Tanpa Tandem, Terbang Pertama Langsung Ketagihan

 
Tiga orang berdiri dengan wajah sumringah di aula Pujon View, di tengah rapat Kerja KONI beberapa waktu lalu. Wajahnya mencerminkan kebanggaan, mereka mendapat penghargaan istimewa dari KONI Kota Batu. Ketiganya adalah tokoh perintis olahraga paralayang,  Didit Priyo Utomo, Pamor Patriawan dan Mahfud. Ya dari tiga sekawan ini inilah paralayang jadi booming di Kota Batu hingga sekarang. 
Kepada Malang Post, Didit menceritakan kisahnya merintis olahraga paralayang tersebut. Dimulai tahun 2001, ketika ia menjadi guru SMAN 1 Batu. Saat itu aktivitas paralayang di Gunung Banyak, banyak dilakukan oleh warga Kota Batu. Hampir setiap sore saat langit cerah, Didit datang ke Gunung Banyak, hanya untuk melihat aksi  penghobi olahraga ekstrem itu latihan. Sampai kemudian ia, memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu orang yang berlatih.
”Tadinya tanya-tanya saja, penasaran mencoba, karena sepertinya memang asyik,’’ aku Didit saat ditemui usai menerima penghargaan dari KONI saat itu.
Didit pun makin penasaran saat orang yang menemani berbincang, menceritakan keseruannya di udara. Sehingga, dia pun kemudian bertekad untuk belajar. Kepada Rizka, salah satu pelatih paralayang dari Kota Malang, Didit menyampaikan hasratnya untuk berlatih.
Tapi demikian, Didik sempat berpikir, karena saat itu harga untuk latihan sangatlah mahal, yaitu Rp 1,5 juta  untuk 10 kali terbang. Tapi demikian, sang pelatih tak mau hanya melatih satu orang saja, tapi minimal tiga orang. 
Mendengar syarat itu, Didit sempat putus asa, dan mengubur keinginannya berlatih. Hingga kemudian, dia berbincang dengan Pamor yang saat itu juga guru di SMAN 1 Batu. Kepada Pamor, Didit menceritakan keinginanya mencoba paralayang. Tak disangka, Pamor menyambutnya dengan semangat. Bahkan, saat itu Pamor  juga tak sabar untuk ikut latihan.
”Pak Pamor setuju ikut, tapi kan masih kurang, karena minimal tiga orang. Sementara kami baru dua orang,’’ tambahnya.
Waktu pun berlalu. Didit yang bekerja sebagai guru kemudian dipertemukan dengan Mahfud, kawan lamanya, dalam sebuah kegiatan Dinas Pendidikan. Seiring dengan obrolan yang dilakukan, Didit juga menceritakan jika dia ingin menggeluti olahraga paralayang. Mendengar keinginan Didit, Mahfud yang kala itu mengajar sebagai guru SMA Dharma Wanita, sempat terheran. Ya, dia kaget karena Didit yang tak lagi muda memiliki keinginan menggeluti olahraga ekstrim.
Tapi demikian, Mahfud tidaklah melarang. Sebaliknya dia mendukung. Bahkan, dia juga berkeinginan ikut latihan. Pria yang saat ini menjabat sebagai sekretaris KONI Kota Batu ini tak keberatan meski harus mengeluarkan uang Rp 1,5 juta, untuk 10 kali terbang.
Setelah ketiganya berkumpul, mereka pun mendatangi Rizka. Uang latihan pun diserahkan. ”Kami pun diberi teori lebih dulu, tentang tatacara paralayang,’’ ungkapnya.
Dua kali pertemuan, Rizka kemudian mengajak mereka ke Gunung Banyak untuk praktik. Saat itu baik Didit, Pamor maupun Mahfud mengira terbang pertama dilakukan tandem. Tapi perkiraannya meleset, karena Rizka langsung meminta mereka terbang sendiri.
”Ya gimana, kan gak pernah, ada rasa takut,’’ katanya. 
Tapi saat itu Rizka terus meyakinkan, bahwa olahraga tersebut sangat aman. Sehingga mereka pun akhirnya terbang. Seperti orang belajar pada umumnya. Ketiga orang ini menemukan kesulitan di pertama latihan. Mulai dari berlari kencang, tapi parasut tak mau mengembang. Bahkan, Pamor harus beberapa kali jatuh, akibat  tak kuat menahan beban parasut dengan berlari. 
Tapi itulah nikmatnya. Kata Pamor, yang mengaku bahwa tak ada sesuatu yang diperoleh dengan mudah. Termasuk paralayang. Pamor pun mengaku sempat takut saat berada di atas udara. Dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter, dia melihat dunia cukup kecil. Ia khawatir, jika tiba-tiba jatuh, atau terbawa angin tapi tak kembali. Tapi rasa takutnya itu seiring waktu hilang. Justru yang ia rasakan adalah kagum dengan keindahan alam.
”Pertama terbang sudah jelas, ketagihan,’’ kata Pamor. 
Sehingga begitu hari ditentukan, ketiganya semangat untuk berlatih.Bahkan karena semangatnya, ketiganya juga  membuat klub paralayang bernama BASC (Batu Aero Sport Club). Dan disela kesibukannya mengajar, baik Didit, Pamor maupun Mahfud juga mempromosikan paralayang. Saat itu mereka ingin, anak-anak Kota Batu bisa berlatih paralayang. Harapannya jelas, dari Kota Batu muncul atlet-atlet profesional. 
Ya, sekalipun waktu latihannya sudah habis, Didit dan dua rekannya tetap gencar promosi. Ya, menurut Didit, sangat disayangkan jika tidak ada warga Kota Batu yang berlatih. Padahal potensi untuk menjadi atlet profesional sangatlah tinggi.
”Butuh bertahun-tahun saya mempromosikan olahraga ini. Hingga kemudian, muncul nama-nama dari Kota Batu ikuit kejuaraan paralayang,’’ tuturnya.
Didit, Pamor dan Mahfud pun bangga. Terlebih dari kejuaraan yang diikuti, salah satunya dinobatkan sebagai juara. Didit pun mengatakan, usahanya tak sia-sia. Upaya merintis olahraga ini sukses. Apalagi sekarang, hampir setiap tahun, atlet Kota Batu memenangkan lomba. Termasuk dengan dinobatkannya salah satu atlet paralayang sebagai juara dunia. Dia berharap, kedepannya banyak lagi atlet yang berlatih dan ikut lomba, serta mengharumkan nama Kota Wisata Batu.
”Sekarang gak pernah latihan lagi. Tapi terus terang kami sangat bangga, karena kami yang merintis olahraga paralayang, direspons warga dengan baik. Salah satu buktinya adalah terus menerus atlet Kota Batu juara nasional hingga juara dunia,’’ ungkapnya. 
Dia juga mengimbau kepada para pemuda lainnya, agar tidak ragu. Jika memiliki keinginan paralayang, tapi perlu khawatir. Karena meskipun ekstrem, olahraga paralayang sangat aman.(ira ravika/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :