dalam sebulan hanya 3-4 gitar bisa dibuat. Sementara, jika gitar yang diinginkan customer rumit, dalam sebulan hanya mampu membuat dua buah gitar saja.
Jumlah tersebut menurun ketimbang 5-10 tahun lalu. Selain karena faktor pesanan yang memang banyak, dia kini juga tidak lagi dibantu pekerja. Fauzi, mengerjakannya seorang diri. Dua tahun terakhir, dia memilih untuk memproduksi sendiri.
"Kalau dulu, ada lumayan banyak yang pesan, makanya ada beberapa orang yang membantu. Tetapi sekarang, mungkin banyak yang memesan di toko musik besar, yang sebagian besar merupakan produksi pabrikan. Saya pun memilih mengerjakannya sendiri," ujar Fauzi, mengawali cerita.
Menurut dia, meski hanya dua hingga empat gitar dia produksi, dia bertahan. Pasalnya, yang dibuat merupakan produk yang jauh lebih berkualitas ketimbang produksi pabrikan, yang dinilainya kejar target. Secara suara dan keawetan, dia menjamin produk Labas Gitar miliknya lebih baik.
"10-15 tahun, kualitas suara tetap bagus. Bahannya juga dari kayu solid, kayu asli yang tanpa dicampur bahan apapun. Suara, lebih jernih. Gitar juga lebih awet," yakin dia.
Untuk itulah, dia percaya diri mengatakan kualitas gitarnya bagus. Secara harga, dia pun membidik customer kelas menengah ke atas, dengan harga gitar mulai dari Rp 3 juta sampai Rp 10 juta.
"Saya tinggal menyesuaikan bentuk atau model yang diinginkan customer. Memang harganya saya patok mulai Rp 3 juta," tegasnya.
Untuk gitar tabung solid berbahan kayu impor mahoni dijual dengan harga Rp 3 jutaan, sonokeling sekitar Rp 4 jutaan, mapple dan rosewood harganya sekitar Rp 6 jutaan. Tetapi, dia juga mengakui bisa membuat gitar listrik meski tidak sebanyak pemesanan gitar tabung.
Dia menyampaikan, pembuatan gitar yang detil darinya merupakan resep rahasia yang membuat suara gitar Labas berbeda dan cocok dengan telinga. Ada teknik pembuatan yang berbeda jika dibandingkan dengan gitar buatan dari kota lain di Indonesia. "Ini kan buatan satu tangan (baca: satu orang, Red) saja dan dikerjakan dengan penuh rasa. Saya bayangkan ini untuk saya mainkan sendiri, makanya harus bagus," urai dia panjang lebar.
Di tempat lain, gitar dibuat oleh banyak orang, ada yang membuat kepalanya, tabungnya sendiri, kerangka sampai lengkap dan utuh menjadi gitar. Di tempatnya, semua proses dilakukan satu tangan, untuk menjaga kualitasnya.
Dia mengatakan, untuk satu buah gitar, akan dia kerjakan dalam waktu dua minggu. Namun, dalam rentang waktu tersebut, dia tidak mengerjakan satu buah gitar saja. Ada dua atau lebih yang dia produksi secara bersamaan.
"Kalau bosan yang satu, kerjakan yang satunya. Itu memang tantangannya. Kadang bosan, kalau gak pindah mengerjakan gitar lain ya mengerjakan servisan gitar yang saya terima. Untuk hari Minggu, saya libur dan memberikan waktu untuk keluarga," tutur pria kelahiran 1972 tersebut.
Mamad mengaku, kini memiliki pelanggan tetap dari Papua. Dalam waktu sebulan, pelanggan tersebut memesan dua buah gitar dan dijual di pulau paling timur Indonesia itu. "Dulu awal kenal, karena dia mahasiswa di Malang, memesan gitar ke saya. Setelah selesai kuliah, dia sering pesan lagi dan dikirim ke Papua," tambahnya.
Sementara itu, pria yang mengakui sudah membuat gitar sejak SMP tersebut mengatakan, dirinya juga tetap mengikuti perkembangan teknologi. Penjualan produk, dia maksimalkan pula lewat online seperti via Facebook dan Instagram.
"Selain pelanggan lama, juga banyak pelanggan baru yang browsing di internet atau media sosial. Kadang saya dibantu adik saya untuk pemesanan online. Tetapi kalau sudah produksi, saya follow up penuh," tutur Mamad.
Menurutnya, pelanggannya pun beragam. Mulai dari anak SD sampai anak kuliahan hingga pebisnis. Beberapa juga merupakan musisi lokal Malang yang sudah mengenali produk Labas Gitar. (stenly rehardson/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :