Edy Suhartono, Pelatih Timnas Pencak Silat Asli Kota Batu


BATU - Gelaran olahraga Asian Games 2018 memang telah usai digelar. Namun cerita pahlawan di balik layar belum banyak terekspose. Salah satunya kisah pelatih Pencak Silat Tinmas Indonesia di Asian Games 2018. Ia adalah Edy Suhartono, warga Desa Dadaprejo RT 3 RW 1 No.143, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Ya, kontingen Indonesia dari cabor Pencak Silat menyumbang 14 medali emas dari 31 medali emas yang ditorehkan. Bahkan sebelumnya, tak banyak yang menyangka jika olahraga asli Indonesia ini mampu mengantarkan Indonesia ke posisi 4 Asian Games. Edy, sapaan akrabnya,b ahwa ayang telah diraih dan dipersembahkan oleh 22 atlet pencak silat memiliki cerita panjang.
"Motivasi bermain di negara sendiri sudah pasti. Tapi di luar itu, tepatnya pengalaman tahun 2017 lalu, sangat memicu anak-anak untuk memborong 14 dari 16 medali emas yang diperebutkan," ujar laki-laki ramah yang tergabung dalam PSHT Kota Batu ini.
Ia mengungkapkan, motivasi itu ketika perhelatan SEA Games 2017 yang digelar di Malaysia. Di mana dalam pada saat itu, atlet pencak silat Indonesia banyak dicurangi. Hasilnya hanya raihan 4 emas 2 perak dan 3 perunggu yang didapat Indonesia.
"Jadi apa yang yang telah diraih kemari bukan karena reward ataupun tuan rumah. Tapi saya minta agar para atlet tidak melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Malaysia tahun lalu terbukti melecut semangat mereka," bebernya.
Lebih dari itu, Edy yang nerupakan pelatih dengan lisensi tingkat daerah, nasional dan The Australian Strength & Conditioning Association (ASCA) Level 1 Strength ini, ternyata telah jauh hari mencari atlet-atlet yang benar-benar mampu berkomoetisi di Asian Games. Para atletnya telah digembleng sejak tiga tahun lalu. Sehingga target empat emas dari Indonesia bisa dilampaui.
Sementara itu, untuk berada di posisinya saat ini bukan tanpa proses. Laki-laki yang juga anggota Lembaga Pelatih IPSI Jatim ini harus mengikuti fit proper test. Baik dari tingkat provinsi hingga nasional.
"Kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kalau dulu, daerah yang paling banyak mengirimkan atletnya  pasti akan mendampingi. Sekarang ada proses panjang yang harus dilewati dan harus mengalahkan puluhan atlet dari berbagai daerah," beber laki-laki kelahiran Malang, 22 April 1967 ini.
Terpilihnya sebagai pelatih tentu tidak lepas dari rekam jejaknya yang berhasil mengantarkan timnas  pencak silat Indonesia di World Champion Pahang Malaysia 2007. Serta sebagai pelatih PON Jatim yang digelar dari tahun 2000-2016.
Selain itu, Edy juga mengantarkan para atlitnya ikut dalam rangkaian uji coba sebelum Asian Games 2018 pada kejuaraan di Vietnam, Thailand, dan terakhir pada Belgia Open Mei 2018. Di mana pada Belgia Open 2018, Indonesia sukses meraih 7 emas, 1 perak, dan 2 perunggu yang dijadikan modal baginya dan para pesilat untuk menapaki jalan sukses Asian Games.
Sebagai pelatih, prestasinya mengantarkan Indonesia di tingkat dunia memang sangat bagus. Tapi sebaliknya, sebagai atlet prestasinya tidak mentereng. Yakni sebatas mengikuti seleksi atlet menjelang di PON 1996.
"Kalau prestasi tertinggi saat ikut pekan olahraga mahasiswa tingkat nasional di Surabaya dengan meraih juara 3 kategori tanding kelas A. Untuk tahunnya saya sudah lupa," bebernya sembari tersenyum.
Dari situ ia disarankan oleh salah satu temannya untuk menjadi pelatih. Yang kemudian pada tahun 2000 sampai sekarang profesi pelatih disandangnya. Kini dengan kesuksesan yang dirinya bersama timnas, ia berharap olah raga pencak silat tak dilihat oleh banyak orang sebagai olahraga kampungan. Dengan begitu, pencak silat juga tak kalah baiknya dengan olah raga bela diri impor.
"Apalagi banyak masyarakat melihat pencak silat hanya berkelahi atau tawuran antar perguruan. Sekarang dengan prestasi dan dukungan pemerintah, saya yakin olahraga asli Indonesia ini akan digemari oleh anak-anak muda," paparnya dengan bangga.
Dalam waktu dekat ini, PR yang harus dikerjakannya adalah mencari atlet berbakat dalam Kejurnas di Jakarta bulan November ini. Serta menukangi Indonesia dalam kejuaran Internasional di India pada September dalam The 4th Asian Campionship.(eri/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :