magista scarpe da calcio Melihat Tembok Ratu Zubaida hingga Tugu Penyembelihan Ismail


Melihat Tembok Ratu Zubaida hingga Tugu Penyembelihan Ismail


Empat hari di Madinah, sore menjelang pergantian tahun, wartawan Malang Post Bagus Ary Wicaksono bergerak ke Makkah al-Mukarramah. Dari Madinah jarak tempuhnya sekitar 450 km. Tentu berat meninggalkan Kota Rasulullah SAW. Sejumlah tempat bersejarah dengan kisah yang dahsyat terhampar di jazirah Madinah hingga Makkah.
Ya, tak hanya ibadah umrah, ratusan tempat bersejarah menjadi nilai tambah dari perjalanan kali ini. Tentu untuk umrah, karena berangkat dari Madinah, miqatnya dari Masjid Dzul Hulaifah atau Masjid Bir Ali. Disebut Bir Ali karena di dekatnya dulu ada sumur air milik Imam Ali.
Masjid ini berjarak sekitar 12 km dari Masjid Nabawi. Dahulu Rasulullah juga bermiqat di masjid ini. Sepintas masjid ini berdiri kokoh bak benteng. Temboknya tinggi sekali, dan memiliki satu menara dengan ketinggian sekitar 60-an meter. Saat tiba di Bir Ali, jamaah sudah berpakaian ihram, sehingga tinggal salat Tahiyatul Masjid saja.
Setelah berniat umrah dari Bir Ali, saya memastikan berpisah dengan Kota Madinah. Ada rasa haru. Beruntung sebelumnya saya sudah berziarah ke Jabal Uhud tempat Syadina Hamzah dan syuhada perang Uhud dimakamkan. Di dekat areal makam juga terdapat Jabal Rumah, ini adalah bukit tempat bernaung para pemanah dari kaum muslimin.
Sebelum berziarah ke Jabal Uhud, saya juga telah melihat jalur perang Khandaq. Pada tahun 627 masehi, Madinah dikepung kaum kafir Quraisy dari segala penjuru. Untuk mempertahankan diri, Rasulullah memerintahkan pembangunan parit mengelilingi Madinah. Ini atas usulan dari Salman al-Farisi, sesuai namanya khandaq artinya tanah yang telah digali.
Selain melihat jalur khandaq, bila berada di dekat Masjid Qiblatain (dua kiblat) Madinah, akan terlihat Kingdom Palace di arah timur. Itu adalah istana kerajaan yang dibangun di atas gunung, disebut Jabal Habsyi. Seluruh puncak gunung yang datar disulap menjadi istana super megah berjarak sekitar 12,5 km dari Masjid Nabawi.
Di atas bus, usai merapal niat umrah, saya berdoa agar suatu saat bisa kembali lagi. Beberapa saat setelah bus berjalan, di kanan kiri hanya terlihat gunung batu dan padang luas berbatu. Sepanjang perjalanan selama 450 km, hanya pemandangan itu yang terlihat.
“Betapa berat dulu perjalanan haji dan umrah ketika masa Rasulullah, berjalan kaki, kita saat ini enak nyaman di atas bus, dengan waktu perjalanannya Madinah – Makkah hanya sekitar lima jam saja,” papar Ustadz Fandi Ahmad mutawif kami.
Di tengah gunung dan padang luas berbatu, Ustadz Fandi tak berhenti memimpin pembacaan kalimat talbiah.
Labbaikallahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik
Innalhamda Wan Ni’mata
Laka Wal Mulk
Laa Syarikalak
Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu
Haru kian membuncah. Bahkan tak sedikit terdengar isak tangis. Termasuk di deret depan, ada sahabat sekamar saya, Serka Sriono Ari Susanto dan Junaidi Abdulloh penjaga Masjid Khadijah. Pak Jun, sudah pasti menangis, karena dia memang halus hatinya. Mereka berdua duduk satu kursi.
“Saya juga menangis, tapi tadi agak mengo (menoleh), agar Pak Jun gak melihat, masak tentara nangis,” kelakar Serka Ari saat kami berhenti di rest area.

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top