Mbah Karjo Sarankan Anton Tak Usung Isu Kerohanian


Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Malang membawa atmosfer tersendiri bagi warga Kota Malang. Mulai dari warga biasa, politikus sampai pejabatnya ikut merasakan atmosfer Pilkada. Di dunia kesenian, Samsul Subakri alias Mbah Karjo memberikan konstribusi seninya untuk pilkada. Seniman Wayang Suket ini membuat replika wayang suket (rumput, Red) seluruh calon wali kota.
Ada tiga replika wayang dari suket yang melambangkan tiga calon Wali Kota Malang yakni H Moch Anton, Dr Ya’Qud Ananda Gudban dan Drs Sutiaji. Tiga wayang ini, kemudian diberikan langsung pada tiga koordinator tim sukses masing-masing paslon.
Replika Wayang Suket Anton diberikan pada Ketua Tim Sukses tim ASIK yakni Arief Wahyudi. Untuk Ya’qud Ananda Gudban diberikan pada jubir tim MeNaWan, Dito Arief. Dan terakhir wayang suket replika Sutiaji diberikan pada anggota tim sukses SAE yakni M. Noorwahyudi.
Ketiga koordinator timses tiga palson Pilkada Kota Malang ini dipertemukan langsung dengan Mbah Karjo dalam diskusi Komunitas Malang Peduli Demokrasi, kemarin di Rumah Makan Kertanegara.
Mbah Karjo yang terkenal dengan keunikan bakatnya membuat lakon-lakon wayang dari suket ini. Ia memberikan semacam petuah bagi calon pemimpin baru Kota Malang. Masing-masing replika wayang Calon Wali Kota Malang memiliki makna dan filosofi yang tersembunyi.
“Kalau mbak Ananda saya buatkan dia bak seorang putri, kalau Abah Anton saya buat lakon seperti resi, dan Sutiaji saya gambarkan sebagai lakon seorang satria,” jelas Mbah Karjo kepada Malang Post di Rumah Makan Kertanegara.
Filosofi yang juga dimaksudkan sebagai petuah tersendiri digambarkannya dalam bentuk simbol atribut dalam wayang tersebut.
Untuk wayang suket Calon Wali Kota Malang Ya’Qud Ananda Gudban, Mbah Karjo menjelaskan bahwa ia menggambarkan wayang Nanda sebagai figur putri bekerudung. Hal ini terlihat dari wayang Nanda yang memang terlihat terdapat helaian suket yang menyelimuti bagian kepala.
“Di boneka wayang milik Ananda saya gambarkan dia membawa dua tali di sisi kanan-kiri badannya. Ini melambangkan dua hal yang tidak boleh ia tinggalkan,” ungkap Mbah Karjo.
Saat ditanya soal apa yang dimaksud dengan sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan, Mbah Karjo mempersilahkan untuk bebas memberi interpretasi.

Berita Terkait

Berita Lainnya :