Please disable your adblock and script blockers to view this page


Aiptu Harry Sukatno, Anggota Lantas Sekaligus Pawang Ular


Binatang melata bertulang belakang seperti ular, entah dibenci atau dicinta oleh orang. Bagi sebagian orang yang takut dengan hewan berdarah dingin ini, ular adalah hewan yang bisa bikin trauma. Ada pula, orang yang biasa saja dengan ular, tidak takut, tapi juga tidak ada niatan memelihara.
Namun, Aiptu Harry Sukatno, anggota Satlantas Polres Makota, adalah sebagian orang yang mencintai binatang bersisik tersebut. Tak heran, di sela-sela kesibukannya mengabdi di Satlantas Polres Makota ia menjadi penguji SIM A. Harry menekuni hobi memelihara ular bahkan seringkali menjadi pawang.
Di rumahnya di kawasan Jalan Ciliwung, Purwantoro Kecamatan Blimbing, Harry menunjukkan binatang peliharaannya. Yakni ular piton berwarna cokelat dengan pola kembang lurik hitam emas yang tercecer di sekujur tubuh hewan ini. Dengan tenang, Harry menggendong ular piton tersebut tanpa rasa canggung apalagi takut.
Bahkan, saat si piton membelit kaki kirinya, Harry masih tenang. Dengan lembut, Harry mengelus-elus tubuh ular piton tersebut. Seakan mengerti maksud sang pawang, si piton pun menjulurkan lidah dan meliuk-liuk manja. Piton peliharaannya memiliki panjang sekitar empat meter.
Berat ular ini sekitar 10 kilogram. Sebagai penghobi ular, dia mendapatkan ular piton ini dari warga Sukun Kota Malang.
“Ini adalah ular yang saya dapatkan dari warga Sukun. Saya mendapat ular ini lima tahun lalu. Ketika saya mulai pelihara, ular ini masih berusia tiga tahun,” kata Harry kepada Malang Post.
Dia lalu menaruh ular terpanjang koleksinya, dan memperlihatkan ular yang lain. Dia memiliki tiga ular koleksi sampai saat ini. Namun, ada satu piton kendang atau puraca atau bernama latin Python Breitensteini. Piton ini, memiliki ciri-ciri spesial. Pertama, piton kendang cenderung bertubuh pendek dan gemuk.
Sehingga, dinamai kendang. Panjang tubuhnya, untuk puraca dewasa, biasanya maksimal 2 meter. Ekornya sepanjang kurang lebih 10 persen dari panjang total. Kepalanya kecil dan sedikit pipih, seperti lazimnya ular sanca atau piton. Mata puraca kecil dan pupilnya vertikal. Ada juga, dekik di bagian moncongnya.
Piton inilah binatang yang dipelihara Harry setelah diminta tolong oleh koleganya untuk menangkap ular di dalam sebuah rumah. Tepatnya, Maret 2019 lalu, kenalan Harry, drg. Muin, warga Jalan Satsuit Tubun, Kebonsari Kota Malang, tiba-tiba menelepon. Dari telepon itu, Harry menerima info ada seekor ular yang melata di rumah praktik drg. Muin.
Setelah janjian, Harry mendatangi rumah tersebut sepulang dinas. “Saya dapat telepon bahwa ada ular yang terlihat di dalam rumah kontrak tempat pak dokter praktik. Selepas dinas, saya datangi rumah kontrakan ini. Dan benar saja. Saya melihat seekor ular piton atau sanca, jenisnya sanca gendang. Saya tangkap, dan saya pelihara,” ungkap Harry.
Harry yang juga warga asli Desa Tambak Asri Tajinan Kabupaten Malang ini, sering dimintai bantuan oleh warga untuk menjadi pawang dan menangkap ular. Suami dari Tutik Sunarti ini menyebut, beberapa kali, Harry mendapat info bahwa ada rumah warga di Tambak Asri yang kemasukan ular.
Karena warga takut, Harry datang dan masuk ke dalam rumah untuk menangkap ular ini. “Karena warga takut, saya yang menangkap ular. Contohnya saja, di depan rumah saya, ada ular kayu yang masuk ke rumah tetangga. Saya tangkap ular tersebut dan saya kembalikan ke sawah,” tambah Harry.
Menurut anggota Satlantas yang berdinas di Satpas SIM Polres Makota itu, kecintaannya terhadap ular, membuatnya terlatih dan terampil dalam menangkap serta memelihara ular. Dia mengaku sudah gemar memelihara ular sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Namun, kecintaannya terhadap binatang berdarah dingin ini, semakin mendarah daging saat dia bertugas di kepolisian mulai tahun 1988. “Sejak SMP saya suka ular. Tapi, mulai bertugas di kepolisian, saya semakin getol. Apalagi di rumah Ciliwung yang dekat sawah, saya sering lihat dan tangkap ular. Hobi itu berlanjut sampai sekarang,” sambung Harry.
Selama berdinas di kepolisian, mulai dari Polwil Malang tahun 1988, tahun 1989 di Polres Malang dan sekarang di Polres Makota, Harry memanfaatkan waktu luang belajar soal ular. Saat mendalami hobi ini, tentu saja Harry pernah mengalami hal yang tidak enak. Yakni, digigit ular.
Bagi sebagian orang, pengalaman digigit ular adalah pengalaman traumatis yang mungkin sulit disembuhkan. Namun, Harry tidak kapok. Karena kegemarannya, Harry tetap getol belajar soal ular, meski pernah digigit. Harry menyebut, sebenarnya ular menggigit manusia itu karena merasa terancam.
“Contohnya saja saya. Saya digigit ular, karena saya tak sengaja menginjak ekornya. Tapi, saya tidak paksa lepas dan menyakiti ularnya. Saya elus-elus kepalanya, dan gigitan itu langsung lepas. Dia pun seperti mengerti, karena mungkin saya yang ngingoni dia,” katapria 54 tahun tersebut.
Untuk memelihara hewan berdarah dingin seperti ular, Harry memberi tips. Menurutnya hewan melata tidak sulit dipelihara. Namun, pemilik harus mementingkan kewaspadaan dan sentuhan lembut terhadap hewan melata ini. Ular misalnya, adalah hewan yang sensitif terhadap gerak.
“Jangan pernah mengagetkan ular, karena ular ini sensitif terhadap gerak. Dia akan menggigit jika ada yang mengejutkannya. Pemilik harus tenang dan lembut saat sedang ngopeni ular,” tambah ayah tiga anak tersebut. Cara memberi makan ular juga sebenarnya cukup simpel.
Karena sifat mereka yang memiliki metabolisme rendah, ular jarang makan. Sekali makan, ular seperti piton menunggu tiga minggu lagi untuk merasa lapar. Harry, biasanya memberi makan ular dengan binatang kelinci besar atau marmut. Warga Tambak Asri RT 01 RW 02 tersebut, tak membatasi diri memelihara hewan berdarah dingin.
Selain ular, dia pernah memelihara binatang seperti biawak, kukang, bahkan buaya. “Dulu pernah pelihara biawak, mulai dari ukurannya kecil, sampai tumbuh besar. Sayangnya, biawak ini terlepas, dan tak pernah kembali lagi. Biasanya, biawak ini selalu pulang ke rumah walau saya lepas, mungkin ditemukan oleh orang lain,” tutup Harry.(Fino Yudistira/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :