Belajar Jadi Trickster dari Malang Freestyle Football


Sepak bola freestyle adalah hal baru di Malang. Karena, bagi warga Malang, sepak bola adalah mereka yang bertanding di lapangan hijau, beradu fisik dan berupaya mencetak gol ke gawang lawan. Malang Freestyle Football, menjadi kelompok pertama yang muncul ke permukaan, dengan mengedepankan unsur gaya bebas dalam memunculkan trick sepak bola ala Ronaldinho.
Bola memantul-mantul di kaki Nurul Faizin, 29 tahun. Pemuda asli Malang ini dengan percaya diri, men-juggling bola di antara kedua kakinya. Sesekali, bola dijepit diantara tumit dan pahanya. Tak jarang, bola mengayun dari kaki kiri ke kaki kanan untuk menyeimbangkan bola. Beberapa kali, Faizin juga memutarkan kakinya di antara bola yang sedang melayang.
“Trick kaki dominan, lalu memutari bola dengan kaki dominan ketika juggling itu adalah around the world . Saya rasa trickster bola dari seluruh dunia, harus memahami trick dasar ini. Kalau belum paham, coba deh lihat Ronaldinho yang dikenal sebagai jagoan freestyle,” terang Faizin kepada Malang Post.
Saat mendatangi Graha Malang Post Jalan Raya Sawojajar Ruko WoW cluster Apple nomor 1-9, Kedungkandang Kota Malang, Faizin bersama rekan-rekannya dari Malang Freestyle Football, komunitas trickster sepak bola Malang pertama yang muncul ke permukaan, menunjukkan berbagai gaya dan trick.
Mereka, terdiri dari enam anggota inti. Yaitu, Mochamad Efendi, 24, mahasiswa UMM teknik elektro, Nurul Faizin, 29, pekerja, Oktavian, 17, siswa SMKN 8 Malang, Aqbil Faza, 17, siswa SMAN 10 Malang, Nur Rahmatullah, 24, mahasiswa Biologi UB, serta Choirul Anwar, 23, Pekerja.
Dengan latar belakang yang berbeda-beda, mereka berkumpul dalam komunitas freestyle sepak bola, dan mewujudkan kecintaannya dengan latihan dan adu trik. Mereka berlatih setiap hari di rumah. Lalu, setiap hari Minggu pagi, mereka berkumpul dan mengadu skill, saling belajar dan sharing trik.
Selain around the world, ada hop the world yang mirip-mirip. Bedanya, jika around the world hanya memakai satu kaki, maka hop the world adalah juggling dengan kaki dominan, lalu kaki kiri memutari bola yang melayang, dan bola kembali finish di kaki dominan. Dua trick tersebut, merupakan bagian dari trick freestyle bernama lower.
Ada beberapa trick lain yang ditunjukkan selain juggling bola dengan posisi berdiri. “Ada upper, memainkan bola di kepala tanpa jatuh. Ada sit down juggling, menimang bola sambil duduk, ada pula control, menahan bola sambil tidur. Block move, mengapit bola lalu berakrobat. Ini gerakan yang berbau breakdance, hanya saja ada juggling bolanya,” tandas Faizin.
Para freestyle football asal Malang ini, berupaya membangun gerakan di Malang untuk cabang olahraga sepak bola yang merupakan olahraga terpopuler di dunia. Selama ini, freestyle jarang mendapat sorotan karena tidak populer seperti sepak bola tradisional, yakni bermain 22 orang, di lapangan hijau.
Mereka mengungkapkan, freestyle tidak sama dengan sepakbola maupun futsal. Karena, latihan dan drill sepak bola dan freestyle, jauh berbeda. Fisik pemain bola, tidak dituntut untuk melakukan freestyle. Untuk menjadi seorang pesepak bola profesional, dia harus kuat bermain 90 menit.
Lalu, dia harus punya skill kuat dalam akurasi umpan, giringan, tembakan, insting bermain, serta kemampuan mengadaptasi instruksi pelatih dan hasil latihan di dalam pertandingan. Sementara, freestyle fokus pada kemampuan mengolah si kulit bundar secara isolatif, dengan juggling, upper maupun bentuk trick lainnya.
Para trickster seperti Malang Freestyle Football, tidak dituntut untuk bermain 90 menit tanpa lelah di lapangan hijau. Memang, sepak bola dan freestyle sama-sama menjadi hiburan, tapi hiburannya berbeda.
“Karena itu, pemain freestyle kalau disuruh main sepak bola lapangan, ya sulit. Karena, dasar drill latihannya berbeda,” ungkap Mochammad Efendi.
Untuk bisa menjadi seorang trickster, kuncinya adalah kemampuan dasar juggling, yang dikembangkan dengan berbagai trik lain. Selain itu, pemanasan otot, serta peningkatan kelenturan badan sangat berpengaruh untuk mendukung gerak freestyle dari para pemain freestyle football.
Untuk menguji kemampuan, mereka sudah mengikuti beberapa turnamen freestyle di luar kota. “Kami pernah ikut di Tangerang Football Championship 2017, kami masuk empat besar. Peserta saat itu berasal dari seluruh Indonesia,” sambungnya. Bagi para trickster, kunci dalam turnamen freestyle adalah trick, original dan flow.
Tiga indikator ini, menentukan apakah seorang trickster bisa mendapatkan poin tinggi dari juri. Penilaian, dilakukan dari battle freestyle. Tiap orang, dapat tiga kali kesempatan menunjukkan trick selama 30 detik, selama tiga menit. Ke depan, mereka terus mengembangkan sayap, untuk melebarkan gerakan freestyle.
Pertama, pada 11 Agustus, tepat pada hari ulang tahun Arema, Malang Freestyle Football menggelar turnamen juggling di Trans Studio Mini Malang. Kompetisi ini terbuka untuk umum. Tapi, lebih dari itu, mereka juga ingin membawa nama Malang ke kancah yang lebih tinggi di turnamen nasional.
“Pada September, kami akan ikut Indonesia Freestyle Football Championship di Jakarta. Ini turnamen rutin tiap tahun. Kami berharap bisa membawa harum nama Malang di turnamen ini,” tutup mereka.(Fino Yudistira/ary)

Berita Terkait