Bepergian Selalu Naik KA, Koleksi Puluhan Kereta 1:1

Haryo Prasodjo berpose di depan KA Prambanan Ekspres, ia terbiasa pergi naik Kereta Api bahkan sering menginap di stasiun.
 
Haryo Prasodjo, Sepurman dari Prodi HI UMM
Sepurman, sebutan yang paling tepat disematkan pada Haryo Prasodjo, pria kelahiran Jakarta tahun 1989 ini seorang pencinta segala hal tentang Kereta Api. Hingga saat ini ia juga merupakan seorang blogger dengan konten Kereta Api yaitu dipomojosari.blogspot.com yang sudah dikunjungi lebih dari 1 juta viewers.
 
Tak hanya itu, ia juga merupakan admin sejumlah media sosial terkait konten kereta api yaitu @kanjengharyo dan @sejarahkeretaapiindonesia yang sudah miliki puluhan ribu followers. Mulai dari komponen kereta api hingga sekelumit sejarah yang ada di baliknya, selalu diulas secara unik olehnya.
Pria yang juga berprofesi sebagai dosen Prodi Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut mulai menyukai segala hal tentang Kereta Api sejak kecil. Namun, hobi tersebut mulai ditekuni secara serius ketika memasuki pendidikan S1. Ia juga ikut komunitas pecinta kereta api MR22 dan Malang Raya (ML 444).
“Mulai suka Kereta Api sejak kecil, karena dulu dikenalkan melalui sejarah di museum-museum oleh kakek,” ungkapnya pada tim Malang Post.
Ia menceritakan dulu kakeknya merupakan seorang veteran, jadi sering membawanya mengunjungi sejumlah museum sejarah. Namun, perhatiannya besar tertuju pada sejarah mengenai Kereta Api sejak pertama kali dirintis di Indonesia.
“Sejarah dan filosofi tentang Kereta Api begitu menarik, saya bisa menelusuri berbagai rekam sejarah yang ada benang merahnya dengan Kereta Api,” tegas pria yang sudah merasakan hampir semua rute perjalanan Kereta Api di pulau Jawa tersebut.
Pada mulanya ia lebih fokus pada koleksi berbagai miniatur Kereta Api, namun kini karena kebutuhan dokumentasi sejarah sebagai konten, kini ia terjun langsung pada Kereta Api skala 1:1 atau kereta yang sesungguhnya.
“Dulu awalnya waktu kuliah S1, saya lebih fokus ke koleksi miniatur Kereta Api, tapi karena kebutuhan dokumentasi sejarah akhirnya terjun ke Kereta Api 1:1,” jelasnya.
Pada saat mulai terjun pada kereta 1:1, hampir setiap minggu ia melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Untuk kereta api jarak dekat bisa 5 kali dalam sebulan, seringnya perjalanan Malang-Jogja, Jogja-Mojokerto, Malang-Pekalongan, Mojokerto-Pekalongan, Sidoarjo-Malang.
Sedang untuk jarak jauh biasanya dilakukan dua bulan sekali. Saking seringnya melakukan perjalanan menggunakan kereta api, tak jarang ia juga harus menginap di stasiun. Sejauh ini kereta yang paling sering ia naiki adalah kereta Sancaka, Malioboro Ekspres, Bima, Bangunkarta, serta Jayabaya.
“Sebulan bisa 4-5 kali, kadang sampai nginep di stasiun juga,” kata pria yang besar di Kota Bekasi tersebut.
Menurut pria lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor ini, setiap komponen dari kereta api memiliki kisah dan makna yang menarik untuk diulik. Mulai dari sejarah rel, bangunan stasiun, hingga sampai pada nama gerbong lokomotif memiliki filosofi yang menarik.
“Seperti nama rangkaian ‘Rapih Dhoho’, kata Rapih merupakan kepanjangan dari ‘Rangkaian Terpisah’ ada sejarahnya juga dan belum banyak yang tahu,” jelasnya antusias.
Kemudian, ia juga senang menelusuri berbagai infrastruktur lama dari Kereta Api seperti bangunan di sekitar stasiun dan juga menyusuri jejak-jejak rel mati hingga ke sejumlah daerah. Hal tersebut tentu ia jadikan konten pada blog dan juga media sosialnya.
Sejauh ini, ia juga akrab disapa sebagai Kanjeng Haryo oleh rekan-rekannya. Julukan ini muncul lantaran salah satu akun media sosialnya mengusung jargon ‘Kanjeng Haryo Taat Nyepur’ yang hingga kini begitu melekat padanya.
Sebagai pencinta segala sesuatu tentang Kereta Api sudah jadi barang tentu, bahwa ia mengoleksi berbagai jenis barang tentang ‘Kereta Api’. Mulai dari 8 miniatur lokomotif bergerak, 20 miniatur gerbong penumpang, 50 miniatur gerbong barang, serta beberapa miniatur pajangan. 
Untuk harga dari koleksinya yang didapat dari lokal maupun impor mulai dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Seperti lokomotif tanpa mesin kisaran Rp 250.000 – Rp .1000.000, lokomotif bermesin Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000, gerbong Rp 300.000 -  Rp 450.000, serta gerbong barang mulai dari Rp 100.000.
Sedang untuk bahan dari miniatur koleksi juga beragam, yang lokal untuk loko sendiri bahannya plastik ABS sistem mould inject. Untuk miniatur impor menggunakan mesin, tapi bahannya masih sama. Perbedaan dari miniatur lokal dan impor adalah pada pemggunaan roda plastik (statis) dan roda metal.
Kemudian ditambah beberapa buku sejarah kereta api dan majalah kereta api terbitan tahun 1967 juga menjadi koleksi dan bahan referensi untuknya. Selain itu, ia juga memiliki pernak-pernik seperti mug lokomotif, jam dinding lokomotif, kaos lokomotif dan juga jaket lokomotif.
Hingga saat ini, hobi yang ia tekuni berjalan seiring dengan profesinya sebagai seorang dosen dan juga ayah dari seorang putri. Bahkan ia menyampaikan bahwa Kereta Api merupakan bagian dari ilmu akademis yang ditekuninya yaitu Ilmu Hubungan Internasional.
“Sejarah Kereta Api ini sebenarnya HI banget, karena sejarahnya yang pertama kali didirikan pada masa kolonial hingga berbagai komponennya yang diperoleh dari negara lain,” ujarnya.(mg3/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :