Hujan Deras dan Angin, Jamaah Tetap Dengarkan Kajian

 
Mengajarkan kajian dari literatur Islam klasik dengan prespektif yang humanis dan relevan bagi umat, supaya jamaah memiliki karakter muslim yang modern di Indonesia. Harapannya, untuk menciptakan masyarakat yang damai dengan keberagaman. Itulah ajaran yang selalu ditekankan oleh Al-Habib Taufiq bin Muhammad Baraqbah. Baik sebagai pengajar di Ma'had Daruttauhid, Majlis Riyadlul Jannah hingga sebagai pengisi tausiyah kajian-kajian tematik di universitas dan kantor.
Sebagai tenaga pengajar ia harus benar-benar memosisikan diri dengan baik dan mampu memahami karakter audiens. Sebab Al-Habib Taufiq bin Muhammad Baraqbah harus mengajar anak-anak didik semua tingkat di Ma'had Daruttauhid serta ribuan jamaah Majlis Riyadlul Jannah. 
"Mulai dari mengajar hingga memberi tausiyah bukanlah hal mudah. Apalagi dengan jamaah yang tidak sedikit. Karenanya hal itu harus dilakukan dengan hati. Sehingga apa yang kita sampaikan bisa diterima dengan bijaksana," ujar Habib Taufik kepada Malang Post.
Ia mengungkapkan, mengajar selalu memberinya semangat luar biasa terutama dari umat Islam yang mau mengenal dan belajar lebih dalam tentang agamanya. Agama, lanjutnya, merupakan pondasi seseorang dalam menjalani sebuah kehidupan.
"Sebagai pengajar di Daruttauhid dengan para siswa atau pelajar, maka posisi habib sebagai ustadz, kakak dan teman dalam proses belajar," beber habib berusia 37 tahun ini.
Ia selalu menekankan pada pendidikan karakter, dengan begitu mentalitas siswa bisa terbangun tangguh. "Dari membangun mentalitas siswa saya ingin mereka siap menerima kajian-kajian yang lebih mendalam, dengan standar pendidikan dan akademik nasional," paparnya.
Sedangkan Majlis Riyadlul Jannah yang memiliki jamaah ribuan, ia sadar ada berbagai macam perbedaan latar belakang. Dengan begitu, ia mengupayakan pendampingan dan pelayanan  kepada jamaah dengan mengajarkan kajian dari literatur Islam klasik.
"Namun dengan prespektif yang humanis dan relevan, sehingga jamaah akan menerima dengan baik dan nantinya memiliki karakter muslim yang modern," imbuh habib kelahiran Semarang ini.
Baginya, memberikan tausiyah dan kajian di hadapan ribuan hingga puluhan ribu jamaah di Majlis Riyadlul Jannah selalu memberikan pengalaman paling berkesan. Jamaah ini, berasal dari latar belakang usia dan pendidikan yang berbeda. Dengan jamaah di atas 25 ribu, setiap kali ada majlis. Baik di Kota Malang atau luar kota, Habib Taufiq selalu mengingatkan jamaah untuk tertib lalu lintas. Pasalnya selalu ada saja jamaah yang tidak mengenakan helm dan membawa bendera untuk dikibar-kibarkan, yang malah berbahaya bagi dirinya dan pengendara lain di jalan. 
"Tertib lalu lintas. Itu yang selalu saya ingatkan saat jamaah akan menghadiri majlis. Karena keselamatan diri sendiri dan orang lain adalah yang utama," ungkapnya. 
Ia menambahkan, meminta jamaah yang membawa bendera agar tidak mengibarkannya saat berkendara juga sangat penting. Seringkali dianggap sepele, namun dapat merugikan banyak orang di jalan raya. "Jadi saya selalu tekankan kepada jamaah tentang hal sepele namun membawa dampak yang buruk. Jadi tidak hanya memberi kajian Sirah Nabi SAW dan fiqih. Tapi keselamatan juga penting," beber ayah dari Abdurahman dan Zahra ini.
Di sisi lain, pengalaman tak kalah menariknya, diceritakan Habib Taufiq saat ia memberikan tausiyah di bawah guyuran hujan deras dan hantaman angin kencang. Sehingga ada tenda yang porak poranda. Salah satunya terjadi saat majlis di Pujon, Kabupaten Malang dan Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan.
"Saat membawakan kegiatan sedang hujan angin. Namun saya dibuat takjub dengan jamaah yang bergeming dan tidak berpindah dari tempat duduk mereka. Padahal kondisi air menggenang dan hujan terus turun hingga acara selesai," kenangnya.
Dari banyaknya pengalaman yang dilaluinya bersama Majlis Riyadlul Jannah membuat hati Habib Taufiq semakin teguh untuk belajar, mengajar dan mengenal lebih dalam tentang Islam. Itu dilakukannya dengan terus membekali dirinya dengan ilmu dengan mengambil S2 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, untuk Hukum Perdata Islam. “Membekali diri dengan ilmu harus dilakukan terus menerus,” pungkasnya.(eri/han/habis)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...