Aditya Mahatva Yodha, Penulis Skenario Asal Malang


MALANG POST - Aditya Mahatva Yodha, merupakan salah satu pemuda kreatif. Di usia 28 tahun, ia sudah menerbitkan empat buku, dan menjadi salah satu penulis skenario film televisi (FTV) tentang kisah religi yang akan tayang di MNCTV, Ramadan nanti.
“Film tentang kisah religi ini, merupakan program baru MNCTV. Judulnya ‘Ini Kisahku’ yang akan tayang pada Ramadan. Filmnya tidak bersambung, tetapi berseri setiap hari dengan berganti tema,” ungkap Aditya Mahatva Yodha.
Sudah ada dua tulisan skenario FTV yang telah dibuatnya. Salah satunya adalah kisah tentang seorang pencopet. “Di mana ada pemuda yang kerjaannya mencopet, pada akhirnya sadar dan bertobat,” ujar Adit, sapaan akrabnya, tanpa ekspresi.
Adit, merupakan warga asli Kabupaten Malang. Pria kelahiran Balikpapan 14 Januari 1990 ini, tinggal di Desa Talok, Kecamatan Turen. Nada bicaranya yang datar dan wajah yang ekspresi, tidak memperlihatkan bahwa dia seorang penulis novel dan skenario film.
Namun di balik kesederhanaannya, alumnus Universitas Brawijaya ini sangat kaya dengan kreativitas. Bahkan ia pernah dimintai menulis skenario film Sinema Wajah Indonesia, oleh Production House milik aktor sekaligus sutradara kawakan Deddy Mizwar.
Kesuksesan alumnus SMA Widya Dharma Turen menjadi penulis skenario film, diawali dari hobinya yang suka menulis sejak masih SMA. Kemudian pada 2012, Adit mulai aktif menulis cerpen tentang kisahnya, yang kemudian diunggap pada blog pribadinya.
Pada 2013, Adit mencoba mengikuti lomba menulis di Facebook (FB), yang diselenggarakan oleh penerbit buku AE Publising. Tulisan yang dilombakan tentang kisah cinta. Ia mengirim tulisan tentang cinta lingkungan alam. Panjang tulisannya hanya tujuh paragraf dan menjadi dua halaman.
Namun tulisannya terpilih. Bersama dengan karya 56 penulis lain yang terpilih, dijadikan satu menjadi sebuah buku antologi berjudul Love?. “Buku Love? ini, pada 2013 lalu dijual di seluruh toko buku di Indonesia,” katanya.
Dari tulisan pertamanya yang sudah menjadi buku, Adit terus mengembangkan bakatnya. Pada 2014, Adit menulis buku dengan judul ‘Pacarku Sayang, Hamsterku Malang’ yang diterbitkan oleh Arif Gemilang Presindo Jogja. Termasuk kumpulan buku puisi berjudul Permintaan Hati.
Lalu buku keempat berjudul ‘Surat Cinta Ibu’ yang diterbitkan AE Publising di Kepanjen, pada 2015. “Untuk tiga buku terakhir penjualannya melalui online. Namun juga ada di book store, tapi hanya di beberapa toko buku saja,” ucapnya.
Dari empat buku yang sudah ditulisnya itu, Adit mulai merambah ke dunia filmografi. Ia diajak oleh Budi Sumarno, produser Tujuh Aksara Films dan Sangkur Pena, untuk bergabung menjadi penulis film dokumenter dan penulis skenario FTV, pada 2016 lalu.
Sejak bergabung itu, ada beberapa judul film dokumenter yang telah digarapnya. Antara lain Mastrip Documentary Film dan FTV  Insya Allah Halal. Mastrip Documentary Film ini, sebuah film yang menceritakan kisah tentang tentara pelajar yang berjuang pada masa penjajahan.
Penggarapan film tersebut, diakui yang paling berkesan. Pasalnya bersama dengan tim Tujuh Aksara Films dan Sangkur Pena, dia bertemu langsung dengan pelaku sejarah yakni Mbah Soepardiatma, salah satu tentara pelajar Mastrip, yang tinggal di Kota Malang. Film ini sudah tuntas dan tayang pada 2016 lalu.
Sedangkan tulisan skenario FTV tentang religi berjudul Insya Allah Halal, telah diproduksi oleh Starvision Plus dan sudah tayang pada penghujung 2017 lalu. “Judul film ini, terinspirasi dari perstiwa yang saya alami dan lihat. FTV Insya Allah Halal ini bercerita tentang judi yang dulu sering ada di kampung saya,” urai anak pasangan Ahmad Jeffry Suprijadi dan (alm) Irawati.
Dari beberapa karya tulisan skenario film yang sudah tayang itulah, membuat produksi film Demi Gisela Citra Sinema milik Deddy Mizwar tertarik. Pada 2017, Adit dihubungi oleh PH itu untuk membuat sinopsis tentang peduli lingkungan hutan mangrove. Adit pun tertarik dan langsung menerimanya.
“Naskahnya sudah selesai dan telah saya kirim kepada tim produksi film. Tetapi informasinya masih tertahan dan belum tayang, karena alasan sedang musim politik Pilkada,” jelasnya.
Selain penulis novel dan skenario FTV, Adit sebetulnya juga terjun pada dunia jurnalistik sejak 2014 lalu. Ia gabung dengan salah satu portal online di Jatim, namun sejak Februari 2018 lalu memilih keluar untuk menekuni dan mengembangkan tulisannya.
Apalagi sejak Februari juga, ia dipercaya menjadi salah satu penulis skenario FTV religi, yang dipersiapkan untuk tayang bulan Ramadan di MNCTV.
Pria yang masih membujang ini, sekarang juga sedang mengebut novel terbarunya, berjudul Caper yang merupakan singkatan dari catatan pewarta rempong. Novel ini ditarget akan terbit pada pertengahan tahun ini dengan minimal 200 halaman.
Novel tersebut, berkisah perjalanan dan pengalamannya selama menjadi jurnalis. Bagi Aditya, jurnalis, cerpenis, novelis, maupun penulis skenario film adalah pekerjaan yang konsen di bidang tulis-menulis, tapi memiliki tantangan yang berbeda. Ia mengaku akan terus berkarya. Semakin banyak karya yang dia lahirkan, semakin banyak juga pelajaran yang dia dapatkan.(agung priyo/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :