Mengenal Lebih Dekat Pegiat Tari, Ika Pratiwi


Malang Post, Tari dan prestasi melekat erat dengan Ika Pratiwi. Dia menjadi sosok di belakang ragam prestasi penari-penari muda yang tersebar di berbagai sekolah di Malang. Perempuan inilah yang melatih mereka hingga membuahkan prestasi membanggakan.
Ika sudah tidak asing lagi dengan pagelaran seni. Namun saat SD, ia lebih banyak dipercaya menjadi sinden dibandingkan penari. Bahkan Ika pernah ditolak dan tak lulus audisi tari di sekolahnya. “Jadi, dulu ada seleksi menari untuk sebuah pagelaran. Saya tidak terpilih, yang lolos teman-teman saya yang lain. Saking pengin lihat, saya sampai rela bawakan tas teman-teman yang terpilih di pagelaran tari tersebut,” terang Ika kepada Malang Post.
Sering melihat teman-temannya berlenggak-lenggok di atas panggung, Ika makin termotivasi untuk menggeluti dunia seni tari. “Jadi penasaran juga karena ngeliatin temen-temen. Ketika masuk SMP, saya akhirnya bergabung dengan Sanggar tari ABP Dance dan terus berlanjut hingga SMA,” jelas dia.
Saat kuliah, Ika  pun memilih studi di Universitas Negeri Malang jurusan seni musik dan tari. Ketika mengerjakan skripsi dan demi meraih gelar sarjana, Ika menyajikan pertunjukan Aerial Dance, yaitu tari kontemporer yang mengharuskan dirinya diikat dengan tali (seperti akrobat pada pertunjukan sirkus) sambil menari.
Saat itu, Ika dibantu 50 crew dan membayar segala kebutuhan skripsi tersebut dengan keringatnya sendiri. “Safety untuk kebutuhan Aerial Dance saat itu belum ada di Malang, adanya di Bali. Pada tahun 2015, saya yang pertama kali menyajikan aerial dance kontemporer untuk skripsi. Ketika ditotal, biaya untuk skripsi sebesar Rp 23 juta, saya biayai sendiri. Waktu itu juga masih aktif jadi penyanyi juga di Malang,” kenang Ika.
Kerja keras Ika membuahkan hasil. Ia lulus menjadi sarjana dengan banyak prestasi. Seperti Top Ten Best Performer di Festival Karya Tari Jawa Timur, First Winner as Choreographer in FLS2N tingkat SMA di Kota Malang dan First Winner as Choreographer di Pekan Seni Pelajar tingkat SMA di Kota Malang. Di 2016, ia berhasil menyaber kembali First Winner as Choreographer di Pekan Seni Pelajar tingkat SMA di Kota Malang. Kepiawaian dan prestasidi dunia tari membuat Ika dipercaya untuk mengajar tari di beberapa sekolah di Kota Malang. Tak hanya itu, hampir di setiap perlombaan tari, ia sering didapuk sebagai juri.
Setidaknya Ika dipercata SMP Corjesu Malang, SMAN 8 Malang, SMA Widyagama Malang, SMA Corjesu Malang hingga UKM Kedokteran Unisma Malang untuk menjadi guru etrakurikuler tari, baik tradisional maupun modern serta guru seni budaya.  Selama mengajar dan menjadi koreografer, Ika mendapat inspirasi gerakan tari berasal dari beberapa pagelaran seni dan juga video.
“Saya suka melihat video di youtube. Kemudian, saya rajin nonton pertunjukan tari yang diselenggarakan di beberapa kota, di antaranya Jakarta, Jogja dan Bandung. Gerakan-gerakan tersebut saya kombinasikan dan create dengan gaya saya sendiri,” papar perempuan yang juga aktif dalam beberapa sanggar tari, seperti All Star Management, Asri Kusuma Dance School dan Pendopo Kabupaten Blitar Dance School tersebut.
Ika yang mengidolakan luluk Ari Prasetya, Eko PC dan Didi Nini Thowok tersebut juga memaparkan, Malang merupakan kota yang asyik untuk mendalami seni. Menurutnya, Malang merupakan kota yang masih kental dengan tradisi dan budaya. “Seperti ikon topeng malangan, yang buat ya asli orang Malang, itu dilestarikan secara turun-temurun. Saya ingin Kota Malang bisa menunjukkan taringnya melalui seni, baik di kancah nasional maupun internasional, karena potensinya cukup bagus,” papar Ika.
Ika menambahkan, bagi para seniman yang ingin sukses, harus berani mencoba dan mau terus belajar. “Orang bisa karena terbiasa. Jadi harus terus berusaha. Selain itu, harus banyak ngobrol dan sharing dengan sesama pelaku seni lain. Nah, kalau udah bisa menguasai, jangan sombong,” pungkas perempuan yang dalam waktu dekat ini akan terbang ke Amerika untuk mewakili Indonesia dalam kegiatan tari tersebut.(amanda egatya/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :