Agoes Soerjanto Mengenang Budi Ayuga Almarhum


DUKA  mendalam dirasakan  berbagai  pihak, atas wafatnya  seniman Rahmat Budiri atau lebih dikenal dengan Budi Ayuga, Senin  (12/8) pukul 15.00 di RSSA Malang. Salah satunya adalah Ketua PD XIII GM FKPPI Jatim,  Ir. R.Agoes Soerjanto yang merupakan sahabat almarhum.
Kepada Malang  Post, ia menuturkan, persahabatan dengan pemilik sanggar Budi Ayuga Dancer  tersebut bahkan sudah diawali sejak mereka masih remaja. Pada dekade tahun 1980-an. Saat itu, mereka sering aktif menggelar berbagai kegiatan tidak saja dalam bidang kesenian tetapi juga otomotif dan sebagainya, baik di Malang maupun diluar daerah.
‘’Saat itu,almarhum memiliki wadah yaitu Kitaro  dan kemudian menjadi Sanggar Budi Ayuga Dancer yang selama puluhan tahun terus berkarya dan mengharumkan nama Bumi Arema. Kami benar-benar sangat dekat dan pernah terlibat bekerjasama dalam berbagai puluhan kegiatan,’’ kenangnya.
Agoes Soerjanto   merasa  bangga dengan dedikasi dan totalitas  pria asal Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Pria berusia 53 tahun  ini  tak pernah lelah berkreasi dan memajukan seni tari di Malang Raya. Kiprahnya tidak saja berskala regional, tapi  tetapi juga nasional.  Hal ini ditandai dengan  begitu banyaknya pagelaran seni berkualitas yang merupakan buah karya  seniman pecipta tari modern ini.
Dedikasi tinggi almarhum yang mengalami  terbakar ketika menampilkan pertunjukan sulap dalam Festival Celaket, dua pekan lalu, ditunjukkan dengan  tetap memilih kembali ke Malang dan kembali berkarya untuk tanah kelahirannya.Walau  saat itu, almarhum  sebenarnya mendapat berbagai tawaran menggiurkan  di Jakarta.
‘’Almarhum memang selalu total dalam berkarya dan ingin terus mempersembahkan karya karya terbaik untuk  Bumi Arema.  Dengan ketelatenannya, beliau juga telah  melahirkan begitu banyak seniman  tari yang berprestasi dari Sanggar Budi Ayuga Dancer,’’  ungkap Ketua Kelompok Muda Javanoea ini.
Karena itu, dia  juga  sangat mendukung rencana pagelaran seni menandai 35 tahun Budi Ayuga berkarya yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Kesenian Gajayana, 24-26 Agustus mendatang. ‘’Almarhum meminta saya  turut memberikan catatan pengantar untuk buku biografinya berjudul ‘’Dari Titik Nol’’ yang rencananya  akan diluncurkan bertepatan 35 tahun   beliau berkarya,’’ kenangnya.
Manusia hanya dapat berencana Tuhan  lah yang menentukan.  Agoes Soerjanto seolah disambar petir  ketika dua pekan silam mendapat kabar bahwa sahabatnya tersebut dirawat di RS Lavalette, setelah mengalami kecelakaan terbakar saat tampil dalam Festival Celaket. Dia  langsung menjenguk, memberikan semangat kepada istri, anak-anak dan keluarga Budi Ayuga.  Dan, dia sejak itu tidak pernah lepas memantau kondisi almarhum termasuk ketika dipindah dirawat di RSSA.‘’Saya agak lega ketika tahu  beliau tinggal menjalani pemulihan luka-luka bakar di RSSA.  Dan saya tidak percaya ketika mendapat kabar bahwa sahabat saya itu telah dipanggil kehadirat Tuhan,’’ urainya.
Setelah dimandikan, jenazah Budi Ayuga almarhum dibawa dari kamar jenazah RSSA  ke rumah duka dengan menggunakan ambulans milik PD XIII GM FKPPI Jatim  diiringi Agoes Soerjanto yang seolah masih tidak percaya sahabatnya telah tiada. Malam harinya, bersama ratusan keluarga, kerabat, para seniman dan berbagai kalangan masyarakat lainnya,Agoes Soerjanto  menghadiri pemakaman pria kelahiran 28 Desember 1966 ini di TPU Mergan, Senin malam (12/8).
‘’Selamat jalan sahabat. Mas Budi Ayuga cecara luar biasa telah menorehkan sejarah sepanjang perjalanan hidupnya dengan kebaikan dan mengharumkan nama Malang dalam bidang kesenian.Kami semua selalu mengenang dan  siap melanjutkan perjuanganmu,’’ pungkas Agoes Soerjanto. (nugroho)

Berita Terkait