Ikut Perbaiki Ranking di CISM, Pernah Diselamatkan Parasut Cadangan

Serka Fathoni atlet terjun payung usai latihan, berdiskusi dengan Serka Sutrisno rekannya yang juga atlet terjun payung.
 
Kisah Serka Fathoni, Penerjun Payung Andalan Indonesia
Jangan cepat menyerah, terus berlatih, agar target tercapai. Begitulah prinsip Serka Fathoni. Ia atlet terjun payung. Tak pernah putus asa, apalagi dalam menjalani olahraga yang ditekuninya itu. Hasilnya, ia langganan podium, baik event tingkat nasional maupun internasional.
Ia terakhir naik podium pada tahun 2018. Juara III beregu di event Manado International Open Parachuting Championship 2018, untuk kategori ketepatan mendarat. Sebelumnya, anggota Yonko 464 Paskhas, ini juga berhasil menyabet  juara I perorangan untuk event Manado International Open Parachuting Championship 2017.
"Sejak 2005, saya selalu ikut Manado International Open Parachuting Championship. Sejak 2010 selalu dapat juara, baik itu kelas beregu maupun perorangan," ungkap pria berusia 47 tahun ini.
Olahraga terjun payung sendiri ditekuni bapak dua anak ini sejak tahun 1995. Ketika itu, Fathoni ikut sekolah terjun payung di Bandung. Selama dua bulan, pria asal Jombang ini belajar teknik melakukan terjun free fall. Sebagai anggota Paskhas, ia wajib ikut sekolah terjun payung.
"Dua bulan sekolah, saya langsung dapat panggilan untuk menjadi atlet junior dari KONI Jatim. Tahun 1996 saya ikut PON di Jakarta," kata Fathoni yang mengaku saat itu usianya baru 25 tahun.
Ia dipilih mewakili Jatim pada ajang PON ke XIV tersebut lantaran saat itu Jatim sedang krisis atlet terjun payung.  Namun sayang di event bergengsi ini, Fathoni tak berhasil membawa pulang juara.
Kendati demikian, bukan berarti, semangat Fathoni kendor. Sebaliknya, ia kian semangat, untuk menekuni olahraga ini. Memanfaatkan waktu latihan terbang Pesawat Hercules atau Cassa, Fathoni pun terus berlatih, terjun payung.
"Karena kami tidak ada jadwal latihan khusus. Latihan kami ya saat ada latihan terbang pesawat di Lanud Abd Saleh, entah itu pesawat Hercules ataupun Cassa," tambah ayah dari Iqbal Maulana Salsabilla ini.
Dari keseriusannya berlatih itu pula, dengan penguasaan tehnik yang bagus, dia pun terpilih sebagai salah satu atlet terjun payung mewakili Indonesia dalam ajang Conseil International Du Sport Militaire (CISM) tahun 2013 di Solo. Dalam event bergengsi ini, Fathoni berusaha untuk sangat serius.
"CISM ini bukan kejuaraan, tapi latihan bersama, dengan anggota militer dari negara-negara lain, untuk memperbaiki ranking," kata Fathoni yang mengatakan tahun 2013 lalu, ada 53 negara yang ikut dalam event tersebut, dan Indonesia menduduki peringkat  ke 35.
Setahun kemudian, Fathoni kembali ikut. Even CISM yang digelar di Hungaria. Fathoni dan timnya berhasil menaikkan peringkat Indonesia menjadi  23.
"Tahun 2015 CISM di Korea Selatan, peringkat kami kembali naik untuk olahraga terjun payung, yaitu 18," kata juara II, turnamen terjun payung, KASAU Cup 2016.
Ikut CISM, peserta tak hanya harus mahir free fall, tapi juga wajib mahir Formation Skydive ( FS) atau membuat formasi di udara. Tim FS kata Fathoni berjumlah lima orang, dengan rincian empat pemain, satu perekam. Umumnya, para penerjun ini melakukan aksinya mulai dari ketinggian 8.000 feet.
Fathoni sendiri mengaku, meskipun usianya tak lagi muda, dia belum memiliki keinginan untuk pensiun dari olahraga terjun payung. Sebaliknya, dia ingin terus belajar.
Ditanya apakah tidak takut dengan olahraga ekstrem itu? Fathoni mengatakan, setiap orang pasti memiliki rasa takut. Tak terkecuali dirinya. Meskipun saat ini dia sudah mengantongi 3.659 jam terbang, tapi perasaan takut masih kerap muncul.
"Begitu pintu pesawat terbuka, jantung saya selalu berdebar-debar hingga sekarang.  Yang membuat saya yakin bisa melakukan, adalah karena saya sudah belajar," tambah suami dari Lilya Umlatul Fauzia ini.
Bahkan saat ini, parasut juga sudah memiliki kelebihan, yaitu dapat mengembang secara otomatis. Sehingga, itu mampu meredam ketakutannya.
"Begitu di ketinggian 1.000 feet parasut utama tak mengembang, kemudian alarm berbunyi. Jika ada rekan yang berdekatan, langsung menarik tali untuk parasut cadangan. Tapi kalau tidak parasut cadangan itu langsung secara otomatis mengembang pada ketinggian 750 feet,  jadi gak perlu khawatir," ungkapnya.
Sepanjang menekuni olahraga ini, Fathoni mengaku pernah ada kendala. Namun ia terjun dan selalu tepat sasaran. Pernah ada kendala, di mana parasut utama tak mengembang. Sekalipun sempat kaget dan was-was, Fathoni pun dapat menguasai dirinya. Dan di ketinggian 2000 meter, dia membuang payung utama, dan menggantinya dengan payung cadangan. Hasilnya, pria yang masuk TNI AU tahun 1993 ini berhasil mendarat dengan selamat dengan parasut cadangan.
Fathoni sendiri mengaku saat ini ia sedang sibuk mempersiapkan fisik dan mental untuk kejuaraan PON tahun 2020 mendatang. Ia berharap, di ajang PON nanti, berhasil juara, dan membawa nama harum KONI Jatim di kancah nasional.(ira/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :