Agen Irwan Daftar Haji, Mak Ti Loper Menabung Bertahun-Tahun

 
Loper dan agen koran adalah pejuang, garda terdepan dari industri surat kabar. Mereka berjibaku, bekerja keras memasarkan karya jurnalistik dari tim redaksi. Kata pepatah, kerja keras tak pernah mengkhianati hasil. Irwan Supratikto “Kedawung Agency” dan loper koran Siti Sulastri alias Mak Ti telah membuktikannya. Dari hasil perjuangannya, mereka bisa menunaikan ibadah umrah.
Keberangkatan dua orang ini, membuat keluarga besar Malang Post sangat bergembira. Irwan, biasa pula disebut Irwan Agency, bisa berangkat ke tanah suci. Kegembiraan makin bertambah, saat Mak Ti juga dikabarkan umrah. Apalagi undangan dari Allah SWT ke tanah suci itu, berasal dari keistiqomahan mereka dalam memasarkan koran. 
Irwan berangkat menunaikan ibadah umrah sejak tanggal 26 Desember 2017, dan kembali ke tanah air pada 3 Januari 2018. Ia melewatkan tahun baru di tanah suci. Panggilan ke tanah suci ini, baginya merupakan kesempatan amat berharga bagi agen koran terbesar di Malang ini.
Kepada Malang Post, ia mengaku, ibadah umrah ke tanah suci ini sudah lama direncanakan. Namun, beberapa kali tertunda karena satu dan lain hal. Maka ketika ia berhasil berangkat pada 26 Desember lalu, rasa syukur kepada Allah SWT terus ia panjatkan. Apalagi, ini adalah kali pertama, Irwan menjalani ibadah umrah!“Alhamdulillah di tahun ini saya mendapat hidayah untuk bisa melaksanakan ibadah umrah ke tanah suci,” tegasnya kepada Malang Post.
Cita-cita umrahnya sempat tertunda, karena ingin membahagiakan orang tuanya lebih dahulu. Ia juga memilih menghajikan mertuanya. Sebelum berangkat umrah, dalam hatinya, sempat terbit pertanyaan besar pula.
“Memang awalnya sebelum pergi umrah ini, saya berpikir, apa saya pantas ke sana. Mengingat banyak kesalahan yang saya lakukan,” akunya.
Namun, dengan niat yang sudah bulat. Saat berangkat, ternyata semuanya dipemudah oleh Allah SWT. Ia bisa melaksanakan ibadah umrah, serta kesunahan lain di tanah suci dengan lancar. 
“Saat mencium Hajar Aswad saya diberi jalan dan bisa mencium sebanyak empat kali, tanpa ditarik-tarik oleh petugas,” imbuh Irwan. 
Bagi Irwan, ibadah umrahnya ini memberikan banyak hal. Seperti ketenangan batin, serta lebih bersyukur atas segala sesuatunya.  Menjalani bisnis koran ia juga kian bersemangat. Ia kian tenang, karena sang anak, juga sudah mampu mengelola Kedawung Agency untuk terus berkembang.
“Selain ketenangan batin perubahan yang saya rasakan, dari segi ibadah menjadi semakin meningkat, hidayah dari Allah SWT betul-betul berlipat,” akunya. 
Kini hatinya kian mantab untuk menunggu ibadah haji. Ia sudah mendaftar dan masuk waiting list. Irwan yakin, segala sesuatunya akan dipermudah oleh Allah SWT. Mak Ti Sisihkan Seluruh Hasil Jualan Koran
Siti Sulastri sering disapa Mak Ti, adalah salah satu loper (penjual) koran, yang menginspirasi kru pemasaran Malang Post. Ketika ditanya umur, ia selalu lupa. Selalu bilang, antara 65 sampai 70 tahun. Ketika melihat fisiknya, bisa disimpulkan umur Mak Ti yang 70 tahun itu. Namun, usia tak menghalanginya, berikhtiar mencari rejeki.
Nenek ini, biasa menjajakan koran di perempatan lampu merah Kaliurang. Kru pemasaran Malang Post Sirhan Sahri, mengaku terinspirasi dengan kiprah Mak Ti. Ia biasanya jualan mengenakan kerudung abu-abu, dipadu baju muslimah two piece. Untuk melindungi diri dari angin, atasannya ia tambahi dengan jaket.
Tas warna biru ia kalungkan di bagian depan. Jika dilihat, mirip pula dengan tas yang biasa dikenakan oleh jamaah umrah. Ya, umrah memang menjadi cita-citanya. Perjuangan kerasnya di jalanan, juga dalam rangka mewujudkan niat untuk beribadah umrah. 
“Jujur saja, saya terinspirasi melihat kiprah beliau, saya terharu dan bangga, beliau bisa mewujudkan niat umrah,” aku Sirhan.
Sirhan sendiri kemudian menuliskan kisah Mak Ti ini. Nenek itu menyisihkan seluruh hasil jualan koran untuk ibadah umrah. Total jendral, tujuh tahun ia tak menikmati duit hasil jualan koran. Panas matahari dan derasnya air hujan tak ia hiraukan, selalu bersemangat menjajakan koran.
Akhirnya, Allah SWT menjawab ikhtiar Mak Ti. Selasa (9/1), ia benar-benar berangkat umrah. Perempuan sepuh ini dilepas keluarganya dari kediamannya di kawasan Jodipan Wetan Gang I. Suasananya begitu mengharukan. Ia didampingi sang suami, Miseri dan tiga anaknya.
Mereka bercucuran air mata. Sang suami, Miseri, seakan tidak percaya jika istrinya bisa memenuhi panggilan Allah SWT. Penghasilan dari jualan koran sekitar Rp 50 – Rp 60 ribu. Tak pernah mengeluh, uang itu semua dititipkan kepada Rubiani sang owner Suyit Agency. 
“Uang dititipkan ke saya, sementara Mak Ti untuk kebutuhan sehari-hari, ia jualan botok, jualan gorengan  dan mengupas bawang,” ujar Rubiani kepada Malang Post.
Perempuan berjilbab ini, ikut melepas keberangkatan Mak Ti. Air matanya juga tak berhenti mengalir. Saat bercerita kepada Malang Post, sesekali ia mengusap air matanya. Mak Ti, benar-benar istiqomah. Usai salat Subuh mengambil koran di kawasan Pecinan, kemudian pukul 05.00 standby di jalanan hingga pukul 10.00.
“Tekad dan cita cita Mak Ti ini sangat kuat untuk menunaikan ibadah umrah, sehingga berapapun hasil penjualan korannya setiap hari, selalu dititipkan kepada saya,” terangnya.
Mak Ti sendiri, saat dilepas keberangkatannya tampak lowprofile. Ini seperti sifatnya sehari-hari pada saat jualan koran. Rendah hati dan tak pernah mengeluh. Ia tak berhenti mengucap syukur atas keberangkatannya ke tanah suci.
“ Alhamdulillah, niat dan cita-cita saya untuk berangkat umrah akhirnya terkabul, dan  saya ucapkan terima kasih banyak kepada Abah Suyit dan Ibu Rubiani (owner Suyit agency, Red) atas dukungannya ,” papar Siti Sulastri.
Baik Irwan maupun Mak Ti, tiba di tanah suci ketika Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk kali pertama memberlakukan pajak pertambahan nilai (PPN) lima persen. Kebijakan itu berlaku mulai tanggal 1 Januari 2018. Persis berlaku saat wartawan Malang Post Bagus Ary Wicaksono yang juga menunaikan umrah pada 27 Desember 2017 – 4 Januari 2018.
Sepanjang sejarah, memang baru kali pertama ini, Saudi menerapkan PPN. Kabarnya karena Saudi butuh dana segar, sekaligus untuk persiapan jika industri minyak bumi sudah mulai menipis. Imbauan soal PPN 5 persen ini, bahkan dipasang pegawai hotel Dar Al Eiman Royal Hotel Makkah di setiap pintu kamar. Hotel itu, tempat wartawan Malang Post menginap. 
“Ini kebijakan raja, maka tak ada yang akan menentang, kebijakan raja adalah hukum di sini. Dengan pemberlakuan PPN, maka barang dan jasa akan naik,” ungkap Ustadz Fandi Ahmad mukimin di Makkah.
Para TKI dan para mukimin juga bakal terkena PPN ini. Misalnya pajak penghasilan para mutawif atau para tour leader perjalanan umrah. Seperti Ustadz Fandi, dalam setahun ia biasanya membayar pajak, jika dikurs rupiah sekitar Rp 40 juta. Maka tentu nanti pajaknya akan naik lima persen. Pernghasilan para tour leader ini, dalam sehari sekitar 200 riyal atau sekitar Rp 760 ribu (kurs 1 riyal = Rp 3.800, Red).
Diperkirakan, selain juga berimbas pada warga Saudi, PPN itu juga berimbas kepada warga Indonesia. Tentunya warga Indonesia yang menjalankan ibadah umrah, maupun nanti saat mendapat panggilan haji. Bisa saja, biro perjalanan dan pemerintah, menaikkan biaya untuk umrah dan ibadah haji.(mp5/ian/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :