Bina Anak Berkebutuhan Khusus, Didukung Penuh Danramil 07 Pakisaji

Serda Tri Djoko Purwanto anggota Babinsa Koramil 07, Pakisaji usai mengikuti apel gelar pasukan dalam rangka Pileg dan Pilpres tahun 2019 beberapa waktu lalu
 
Serda Tri Djoko Purwanto, Bukan Babinsa Biasa
Serda Tri Djoko Purwanto memang bukan anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) biasa. Dalam kesibukannya melakukan pembinaan geografi, demografi dan kondisi sosial di wilayah, dia juga aktif dalam melakukan pembinaan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Dia juga mendirikan Komunitas Kartika Mutiara yang mewadahi anak-anak berkebutuhan khusus. 
 
Berkat dedikasinya itu juga, anggota Babinsa Koramil 07 Pakisaji, inipun mendapatkan penghargaan, sebagai Babinsa berprestasi tahun 2019, tingkat Kodam V Brawijaya. 
”Alhamdulillah. Maret lalu dapat penghargaan sebagai Babinsa berprestasi. Penghargaan diberikan langsung oleh Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI R. Wisnoe Prasetja Boedi, saat apel Dansat di wisata Prigen,’’ kata Tri memulai ceritanya. 
Kepada Malang Post, Tri mengatakan pembinaan terhadap anak difable ini dimulai pada tahun 2017. Awalnya, Tri yang bertugas sebagai Babinsa, di Desa Pakisasi, Kecamatan Pakisaji saat melakukan tugasnya keliling, kerap kali melihat anak berkebutuhan khusus. Hatinya trenyuh. Apalagi umumnya anak-anak itu hidup di bawah garis kemiskinan. 
”Trenyuh, sedih, karena selain melihat kondisi fisik mereka, kehidupan mereka, juga anggapan miring dari warga sekitar. Ya, karena banyak anak-anak berkebutuhan khusus ini hanya dipandang sebelah mata oleh warga,’’ ungkapnya. 
Namun demikian, bapak satu anak ini tidak mau terbuai dengan perasaannya. Dan memilih, rasa sedih atau trenyuhnya itu, sebagai motivasi dirinya untuk memberikan semangat kepada anak-anak. 
”Lama saya berpikir, hingga akhirnya saya pun memiliki ide untuk membuat wadah bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau difable,’’ katanya. 
Dia pun bersemangat, karena saat itu ada salah satu rekan Babinsanya yaitu Pelda Daeng juga semangat untuk membentuk wadah bagi anak difable. Bahkan Danramil Pakisaji, Kapten Inf Didik Hartono juga memberikan dukungan, terhadap terbentuknya wadah ini.
Singkat cerita, begitu ide itu muncul, dan dukungan terus mengalir, maka dia pun meminta rekan-rekan Babinsa lainnya di Koramil 07, Pakisaji untuk melakukan pendataan terhadap anak-anak difable. Pendataan itu, tak sekadar mencatat alamat, tapi kondisi fisik, dan ekonomi keluarga anak berkebutuhan khusus. 
Setelah semua terkumpul, Tri Djoko dan Babinsa lain itu kemudian mendatangi rumah-rumah anak-anak berkebutuhan khusus. Disitulah, ayah dari Larasati Puspanegara ini mulai mendapatkan tantangan. Karena saat mendatangi rumah anak berkebutuhan khusus, tidak semuanya menerima. Banyak alasan yang diberikan keluarga anak berkebutuhan khusus. Mulai tak mau anaknya dicemooh orang lain, tak penting belajar dan lainnya.
Tapi bukan Tri Djoko namanya, jika gampang menyerah. Suami dari Sukanti ini terus bersemangat. Dia mengatakan kepada keluarga anak berkebutuhan khusus, bahwa anak mereka adalah orang luar biasa. Meskipun memiliki kekurangan, tapi anak tetap memiliki hak bermain dan mendapatkan pendidikan. 
”Gak mudah.Tapi kami terus meyakinkan mereka. Bahwa anak mereka tidak patut untuk disembunyikan. Anak mereka yang memiliki cacat fisik juga memiliki hak untuk belajat, dan berkreasi. Itu yang terus saya tanamkan kepada orang tua dari anak-anak difable,’’ tambahnya.
Dan upayanya itu membuahkan hasil. Hingga akhirnya muncul kepercayaan dari orang tua para difable. Mereka kemudian welcome dan mau berkumpul di Koramil untuk untuk membicarakan tentang pembinaan yang dilakukan. 
”Setelah mereka welcome, bukan berarti tidak ada kendala. Saat kami minta mereka datang ke kantor, untuk kumpul dan membicarakan program, banyak orang tua yang tidak mau. Alasannya tidak memiliki ongkos, untuk datang ke Koramil,’’ tambah Tri Djoko. 
Bintara inipun kembali memutar otak. Hingga akhirnya dia pun meminta izin kepada Danramil untuk menggunakan kendaraan, menjemput para orang tua anak berkebutuhan khusus. Bahkan, karena anaknya tak bisa ditinggal, mereka juga dibawa. Setelah berkumpul dan mengadakan rapat beberapa kali, akhirnya para orang tua ini setuju, jika anaknya ikut belajar di Koramil. 
”Awalnya hanya 18 orang saja yang datang untuk belajar. Mereka usianya rata-rata 8 tahun – 20 tahun,’’ kata Tri Djoko.
Di Koramil, anak-anak ini tak sekadar dikenalkan pada teman-temannya yang lain, mereka juga belajar, mulai berhitung, menulis, menggambar serta membuat ketrampilan. Untuk gurunya, Tri Djoko pun mengandalkan mahasiswa yang sedang KKN, atau warga yang ingin bergabung.
Setelah semuanya berjalan, barulah Tri Djoko pun mengusulkan, untuk mendirikan Komunitas Kartika Mutiara. Di mana komunitas ini menjadi wadah para anak difable, mereka bisa belajar dan bermain. Di komunitas ini, anak difable berkumpul tiga kali seminggu, yaitu Selasa, Kamis dan Sabtu. ”Seperti yang saya katakan di atas. Anak-anak ini bisa bermain, mereka bisa belajar. Dan orang tua juga belajar ketrampilan,’’ terangnya. 
Menurut Tri Djoko, anak difable dan keluarganya awalnya datang dengan dijemput dengan mobil dinas Koramil. Ada juga yang diantar oleh kepala desa dan perangkat desa. 
”Intinya kami ingin mereka datang dulu. Kami memanfaatkan aula, sebagai tempat belajar,’’ tambah Tri Djoko.
Ia mengaku hampir setiap pertemuan, dia juga ikut mengajar. Sekalipun tidak memiliki basic mengajar, tapi karena melihat anak-anak berkebutuhan khusus, dia pun mau belajar.
Seiring dengan berjalannya waktu, komunitas ini pun berkembang. Dan anak difable yang datang juga semakin banyak. Tri Djoko pun mengaku sempat kewalahan. Tapi demikian, dia tetap memperbolehkan anak-anak berkebutuhan khusus datang. 
Ditanya tentang anggaran? Tri Djoko mengaku lebih banyak swadaya. Menurut dia, kerap kali mendapatkan sokongan dana dari donatur. Baik itu membeli alat tulis, peralatan belajar dan lainnya. Bahkan, dia juga tak segan menyampaikan proposal bantuan ke Dinas Sosial atau OPD lain di Kabupaten Malang untuk membantu anak-anak. Dan umumnya dia hanya menerima barang.
”Sekarang di Komunitas ini ada 60 anak yang ikut belajar. Ada yang tuna rungu, tuna netra, ada yang tuna daksa. Dan yang saya senang, semuanya mereka bersemangat. Bahkan, Januari lalu saat kami ulang tahun, anak-anak inilah yang unjuk kebolehan, dan mereka semua berbakat,’’ ungkapnya.
Ditanya alasan membina anak-anak difable? Selain karena hatinya trenyuh dan merasa iba, karena dia ingin memperbanyak pahala. ”Usia kita ini terus bertambah. Selain kami berbakti untuk negara ini, kami juga ingin mengabdi kepada anak-anak ini. Mereka adalah generasi penerus bangsa,’’ katanya. 
Dia juga juga berharap, dengan anak-anak belajar, mereka pun nantinya bisa mandiri, dan tidak tergantung kepada orang lain. 
”Cita-cita saya itu. Yaitu membuat anak-anak menjadi pribadi yang mandiri. Dengan kekurangan yang dimiliki, tapi mereka harus bisa hidup mandiri,’’ tandasnya.(Ira Ravika/ary)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :