Ayu Nuraisah, Pelukis dengan Alat Make Up


Malang Post, Melukis di atas kanvas dengan cat minyak merupakan hal umum. Namun bagaimana jika alat yang digunakan adalah peralatan make up dan bahan warna dari kosmetik?.  Ayu Nuraisalah melakukan itu.
Perempuan kelahiran 2 Oktober 1989 ini tak mau berkutat dengan hal biasa. Sesuatu yang baru menurutnya harus dicoba. Dan melukis dengan alat make up membuat dirinya sangat puas. Bahkan, tidak lama lagi juara Drawing Competition tingkat internasional tahun 2015 ini bersiap menggelar pameran tunggal karya lukis make up miliknya.
“Ini sedang bersiap. Sudah ada beberapa karya, masih kurang beberapa lagi,” kata Anna begitu dia akrab dipanggil.
Anna menyebut, melukis dengan alat make up dilakukan sejak 2013 lalu. Saat itu, dia mengaku sedang depresi. Masalah keluarga yang dialami membuat dirinya sangat stres. Anna pun mencoba menghilangkan stres dengan melakukan sesuatu yang disukai. “Hobi saya melukis. Tapi waktu itu tak memiliki media, baik kanvas ataupun cat minyak, sehingga mencari cara lain untuk tetap bisa melukis,” urainya.
Saat itulah dia teringat peralatan make up miliknya. Tanpa pikir panjang, Anna pun mengumpulkan peralatan make upnya. Mulai dari kuas blush on dan lainnya. Dia mulai melukis di atas kertas. Lulusan ISI Yogyakarta ini pun dengan bersemangat menuangkan isi pikiran dan perasaannya di atas HVS warna putih Dia mencurahkan semua rasa yang ia pendam.
 “Waktu pertama saya melukis wajah seorang anak, dimana di atas kepala anak tersebut banyak ornamen. Itulah cerita saya, dimana di kepala saya gambarkan beban yang mendera,” katanya.
Gambaran tentang masalahnya yang sangat jelas itu membuat lukisan Anna terlihat hidup dan mendapatkan pujian dari beberapa pihak.  “Saya tadinya tidak begitu puas, tapi teman-teman saya banyak yang suka dengan karya saya, katanya memiliki aura dan terlihat hidup,” ungkapnya.
Berhasil membuat satu karya, Anna ketagihan. Dia pun kembali melukis dengan peralatan make up. Dia tak peduli lagi dengan biaya yang dikeluarkan, karena melukis menggunakan kosmetik lebih mahal dibandingkan dengan cat minyak. Kepuasan melukis dan bisa mencurahkan isi hati itulah yang menjadi prioritasnya.
Sekalipun menggunakan peralatan make up, Anna mengaku tak pernah mendapatkan kendala. Termasuk pewarnaan. Untuk warna-warna yang tajam, dia menggunakan lipstik. “Kan terus belajar. Beda kok warna make up yang harganya murah dengan yang bermerek,” ungkapnya.
Ditanya berapa biaya untuk satu lukisan menggunakan make up, alumni Poltekes Negeri Malang ini hanya tersenyum. “Kan satu alat make up tidak digunakan sekali, bisa beberapa kali. Sama seperti menggunakan cat air. Cuma ya lebih mahal dikit,” katanya tersenyum.
Kendati demikian, ibu satu anak ini masih enggan menjual lukisan make upnya. Ia memprioritaskan semua karya itu untuk dipamerankan lebih dulu. “Banyak yang menawar, tapi saya belum mau menjual, buat pameran dulu. Kalau yang pakai cat minyak itu gak masalah kalau mau dibeli,” ungkapnya.
Sekarang, melukis tak sekadar hobi bagi Anna. Keahliannya melukis juga menjadi pekerjaan. Hasil melukis tak hanya dapat untuk mencukupi kebutuhan, tapi juga membuat dia bisa membeli rumah dan kendaraan. “Kalau diseriusi, hobi bisa jadi pekerjaan. Jangan menyerah, itu saja kuncinya,” ucapnya.
Anna menceritakan, hobi melukis ini dimiliki sejak dia kecil. Hampir setiap lomba lukis baik tingkat sekolah, antar sekolah, kecamatan hingga daerah diikutinya. Beragam prestasi pun diraih dari lomba itu.
Selain melukis, Anna juga pernah menjadi make up artis dan make up karakter. “Ibu saya berprofesi sebagai make up artis. Seringkali saya ikut beliau untuk praktik make up,” tambahnya.
Anna juga mengaku terus mengembangkan bakatnya. Dia tidak mau hanya puas dengan lukis menggunakan alat make up. Tapi dia ingin mengembangkan dengan yang lain. “Sejatinya seni itu tidak stagnan. Kita bisa melakukan apa saja. Yang dibutuhkan adalah kreativitas. Sepanjang kreativitas itu masih ada, seni apapun bisa kita ciptakan,” tandasnya.(ira ravika/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :