Babat Habis Tanaman Kopi, Per Hektar Panen 30 Ton Per Tahun

Mengunjungi Kebun Salak Organik di Kecamatan Dampit 
Selama ini, Kecamatan Dampit terkenal sebagai wilayah penghasil kopi di Indonesia. Ternyata, salah satu kecamatan di sisi timur Kabupaten Malang itu juga dikenal menjadi penghasil Salak Pondoh. Di Desa Sukodono. Kini, sudah banyak warga mulai menanam salak dengan cara organik, yang tidak menggunakan zat kimia untuk penanamannya. 
 
Banyak kelebihan dari bertani dengan sistem organik tersebut, salah satunya adalah meningkatkan kuantitas panen bagi para petani dengan model penanaman biasa. Malang Post mengunjungi kebun salak milik Boiran Sutiono. Salah satu pelopor kebun salak organik di Sukodono, yang kini dipercaya menjadi Ketua Kelompok Tani Kopi Sari Sukodono. Banyak anggotanya mulai berbudidaya salak organik. Tidak hanya panen meningkat, tampilan kebun yang bersih dan rapi pun tersaji ketika memasuki area kebun salak bersertifikat prima tersebut.
Penanaman organik, adalah cara untuk bertani tanpa menggunakan bahan kimia. Sehingga, salak hasil panen lebih sehat dan tahan lama karena tanpa menggunakan zat kimia dari pupuknya. Sebagai gantinya, pupuk organik yang digunakan berasal dari kotoran hewan (pupuk kandang) yang diolah dengan batuan zeolit. Zeolit memiliki kandungan mineral yang akan membantu meningkatkan kesuburan tanah.
Boiran kali pertama menanam salak pondoh secara organik tahun 2002. Namun, kala itu masih belum ada yang percaya dengan metode penanaman tersebut, bisa meningkatkan kuantitas panen. "Awalnya, ya saya seorang diri. Saya sudah berkebun salak sejak 1990, saat pindah ke Sukodono ini. Tetapi, sejak 2002 saya memilih memakai cara organik," ujar Boiran.
Ia mulai menggunakan pupuk organik, setelah mendapatkan pengetahuan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL). Ia mendapatkan makalah tentang berkebun salak dengan cara organik. 
Boiran lantas belajar, bagaimana membuat pupuk organik sendiri. Sebab, bahan-bahan untuk membuat pupuk organik, yang pas untuk budidaya salak, mudah didapatkan di wilayahnya. "Paling yang agak susah yang pesan batuan zeolit. Pesannya dari Tuluangung. Kalau pupuk kandang, di daerah sini mudah," paparnya.
Ketika tidak ada yang percaya atau bahkan ragu, dia tetap tekun menanam salak secara organik. Awalnya, hanya 250 meter persegi atau separuh dari luas kebun salaknya. Namun, saat panenan meningkat, dia membabat tanaman kopi di sisa ladangnya. Semua berubah menjadi salak pondoh organik.
"Hampir 10 tahun ini semua sudah jadi kebun salak. Sudah tidak punya kebun kopi," beber pria yang berasal dari Lumajang tersebut.
Sampai akhirnya, di 2008 mulai ada masyarakat yang tertarik. Dia pun berbagi. Ilmu yang bisa dikatakan otodidak disempurnakan dengan penyuluhan, membuat dia beberapa warga mulai memesan pupuk organik yang dia buat sendiri. 
"Tahun ini, sudah ada 29 orang yang memilih cara organik. Mereka tergabung di kelompok tani saya, jumlah anggotanya ada 33," papar dia.
Dari kelompok tani yang kebetulan diketuainya, total lahan salak warga mencapai 39 hektar. Sementara, untuk wilayah Desa Sukodono, luas kebun salak sekitar 200 hektar.
Bapak dua anak itu merinci, tentang kelebihan dari budidaya secara organik tersebut. Bila dihitung, peningkatan panen bisa 50 persen, walaupun tidak semuanya bakal meningkat sebanyak itu.
"Setahun, untuk satu hektar lahan, panenan bisa antara 27 sampai 30 ton. Mungkin sebelumnya masih sekitar 20 ton per tahun. Sedangkan di wilayah lain, rata-rata hanya 15-17 ton per tahun dengan luas satu hektar," urainya. 
Ia menyampaikan, salak organik juga secara kualitas lebih baik. Pasalnya, salak organik yang masih dalam tangkainya bisa bertahan 2 minggu lebih dengan rasa yang makin manis. Berbeda dengan salak non organik yang mulai busuk dan berkurang kualitas rasanya dalam hitungan 2 hari. 
"Daya tahan merupakan unsur penting dalam perdagangan produk pertanian, selain rasa dan ukuran, karena ketiganya menentukan nilai produk,” kata dia.
Sementara itu, Boiran mengatakan, kelebihan lainnya penanaman organik juga membuat perilaku petani berubah. Mereka seolah mendapatkan ilmu untuk menjaga kebun salaknya lebih rapi. 
"Memang disarankan area lahannya bersih dan rapi. Apalagi, jika ingin mendapatkan sertifikat prima," tambah Boiran, yang sempat menjadi juara 2  lomba agribis di tingkat propinsi Jawa Timur tersebut.
Benar saja, ketika memasuki area kebun salak, jarang ditemukan batang pohon salak yang dipangkas dan mulai mengering. Daun-daun juga tidak berada di area bawah pohon salak yang ada di dalam kebun salak tersebut. 
Dengan kondisi tersebut, beberapa kebun salak milik warga, dipilih oleh pemerintah desa sebagai salah satu jujugan untuk berwisata petik salak. Pemerintah desa setempat juga mulai membuat wisata petik salak beberapa waktu terakhir. 
"Kalau di kelompok tani kami, sebelumnya juga banyak tamu. Biasanya rekomendasi kecamatan. Bukan hanya dari Kabupaten Malang, tapi sampai luar provinsi," sebut dia.
Dari buku tamu terlihat, kunjungan datang dari Sumatera Utara, Jombang, Banyuwangi, hingga Jawa Barat. Sebagian besar, tujuan mereka adalah belajar berbudidaya salak organik. Sebab, di Jatim hanya beberapa kelompok tani saja yang menjadi rekomendasi untuk tempat studi banding. Selain itu, dari buku tamu tadi, juga terdapat kunjungan dari perusahaan ritel, yang diakui Boiran sempat bekerja sama. "Ya ada panenan kami yang masuk toko modern," tegasnya.
Ia menyebutkan, untuk jenis salak di kebunnya terdiri dari salak pondoh Manggala, pondoh madu, dan pondoh lumut. "Semua rasanya manis. Cuma bentuk dan ukurannya yang berbeda," ungkapnya.
Sementara, untuk penjualan masih sebatas di Jawa Timur. Misalnya Lumajang, Banyuwangi dan Surabaya. "Setelah itu sama tengkulak mungkin di jual ke luar provinsi. Yang saya tahu, dari Banyuwangi banyak yang dikirim ke Bali," pungkas dia.(Stenly Rehardson/ary)
 
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :