Ajak Milenial Bertani, Tak Harus Kotor dan Punya Lahan


Pertanian bukan tujuan. Tapi kebutuhan. Itulah penegasan dari petani hidroponik asal Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu bernama Pujiono (36 tahun). Ia miris melihat fenomena menyusutnya pata petani di Kota Batu. Puji, sapaan akrabnya terlecut mengajak anak-anak muda atau milenial di Kota Batu, untuk bangga bertani dan makmur bersama.
Bagi Puji, bertani adalah dunianya. Pasalnya, ia terjun di bidang pertanian sejak SD,  diajak oleh ayahnya. Sedangkan petani saat ini, kebanyakan berusia 40 tahun ke atas. Itulah yang membuat Puji berpikir merubah mindset masyarakat. Khususnya anak muda agar terjun dalam bidang pertanian. Caranya dengan mengenalkan sistem pertanian organik yang jauh dari kotor, lahan luas dan nilai jual tinggi.
"Saya terjun pertanian sejak SD dengan ikut orang tua bertani. Karena dulu sampai sekarang ayah merupakan petani bawang, kentang, dan apel," ujar Puji kepada Malang Post.
Tentu saja, pertanian yang dilakukan dan pelajari dirinya bersama sang ayah adalah pertanian konvensional. Namun ia merasa jika pertanian konvensional mulai ditinggalkan anak muda. Dengan berbagai faktor dan alasan. Namun secara umum karena kotor, panas, dan banyak merugi.
Dari hal itulah, laki-laki kelahiran Batu, 24 Februari 1983 ini mulai mencoba berdiri sendiri dengan pengembangan pertanian hidroponik. Usaha itu ia lakukan sejak empat tahun lalu atau tahun 2015. Ia pun mengenal pertanian hidroponik dari youtube.
"Saat itulah saya mulai tertarik dalam pertanian hidroponik. Padalah dulu sempat bertani apel mulai tahun 2010 membantu sang ayah. Tapi hasil tidak maksimal karena minder dengan lulusan yang hanya SMP dan sulit mendapat informasi dari teman petani," kenangnya.
Akhirnya tahun 2015 ia mulai pindah ke pertanian paprika dengan sistem hidroponik. Dari situ pula ia merasakan bahwa pertanian itu tak harus punya lahan luas, kotor, atau panas-panasan.
"Dari situ saya mulai pertanian hidroponik," imbuhnya.
Berjalannya waktu, permasalahan mulai muncul. Yakni sistem hidroponik hanya sepintas saja. Pasalnya banyak orang berpikir pada nilai jual tinggi. Tapi tidak melihat pasar. Sehingga bingung untuk menjual. Karena kalah harga dengan pertanian konvensional yang mayoritas mengunakan pupuk kimia.
Ia mencontohkan, misalnya untuk sayuran Lolorosa atau Selada Merah. Orang menanam menjual di pasar tradisioanal. Jelas tak akan laku. Karena peminat adalah resto dan supermarket.
"Dari situ pula daya akhirnya mulai kenalkan dan menjual sistem, melakukan pendampingan, dan pemasaran bagi pemula. Kecuali sistem hidroponik skala besar. Untuk penjualan mudah," terangnya.
Lebih lanjut, dengan mengajak warga sekitar yang memproduksi skala kecil. Ia menginisiasi melalui plasma atau petani hidroponik skala kecil untuk berjejaring. Sehingga mampu bersaing dengan skala industri.
Menariknya, pertanian hidroponik, bis memanfaatkan lahan yang ada. Mulai dari lorong rumah, atap rumah, dan halaman rumah. Dengan cara vertikal garden atau bertani ke atas.
Begitu juga dengan segmen yang ditembaknya. Ia mengajak dua segmen. Pertama anak-anak muda, agar bertani yang modern atau dikenal dengan urban farming. Dengan mengubah mindset bahwa produk pertanian adalah kebutuhan.
"Kita tanamkan mindset agar anak muda bahwa pertanian adalah kebutuhan. Serta jangan sampai produk pertanian sampai import," tegasnya.

Berita Terkait

Berita Lainnya :