Kenalkan Rinding, Alat Musik Agraris yang Hilang Ditelan Zaman


Pernahkah mendengar nama rinding? Ini alat musik ritmis berbahan baku bambu. Istilah asingnya jew’s harp, alias harpa rahang. Berbentuk bilah bambu panjang 25 cm, lebar sekitar 8 cm dengan tebal 2 mm. Bilah itu diiris tengahnya membentuk jarum sepanjang 20 cm. Jarum itu yang nanti menimbulkan bunyi jika ditaruh di mulut. Bunyinya, tweng..tweng..tweng...

Tepian rinding diberi tali. Ketika ditempel ke mulut, tali sisi kiri sebagai pegangan. Sedangkan tali sisi kanan ditarik secara konstan berirama, sembari mengeluarkan nafas dari tenggorokan. Maka ketika tali kanan ditarik,dan angin dari tenggorokan keluar, maka jarum bergetar. Gelombang suara dari getaran jarum memantul ke dalam rongga mulut. Memunculkan bunyi ritmis seperti ada echonya. Sensasi bunyinya seperti berpegas, memantul-mantul.
Rinding adalah salah satu alat musik dari peradaban agraris. Memang terdengar asing, namun bagi generasi zaman now. Saat ini alat musik tersebut sudah jarang dan tidak lagi ditemukan. Nyaris tenggelam ditelan perkembangan zaman. Kini hidup lagi di Malang, setelah dikenalkan pasangan seniman asal Malang, Sandyarto ( 45) dan Juli Syehan (47).
Mereka berdua n getol sekali memperkenalkan, memainkan dan mensosialisasikan alat musik tradisional bernama rinding tersebut. Meski latar belakangnya arsitektur lulusan Institut Pembangunan Surabaya, Bejo sapaan akrab Sandyarto tak kenal lelah memperkenalkan rinding. Ia mempelajari sejarahnya, manfaat, pembuatan hingga mengenalkannya ke generasi muda. Terutama anak-anak SD di sejumlah tempat di Malang Raya.
“Tujuan kami ingin mengenalkan alat musik tradisional yang hampir punah ini, karena tersimpan sejarah di dalamnya. Sehingga anak-anak tidak saja memainkannya, tetapi juga banyak belajar tentang sejarah ala musik tradisional asli Jawa Timur bernama rinding ini,” terang laki-laki kelahiran Malang, 12 Mei 1972 ini.
Menurut Bejo, alat musik tradisonal ini merupakan peninggalan bersejarah dan memiliki usia yang sangat tua hingga ribuan tahun. Masyarakat yang memiliki kebudayaan agraris, memakai rinding untuk mengusir hama saat panen mulai tiba. Alat kesenian tradisional ini juga sebagai pengiring upacara-upacara ritual, pengungkapan pandangan hidup hingga konteks saat ini yang dikembangkan dengan berbagai kegiatan seni dan hiburan.
Pembuatan alat musik yang mengeluarkan berbagai bunyi dengan cara ditiup itu juga sangat mudah. Namun yang terpenting saat membuat ada beberapa prinsip yaitu, sabar, sadar dan yakin. Yang diartikan oleh Bejo, sabar saat membuat, sadar dengan akan sejarah alat musik dan yakin ketika memainkannya.
“Karena jika tidak menggunakan tiga prinsip itu irama yang dikeluarkan keluar akan datar,” ungkap ayah yang memiliki satu anak ini.
Alat musik, rinding dikatakannya juga memiliki cara pembuatan yang paten. Namun karena latar belakang arsiteknya ia pun melakukan eksplorasi agar keluar nada yang bervariasi. Sementara itu, dalam mengenalkan alat musik rinding, ia mengenalkan awalnya saat ia bersama teater  Celoteh yang dikelolanya bermain teater dengan backsound musik rinding. Dari situlah mulai banyak penonton yang bertanya-tanya dan kemudian tertarik.
“Selain melalui tater, kami juga sosialisaikan ke berbagai tempat. Utamanya di tempat-tempat seperti workshop, even-even budaya sederhana hingga internasional di Bali,” tegasnya.
Kini berkat dari keuletannya itu, telah banyak orang-orang di sekitarnya yang ingin lebih mengenal rinding. Baik dari pembuatan, sejarah hingga cara memainkannya. Karena alat musik yang mengeluarkan bunyi hanya dengan ditiup itu juga bisa digunakan untuk mengiringi teater, musik dan puisi. “Bahkan,  ada turis asing asal Belanda yang improvisasi rinding dengan musik rap,” imbuhnya.
Untuk lingkungan sekitarnya, alat musik sederhana berbahan dasar bambu itu, juga pernah dimainkan anak-anak SDN Karangbesuki 4 Malang dalam sebuah festival. Tak berhenti di satu sekolah saja, bahkan Bejo juga mengajar kelas inspirasi beberapa sekolah. Salah satunya di SD Pandansari 4, Ngantang.
Lantas bagaimana dengan sejarah rinding. Sejarawan asal Malang, M. Dwi Cahyono memberikan keterangan. Dosen sejarah Universitas Negeri Malang (UM) ini menerangkan, bahwa alat musik itu memang sudah ada sejak masa Hindu-Buddha. Begitu juga dengan persebaran yang sangat luas di penjuru nusantara. Walaupun degan sebutan, bentuk, bahan dan produksi bunyi musik yang bervariasi.
Berdasarkan sumber data teks dalam kitab Sumana Santaka, kitab dari masa Kadiri abad 12, hal 121. Ia menjumpai kata “agenggongan”. Di mana kata tersebut dijumpai bersama dengan “angigel-igel” yang artinya menari.
“Kalau kita lihat konteks penyebutannya dari seni tari. Maka kata agenggongan menunjuk pada permainan musik genggong (alat musik genggong dari Bali yang cara penggunaannya sama (rinding,Red). Karena memang di Jawa semula namanya genggong,” paparnya.
Ia mengungkapkan, jika kata rinding yang menjadi sebutan di Jawa Timur serta Karinding dari Jawa Barat kemungkinan mengikuti daerahnya. Sehingga nama rinding baru populer dan dikenal baru-baru ini. Ia menegaskan jika alat musik rinding sama dengan alat musik genggong dengan cara penggunaan dengan ditiup, hanya tempatnya dan penyebutannya yang membedakan.
Sementara itu, kata rinding, baru ditemukan pada Kitab Ramayana dan Subadra Wiwaha yang ada sejak abad delapan. Namun pada kitab tersebut kata rinding tidak memiliki arti atau konteks kesenian. “Pada kitab ini, rinding artinya menempatkan duduk berdampingan dan tidak menunjukkan alat musik,” ucap tim ahli Ekspedisi Samala itu.
Selain alat musik yang tradisional yang telah ada sejak jaman Hindu-Buddha, ia juga membenarkan jika alam musik rinding digunakan untuk mengusir hama bagi masyarakat yang yang berlatar belakang pertanian atau agraris, terutama tikus. Itu karena dari getaran yang dihasilkan dengan bunyi “tar-tar-tar-tar”. Karena tikus sangat peka dengan bebunyian, sehingga bunyi itu tidak nyaman di telinga tikus.
Tidak hanya itu, Dwi Cahyono juga memuji pergerakan salah satu pelaku seni di Kota Malang ini. Ia mengatakan jika apa yang dilakukan Bejo merevitalisasi alat musik waditra (alat musik tradisional,red) yang berkembang lintas masa sejak Hindu Buddha sampai saat ini. Di mana alat musik tersebut menghadapi kelangkanaa akhir-akhir ini. Pelestarian alat musik tradisional genggong atau rinding itu juga diapresiasinya, pasalnya yang melakukan adalah teman-teman muda.
Saat ini rinding dimainkan oleh musisi muda di lingkungan perkotaan. Apalagi para pelaku seni tersebut juga membuat, melatih dan mengenalkan sampai ke anak-anak. Hal tersebut, dikatakan Dwi Cahyono merupakan sesuatu yang sangat unik. Tak hanya itu, permainan yang relatif mudah dimainkan, juga membuat cepat memasyarakat. Walaupun sederhana.(Kerisdianto/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :