magista scarpe da calcio Pelajari Karakteristik Plastik, Sulap Sampah Kresek Jadi Lukisan


Pelajari Karakteristik Plastik, Sulap Sampah Kresek Jadi Lukisan


Bahan baku lukisan karya Masari Arifin, seniman asal Bareng Kota Malang ini, tak biasa. Ia mengubah sampah plastik menjadi karya lukisan yang bernilai seni tinggi. Tak berbeda dengan karya lukis konvensional. Kresek dibakar, ia lelehkan jadi pengganti tinta di kanvas. Bahannya juga tidak sulit ditemukan, di sekitar rumah juga ada!
Malang Post menjumpai karya tak biasa ini, di Dewan Kesenian Malang (DKM). Saat itu, Masari sedang menjelaskan kepada pengunjung pameran tunggalnya. Masari begitu bersemangat meyakinkan pengunjung bahwa lukisan yang ia buat memang berasal murni dari plastik.
Jika dilihat dari jauh, karya lukisan Masari memang nampak seperti lukisan abstrak biasa yang terbuat dari cat akrilik maupun minyak. Akan tetapi jika dilihat lebih detail, mata akan tertuju pada detail yang tidak biasa yang memang berasal dari bahan plastik.
Benar saja, saat dilihat lebih dekat detail goresan demi goresan sampai lekukan garis warna khas dan tidak biasa. Seperti melihat lelehan lilin, akan tetapi kali ini lelehan plastik. Sesekali bisa terlihat bahan plastik mencuat dari detail lukisan Masari.
Dengan ramah pria berambut gondrong berkumis tebal ini menyapa Malang Post. Ia kemudian memperkenalkan 20 lukisan karyanya yang semuanya terbuat dari limbah plastik. Tidak sulit membuatnya.
“Gak sulit. Karena sampah, apalagi plastik ada di mana-mana. Ini saja semua saya kumpulkan dari rumah dan lingkungan sekitar saya,” tuturnya.
Masari selalu resah dengan masalah lingkungan yang kini kian serius. Khususnya di Kota Malang. Ia mengaku gelisah melihat banyaknya sampah-sampah bertebaran, dimana ia pun mengetahui bahwa sampah paling berbahaya adalah yang berbahan plastik.
Sedangkan sampah plastiklah yang ia rasa paling sering ditemukannya terkulai di jalan, tertanama di tanah maupun berterbangan di mana-mana.
“Tidak hanya dengan cara melarang buang sampah, memberikan sanksi toh nyatanya masih seperti ini. Maka tercetus ide ini,” tandas pria berusia 50 tahun ini.
Ia yang saat itu iseng-iseng memainkan kresek plastik yang ia punya dengan lilin kemudian berpikir. Saat dirinya melelehkan plastik tersebut ke lilin api, lelehan plastik tersebutlah yang membuatnya berpikir. Bahwa lelehan berbentuk cairan dari plastik tidak sama bedanya dengan cairan cat minyak atau akrilik yang sering ia pakai untuk melukis.
Akan tetapi, ia tidak langsung berhasil membuat karya. Lukisan yang saat ini ia pamerkan tersebut menempuh waktu yang panjang. Masari mengaku mesti melakukan riset terlebih dahulu. Ia mengaku menggelar riset tersebut selama kurang lebih satu tahun lamanya.
Masari melakukan riset sekaligus belajar tentang unsur dan sifat plastik itu sendiri. Tentunya dengan uji coba yang sangat rumit karena secara teknis ia menggunakan teknik bakar.
“Kurang lebih satu tahun lah riset. Ke tempat pengolahan sampah, lalu lihat-lihat di video. Belajar sendiri mengenal unsur dan sifat plastik sama kakak saya. Karena dia belajar teknik kimia juga. ternyata hanya plastik berbahan termoplastis saja yang bisa. Yang kayak tas kresek plastik,” tandas pria yang belum lama ini ikut pameran lukisan di Bali.
Melalui riset tersebut, lama-kelaman Masari menemukan unsur, sifat dan teknik yang cocok untuk menuangkan keinginannya. Membuat lukisan dari kresek ke dalam kanvas, bahkan bisa dijadikan lukisan tiga dimensi dan patung.
“Dalam kurun waktu satu tahun tiga bulan, saya sudah melahirkan 20 karya lukisan berbahan limbah kantong kresek, “ lanjutnya.
Cara pembuatannya yakni plastik-plastik tersebut ditempel terlebih dulu di atas kanvas lalu dibakar. Setelah di bakar, tentunya ia langsung membentuk lelehan tersebut semaunya. Tetapi tetap menggunakan dasar yang sama dengan melukis biasa yakni memperhatikan komposisi warna dan bentuk.
“Ya butuh ketelitian dan keselarasan warna leburan saat menggunakan teknik burning. Dibentuk dengan hati yang tulus bagi seni, maka jadilah karya-karya ini. Rohnya adalah menghasilkan karya yang tidak biasa alias ‘unconventional’,” tuturnya.
Masari mengaku untuk menghasilkan 20 karya lukis dari plastiknya ini membutuhkan sekitar 500 kresek. Hal ini merupakan kali pertamanya yang ia lakukan, melukis dengan menggunakan kresek plastik. Dan pastinya akan dilakukan terus.
Ia mengungkapkan pula bahwa dirinya tidak mengorientasikan lukisannya untuk mencari keuntungan. Jika memang ada yang menawarkan, ia terbuka.
“Sebenarnya saya hanya ingin mengajak masyarakat peduli lingkungan terutama limbah plastik agar bisa terkurangi dan termanfaatkan dengan baik. Minimal bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti kriya atau karya apa saja lah,” pungkas Masari. (Sisca Angelina/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top