Jadi Kota Modern, Pemkot Wajib Tiru Macyto Madinah


Malang Post,
Al-Madinah al-Munawwarah atau kota yang bercahaya, adalah kota Nabi Muhammad SAW. Cerminan karakter masyarakatnya tentu sangat terpengaruh dengan Rasulullah yang dimakamkan di sana. Madinah adalah kota modern Islam pertama. Sekaligus kota yang memiliki aturan tertulis pertama di dunia!
Kini usia Madinah sudah 1396 tahun. Itu jika hitungannya mengacu sejak Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah (Yatsrib) pada tahun 622 masehi. Menurut sejumlah riwayat, perjalanan ke Madinah menggunakan jasa penunjuk jalan non muslim, namanya Abdullah Ibnu Uraiqith. Ia dipilih karena jujur, profesional. Profesional dalam arti piawai merawat unta. Serta menguasai jalur Makkah - Madinah sehingga merupakan penunjuk jalan yang cermat.
Begitu tiba di Madinah, Nabi Muhammad SAW mendeklarasikan piagam Madinah. Menjadi aturan pertama tertulis di dunia. Mengatur sendi kehidupan antara kaum muslimin dengan non muslim, termasuk Yahudi. Ini konstitusi pertama, sebab Magna Charta saja baru lahir tahun 1215. Sosiolog Amerika Robert N Bellah menyebut masa itu, apa yang dijalankan Rasulullah SAW di Madinah, sebagai kosmopolitanisme peradaban tercanggih.
Ini disebut dalam buku Islamisasi Pembangunan, karya Muhammad Syukri Salleh, Muhyarsyah, Muhammad Qorib, Mohd Shukri Hanapi, Warjio, Kasyful Mahalli, Saprinal Manurung. Robert menyebut bahwa Madinah menjadi cikal bakal pula kosmopolitanisme peradaban Islam. Madinah sangat modern, tampak dari hilangnya batasan etnik, kuatnya pluralitas budaya dan heterogenitas politik.
Dalam buku lain, juga disebut keistimewaan piagam Madinah. Yakni dalam buku MADINAH, Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW karya Zuhairi Misrawi.
“Piagam MADINAH secara ekspilisit merupakan upaya yang sungguh-sungguh dari Nabi untuk membangun toleransi,” urai Zuhairi di halaman 297.
Ia menuliskan Rasulullah ingin menunjukkan pada umatnya dan kabilah yang hidup di Madinah. Bahwa kepemimpinannya mengedepankan prinsip toleransi di dalam internal umat Islam maupun dalam konteks antar agama dan kabilah. Maka, hingga kini prinsip itu tercermin pula dalam sendi kehidupan masyarakat Madinah.
Kota ini, didatangi peziarah dari bangsa-bangsa di seluruh dunia. Dalam beribadah mereka memakai “kostumnya” masing-masing dan ini tak jadi masalah. Saya melihat ada orang Jogjakarta yang kopiahnya diganti blangkon, sedang bawahannya sarung juga salat di Masjid Nabawi.
Bersatu dengan orang Arab bersurban bergamis. Orang Afrika yang mengenakan baju dengan warna-warna mencolok. Atau orang Pakistan yang mengenakan kopiah unik dengan dahi terbuka, serta baju atasan panjang sedengkul. Bahkan dengan orang Turki yang memakai kopiah ala Maher Zain.
“Kalau di sini pakai gamis juga nyaman saja, tapi kalau pulang ke Malang, ya agak aneh,” aku Serka Serka Sriono Ari Susanto teman sekamar saya selama ibadah umrah.
Lalu bagaimana dengan masyarakatnya. Sejauh ini, menurut saya ramah dan cepat akrab. Paling tidak hal itu yang saya rasakan ketika beberapa hari tinggal di Madinah. Terutama bergaul dengan para pedagang di sekitar Masjid Nabawi. Padahal, saya hanya nongkrong di tokonya selama berhari-hari, tanpa membeli.
“Indonesia saya tahu Bali, Bandung dan Jakarta, kalau rumahmu di Malang, jauh tidak sama Bali,” tanya Khalid salah satu pedagang asli Madinah kepada saya.
Soal modernitas, sudah pasti Madinah modern dan canggih. Ini langsung terlihat dari perlengkapan canggih yang ada di Masjid Nabawi. Atapnya saja buka tutup otomatis. Di halaman masjid bertebaran luggage lockers ala Eropa. Giant screen untuk peringatan dengan berbagai bahasa bertebaran pula di sudut masjid.
Lalu bagaimana dengan segi peribadahan. Bingung soal khotbah Jumat di masjid Nabawi? Jangan khawatir, khotbah bisa juga didengar dengan bahasa Indonesia. Kok bisa? Ya bisa. Sebab, translate khotbah bisa didengar melalui channel radio ponsel, tentu dengan earphone di FM 99.
Di Masjid Nabawi, seluruh toiler juga terkoneksi dengan parkiran. Basementnya sampai tiga lantai, menggunakan lift dan escalator semua. Begitu memanjakan pengunjung. Ini adalah cerminan kecanggihan di Madinah.
Soal makanan dan minuman, semua yang halal ada di Madinah. Bahkan kopi Starbucks bisa dinikmati di depan pintu 25 Masjid Nabawi. Kopi Starbucks tak sungkan memakai semua jenis kopi import untuk kedainya. Jangan harap menemukan Qahwa atau kopi khas Arab di situ.
“Kami hanya memakai kopi import saja, tidak ada kopi lokal,” aku salah satu pegawainya.
Nah, soal pariwisata, Madinah juga modern. Kota ini memiliki bus city tour, sama dengan Malang City Tour (Macyto) di Balai Kota Malang. Untuk mudahnya sebut juga Macyto atau Madinah City Tour. Sebaiknya Pemkot Malang meniru layanan di bus ini, untuk Macyto. Apalagi sudah banyak wisatawan asing yang menaiki Macyto Malang.
Busnya jauh lebih baik, diberi nama City Sightseeing, Hop-On Hop-Off Al Madinah. Biaya keliling Madinah selama dua jam dipatok 80 riyal atau sekitar 21 US dolar setara Rp 320 ribu.
“Bisa keliling Madinah dengan perhentian di 11 tempat,” ujar salah satu pegawainya kepada Malang Post.
Di antara perhentiannya adalah Hijaz railway station, museum Alquran, Masjid Qiblatain hingga Jabal Uhud.
Hebatnya, layanan ini juga memakai beberapa bahasa. Termasuk bahasa Indonesia. Jika guide sedang menerangkan, maka wisatawan dari Indonesia bisa memasang earphone di kursinya ke telinga. Tak hanya Indonesia, bus melayani delapan bahasa, Arab, Prancis, Inggris, Turki, Iran, Malaysia, dan Pakistan.
Bus Hop-On Hop-Off Al Madinah ini bisa langsung dijumpai di pintu gerbang Masjid Nabawi. Di dekat perhentian bus, pengunjung juga bisa bermain dengan ratusan burung merpati. Jika difoto, suasananya tak kalah dengan Eropa, apalagi di sekitar perhentian juga dikelilingi gedung-gedung menjulang tinggi.(Bagus Ary Wicaksono)

Berita Lainnya :

loading...