Didampingi Penjaga Masjid dan Tentara Pembimbing Hafidz


Malang Post, Pada pergantian tahun 2017 – 2018, wartawan Malang Post Bagus Ary Wicaksono, melaksanakan ibadah umrah. Selain menyaksikan perluasan Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekah. Juga menjadi saksi sejarah, kali pertama Kerajaan Saudi Arabia memberlakukan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar lima persen setiap transaksi barang dan jasa terhitung mulai 1 Januari 2018.
Ini adalah ibadah umrah pada malam pergantian tahun. Saya, berangkat ke Madinah pada Rabu 27 Desember 2017 dan tiba di tanah air Kamis 4 Januari 2018. Penerbangannya direct dari Juanda Surabaya ke Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah, dan sebaliknya dari Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah ke Juanda dengan Saudi Arabian Airline.
Seluruh perjalanan ditangani biro umrah dan haji Saudaraku. Total rombongan 25 orang jamaah. Di tanah suci, saya sekamar dengan Serka Sriono Ari Susanto Bamintuud Koramil 0818/17 di bawah Kodim 0818/Malang-Batu, Junaidi Abdulloh penjaga Masjid Khadijah Kota Malang dan Gus Yatimul Ainun dari Pondok Pesantren Al Hikmah Lil Muttaqin Bululawang.
Penerbangan ke Madinah ini, cukup lama, sekitar 9 jam. Kami manfaatkan waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Ketahuan, dibanding rekan sekamar saya, saya yang terbilang paling ugal-ugalan.. hehe. Sebab, ketiga rekan sekamar saya, dekat dengan masjid dan ponpes.
Serka Ari sapaan akrab Sriono Ari Susanto dan Junaidi Abdulloh adalah pemenang hadiah umrah Jalan Sehat Indonesia Membaur. Bagi keduanya, keberangkatan kali ini istimewa sekali. Seperti saya, Serka Ari, baru kali pertama ke tanah suci. Sedangkan bagi Pak Jun, sapaan akrab Junaidi Abdulloh adalah perjalanan kedua.
Serka Ari ini, di kesatuannya dianggap ustadz, sebab ia memang berkecimpung dalam pembinaan agama Islam. Ia biasa menjadi khatib Salat Jumat. Bahkan, sebelum berdinas di Koramil 0818/17 Ampelgading, ia cukup lama berdinas di Kesatuan Arhanud. Di sana ia, pernah diberi tugas komandannya untuk membentuk penghafal Alquran.
“Saya temukan empat tentara calon penghafal Alquran, saya yang mengkoordinir mereka, ada yang setor hafalan ke saya, ada  yang setor ke kakaknya,” aku dia.
Dari keempat hafidz tentara tadi, ada yang mengawali hafalan dari nol dan ada yang dari dua juz saja. Mereka kemudian dipertandingkan pada perlombaan antara tentara tingkat dunia di Arab Saudi. Karena dibina Serka Ari, mereka bahkan bisa umrah duluan.
“Setelah bertahun-tahun, baru akhirnya baru tahun ini  saya mendapat panggilan ke tanah suci,” ungkap tentara yang berdomisili di Talangagung Kepanjen ini.
Lalu bagaimana dengan Junaidi Abdulloh. Pria asal Kampung Talun Klojen Kota Malang ini, adalah rajanya undian. Ia selalu berdoa agar bisa umrah. Salah satu ikhtiarnya dengan mengikuti banyak jalan sehat, sepeda sehat yang berundian.
“Saya dapat hadiah umrah tiga kali, yang pertama beberapa tahun lalu, yang kedua hangus karena saya tidak hadir di tempat undian dan yang ini yang ketiga,” tutur Jun.
Menilik dari gajinya sebagai penjaga masjid yang di bawah Rp 2 juta per bulan, Jun tak terpikir untuk umrah sendiri. Dari segi biaya saja sulit. Namun ia tak berhenti berikhtiar. Dan hasilnya menggembirakan hati. Malah, Allah SWT memberikan lebih.
“Saya menang banyak undian, barang di rumah saya itu, semuanya hasil undian, kipas anginm televisi, HP, laptop, sepeda onthel, sepeda motor, Alhamdulillah pokoknya,” urainya sambil menengadahkan dua tangan, tanda syukur.
Maka setelah tahu satu sama lain, kami langsung akrab. Bahkan ketika mendarat di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah, langsung saling menjaga satu sama lain. Misalnya menjaga antrean di imigrasi Madinah, antrean super lama karena petugas bandaranya super santai.
Lolos dari imigrasi, kami akhirnya bisa bertemu dengan Ustadz Fandi Ahmad. Mukimin asli Madura ini, sudah menunggu di pintu keluar bandara. Beliau adalah guide, sekaligus mutawif (pembimbing ibadah umrah) kami. Saat itu, sudah masuk tanggal 28 Desember 2017, waktu di Madinah tercatat pukul 02.00 an.
“Sambil menunggu rombongan, tunggu di dalam bandara dulu saja, di luar dingin sekali,” saran Ustadz Fandi sapaan akrabnya.
Ya, udara Madinah memang dingin, mencapai 12 derajat celcius. Lebih dingin dari cuaca paling dingin Kota Batu sekalipun. Bahkan ketika terkena anginnya, badan seperti meriang. Cuaca dingin, dengan tingkat kelembaban yang rendah, alias kering. Setelah semua barang naik ke bus, kami meluncur menuju Hotel Leader Al-Muna Kareem di dekat Jalan King Faisal.
Meski dingin, rasa hati kami tenang sekali. Sejak tiba di bandara kami sudah berada di tanah haram. Ada dua istilah tanah haram di Madinah. Pertama, Haram Asy-Syajar, disebut lingkaran yang mengelilingi Madinah dari berbagai arah. Kedua, Haram Ash-Shayd, yakni tanah yang di sekitar Masjid Nabawi.
Batasnya, menurut Sabada Rasulullah sebagaimana di Sahih Muslim no. 1370, adalah Gunung Ayr dan Gunung Tsur. Itu adalah batas utara dan selatan. Sedangkan batas timur dan barat, menurut Sabda Rasulullah sebagai di Sahih Muslim no. 1363 adalah tanah diselimuti bebatuan hitam di timur dan selatan Madinah.
Adapun hotel saya, tiga blok dari Masjid Nabawi. Lurus dengan pintu 26, sehingga dekat jika hendak ke Baqi dan Raudah. Sepintas, saat tiba di hotel, saya lihat tiang tinggi Masjid Nabawi dihiasi lampu warna hijau. Ada tanda panah juga bertuliskan Haram, menurut saya ini petunjuk arah ke Masjid Nabawi. Hati langsung dag dig dug, rasanya sudah tak sabar untuk segera mendatanginya.(Bagus Ary Wicaksono)

Berita Lainnya :

loading...