Cak Sudar, Seniman Ludruk Guru Seni Lapas Lowokwaru


MALANG - Kecintaan terhadap seni bisa muncul dari mana saja. Bahkan datang dari balik jeruji besi sekalipun. Itulah pengalaman Daryono, petugas bagian kegiatan kerja Lapas Kelas I Lowokwaru Malang. Pemilik nama panggung Cak Sudar itu kini juga mengajar ludruk di kampung-kampung.  Melalui seni, terutama kidung, ia membawa pesan melawan bahaya penyalahgunaan narkoba.
Daryono memang sudah mengenal dan mulai suka dunia seni sejak kecil. Namun ia belum menekuni secara mendalam. Ketika mulai bekerja di LP Lowokwaru sejak tahun 2000 lalu, ia justru menyadari pentingnya seni. Apalagi pria kelahiran tahun 1962 itu diberi mandat mengajar seni kepada narapidana yang berminat belajar seni.  
“Saya kenalan dengan seorang teman seniman ludruk saat bertugas di lapas untuk mengajar seni. Saya minta diajari supaya saya bisa mengajar bagus di dalam lapas,” kenangnya tentang awal ketertarikan mendalami dunia seni ludruk.
Daryono mengaku tak mudah mengajar seni kepada narapidana. Pasalnya, dengan latar belakang dan catatan kriminal yang dimiliki warga binaan lapas, membuat kepribadian muridnya susah ditebak. “Kadang ada yang sudah pintar jadi tidak susah. Ada yang memang kemampuannya sangat terbatas sehingga susah sekali menerima pelajaran, belum lagi jika masih terpengaruh hal lain seperti murid dengan latar belakang pemakai (pengguna narkoba, red),” terangnya.
Tidak hanya ludruk saja yang diajarkannya di Lapas Lowokwaru. Ia juga mengajarkan napi cara bermain gamelan, jaranan sampai berkidung syair.
Tidak banyak memang yang berminat dengan seni tradisional tersebut. Akan tetapi Daryono tetap semangat mengajarkan napi-napi yang memiliki bakat dan minat. Apalagi ia sudah berpengalaman mendampingi napi lantaran lama masa pengabdiannya.
“Kalau ada acara besar di lapas seperti 17-an atau acara lainnya,  ya murid-murid seni saya pasti tampil. Kebanyakan mereka tampil seni jaranan,  ada juga yang main orkes dangdut, semua karena belajar,” tandasnya.
Pria yang sudah memiliki satu cucu ini melanjutkan, beberapa mantan napi dan mantan muridnya di lapas sudah sukses mendirikan kelompok seni sendiri setelah keluar penjara. Ia bahkan menceritakan pernah mengajarkan seni karawitan pada salah satu napi kasus korupsi, salah seorang pejabat di Kota Malang beberapa tahun silam.
Dimana segera setelah bebas,  napi korupsi ini mendirikan kelompok karawitannya sendiri. Awalnya, karena ia menjadi murid Daryono.  
Tidak hanya di dalam lapas, Daryono juga mengajar di beberapa kelompok seni kampung di Kota Malang secara rutin. Daryono menceritakan dirinya memang senang mengajar. “Saya mengajar seni di kampung-kampung juga, seperti di Janti, Dinoyo, Ciptomulyo dan banyak lagi,” ungkap lulusan SMA Petra Malang ini.
Karena ketekunannya, pada 2015 lalu, Daryono meraih juara I Lomba Kidung tingkat Jawa Timur. Dalam pagelaran yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur itu, ia membawakan kidung ciptaannya sendiri yang berasal dari pengalamannya bekerja di lapas.“Saya ambil syair soal narkoba. Itu yang saya bawakan sampai bisa menang,” ungkapnya.
Syair yang dibawakan Daryono tersebut berisikan soal pengalaman murid-muridnya yang juga seorang napi narkoba dalam lapas. Dalam syair kidung yang dibawakannya di pentas, pria asli Pujon  ini menceritakan pahitnya kehidupan ketika bersentuhan dengan narkoba.
Ia menjelaskan, dirinya membubuhkan lirik bahwa akibat dari memakai narkoba ada banyak sekali. Seperti dikucilkan keluarga dan kerabat sampai ganjaran hukuman yang harus diterima.  “Saat itu memang lagi gencar-gencarnya sosialisasi soal narkoba. Saya ambil saja sebagai penggalan syair, eh menang,” papar Daryono yang juga pernah menjadi juara 3 lomba kidung dalam event HUT Kota Batu Tahun 2017.
Meskipun sudah pindah tugas ke Bagian Pengawasan, Daryono masih sempatkan waktu mengajar seni untuk para napi. Itu karena ketertarikannya pada dunia mengajar seni sulit memudar.  
Ia  tidak pernah merasa susah atau lelah untuk mengajar seni. Terlebih mengajar narapidana.
Pasalnya, menurut Daryono semua orang, siapapun dan apapun latar belakangnya harus didukung ketika ingin maju dan berubah menjadi lebih baik.
“Seni adalah salah satu alat yang bisa membuat orang menjadi lebih baik. Jadi saya tetap akan mengajar seni. Saya sudah suka dengan dunia seni,” kata  pria ramah yang pada April lalu tampil dalam pagelaran ludruk di Taman Krida Budaya Malang ini.
Kini ia juga masih mendapatkan tawaran mengisi acara seni seperti ludruk atau kidungan dalam beberapa hajatan warga. Dari kegiatan ini Daryono dapat menghasilkan Rp 300 ribu sampai Rp 1,5 juta tiap kali tampil. Namun itu semua bukan tujuan utama karena prinsipnya mengajar dan menjadikan seni untuk kebaikan. (sisca angelina/van/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...