Anak-anak Bisa Terjemahkan 30 Juz Alquran dalam Tiga Tahun


Menurutnya metode An-Nashr ini pernah diuji langsung oleh Prof. Dr. KH. Tolhah Hasan pada 1 Agustus 2012 silam. Lalu, sebulan berikutnya, tepatnya pada 29 September 2012, giliran Prof. Dr. Ir. H. M. Nuh DEA, Menteri Pendidikan Nasional Indonesia kala itu yang menguji.
Kala itu, yang diuji adalah putra M Taufiq, Muhammad Rifki Husaini, yang waktu itu berusia 14 tahun. Dengan tangkas, Rifki yang telah menyelesaikan pembelajaran terjemah Alquran 30 Juz dengan metode An-Nashr mampu menerjemahkan ayat-ayat yang ditunjukkan oleh sang menteri secara acak.
Sama dengan santri-santri lainnya, dengan waktu belajar kurang lebih satu jam per hari, Rifki membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk menyelesaikan pembelajaran terjemah Al Quran dengan metode An-Nashr.
Menteri M. Nuh pun tak segan memberikan apresiasi yang tinggi dengan adanya metode belajar terjemah Alquran tersebut. Harapannya, metode ini terus dikembangkan sehingga dapat bermanfaat dengan skala yang lebih luas. Dengan metode tersebut, diharapkan akan lahir generasi-generasi baru yang memiliki kemampuan dan kualitas akhlak yang qurani. Terlebih, metode ini dapat diajarkan sejak dini kepada anak-anak, sehingga mereka terlebih dahulu memahami Alquran ketimbang yang lain.
“Impian saya adalah, bagaimana metode An-Nashr ini, bisa diterima dan masuk di seluruh lembaga sekolah,” harap pengurus harian PC NU Kabupaten Malang ini.(agp/han)

Berita Lainnya :