Pio Kharismayongha, Fotografer Khusus Para Artis


Malang Post, Hobi yang ditekuni, bisa menjadi mata pencaharian untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah. Seperti yang dilakukan oleh Pio Kharismayongha. Pria asal Malang tersebut mengawali karier di bidang fotografi. Karya fotonya tersebut berhasil menarik perhatian artis papan atas Indonesia. Sehingga ia kerap diminta menjadi fotografer ketika para artis tersebut manggung.
Pio mempelajari teknik fotografi secara otodidak. Awalnya membagikan hasil karyanya untuk sekedar iseng eksis di sosial media. Namun rupanya, karyanya  menarik perhatian para artis. Sebut saja, Sammy Notaslimboy, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Soleh Solihun hingga Katon Bagaskara.
Pada setiap konser ataupun undangan panggung seorang artis. Pio diminta secara khusus untuk memotret sang bintang ketika sedang manggung. Kepada Malang Post, Pio yang saat ini sedang fokus menekuni karier di ibu kota Indonesia itu, bersedia berbagi sedikit kisahnya. Yang dimulai, sekitar tahun 2010, Pio diajak oleh seorang teman untuk membuat project video klip.
“Saya diajak teman yang punya Production House (PH) untuk memotret produksi video klip (behind the scene). Kemudian, hasilnya saya upload di twitter dan iseng mention artisnya, waktu itu artisnya adalah Baim dan istrinya, Artika Sari Devi. Eh ternyata mereka suka dan akhirnya diajakin motret lagi ketika mereka show,” terang Pio kepada Malang Post.
Sejak saat itulah, suami dari Wilda Anggraini tersebut mulai kenal dan ngobrol dengan beberapa musisi ternama. Beberapa kali Baim (gitaris & penyanyi) mengajak dirinya untuk memotret penampilannya di beberapa acara off air, juga Pongki Barata dan istrinya Sophie Navita.
Tak berhenti sampai disitu, Pio yang masih merasa ingin lebih jauh mengeksplor hobinya tersebut kemudian melanjutkan lagi hobi fotonya tersebut. Sekitar tahun 2013, sudah mulai bermunculan stand up komedi yang sedang gencar melakukan show. Tanpa pikir panjang, Pio langsung membeli tiketnya dan memotret beberapa komika yang tampil.
“Kemudian, saya melakukan hal yang sama, upload foto komika di twitter dan mention mereka. Di antaranya Sammy Notaslimboy, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Soleh Solihun dan masih banyak lagi,” papar pria berusia 40 tahun tersebut.
Gayung pun bersambut, Ernest Prakasa yang saat itu memiliki project tur nasional yang dinamai ‘Merem Melek’ akhirnya mengajak Pio untuk memotret tur tersebut.
“Di tahun 2013 juga, Pandji Pragiwaksono juga mengajak saya melakukan hal yang sama. Bahkan terus sampai sekarang, saya masih motret untuk Pandji. Sementara, saya juga masih motret untuk komika-komika lain yang sedang tampil dalam pertunjukan spesialnya,” terang Pio.
Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Malang tersebut melanjutkan, ketika itu, ia masih memendam mimpi untuk memotret behind the scene produksi film layar lebar. Demi mewujudkan mimpinya, Pio iseng mention seorang sutradara ternama, Fajar Nugros. Dalam cuitannya tersebut, ia menawarkan diri untuk jadi ‘still photographer’ (istilah bagi tukang foto untuk film) pada proyek selanjutnya.
“Saat itu, Fajar Nugros hanya nge-like tweet saya,” ujar dia.
Setelah satu tahun berselang, sekitar tahun 2014, istri Fajar Nugros menghubungi saya untuk terlibat di produksi film layar lebar Cinta Selamanya. “Wah, kaget dan nggak nyangka banget saya diajak untuk terlibat produksi,” ujar dia sambil tekekeh.
Sejak saat itulah, Pio semakin sering bertemu dengan banyak aktor hebat dan hasil fotonya juga semakin banyak dilihat orang dan mendapatkan apresiasi yang positif.
“Semua karya saya berkesan bagi saya. Ibaratnya, semua hasil foto saya itu anak-anak yang saya lahirkan sendiri dan nggak punya anak emas yang lebih disayang dibanding yang lainnya. Saya ikut senang ketika orang lain menyukai hasil karya saya. Namun, terkadang saya sedih kalau nggak dapat kesempatan motret orang yang ingin saya potret, biasanya terbentur waktu,” papar pria yang juga tertarik dengan dunia desain grafis tersebut.
Selama berkarier di bidang fotografi, Pio pernah mengalami kejadian yang membuatnya sedikit nelangsa. Ketika itu, Pio sedang memotret Katon Bagaskara dengan settingan Black White (BW). Kemudian, setelah melakukan editing, Katon langsung jatuh cinta dengan karyanya dan ingin memasang foto tersebut sebagai ornament di kafe milik Katon.
“Nah, karena pakai settingan BW, saya nggak punya versi berwarnanya. Saya betul-betul menyesal. Sejak saat itu, saya nggak pernah foto dengan settingan BW lagi,” sesal dia.
Pria yang mengidolakan Anton Ismael sebagai inspirator menotretnya tersebut menambahkan, masih banyak harapan besar yang ingin ia wujudkan tahun ini, seperti terlibat dalam project besar sebagai still photographer untuk beberapa film layar lebar dan tur dunia untuk stand up comedy. “Memotret berdasarkan insting dan kebiasaan saja. Agar bisa terus eksis di dunia yang saya geluti ini, harus terus belajar dan suka ngobrol dengan banyak orang. Selain itu, poin yang paling penting adalah menghargai orang lain,” pungkas pria yang pernah terlibat dalam project film Partikelir, karya Pandji Pragiwaksono tersebut.(tea/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...