Indra Lukmana Putra, Kolektor Jersey Match Worn Arema


Gerak kaki Indra Lukmana Putra begitu cepat memasuki Arema Official Store yang baru hari pertama buka. Indra mencermati jersey Arema FC yang bergantungan di sudut paling dalam store. Pandangannya jatuh pada beberapa jersey match worn (jersey bekas pemain, Red) era 2008 dan tampak sesekali berkomunikasi dengan pramuniaga store.
Suhe, begitu biasa dia disapa. Dia adalah salah satu kolektor jersey di Kota Malang, yang memiliki koleksi lebih 300 pieces dan hampir setengah di antaranya, adalah jersey original Singo Edan. Tak pelak, saat Arema membuka official store dan mengetahui adanya kabar ada beberapa match worn, dia bersemangat mendatangi Jalan Mayjend Panjaitan No 42 Malang.
Dia melihat detail patch dari jersey yang dia pegang. Lalu, dia juga sempat membuka handphone-nya, melihat foto di internet, yang menunjukkan model dari jersey yang sama. Sudah 14 tahun dia mulai mengoleksi jersey. Namun, dirinya baru intensif menjadi seorang kolektor, sekitar tiga tahun terakhir.
"Saya, suka jersey Arema terutama sejak tahun 2004. Jersey pertama saya adalah miliki Stanley Mamuaya," ujar Suhe, mengawali cerita.
Menurutnya dia, saat itu dia masih membeli jersey baru dari toko yang menjual jersey resmi Arema. Berbeda dengan sekarang, sebagai seorang kolektor, bukan hanya membeli jersey baru. Sebaliknya, dia memburu jersey bekas pemain, yang memiliki sejarah atau nilai tertentu.
"Lalu, saya juga ingat, punya jersey Arema yang diberi langsung oleh pemain, milik Roni Firmansyah. Pas masih era Bentoel," paparnya.
Pasca pemberian jersey dari Roni, dia juga mendapatkan jersey dari Patricio Morales, Richie Praavita Hari, hingga Pierre Njanka. Semua, dia dapat langsung dari pemain yang bersangkutan.
"Saya sebagai suporter, berusaha saja mengenal mereka. Namanya suporter, coba SKSD (sok kenal sok dekat). Eh, dapat jersey dari mereka. Kalau yang kenal dekat, mungkin sampai saat ini dengan Richie," jelas pria yang berdomisili di Dinoyo tersebut.
Kini, koleksi jersey-nya original khusus untuk Arema, sudah lebih dari 130-an. Sebagian besar match worn. Sedangkan koleksi lain di luar klub Arema, adalah klub luar negeri, yakni Inter Milan dan West Ham United.
"Saya membagi koleksi dalam tiga genre. Tetapi paling banyak tetap Arema, karena lebih mudah mendapatkannya," ungkapnya.
Pria berusia 29 tahun itu menyampaikan, koleksinya juga didapat dengan saling barter dengan sesama kolektor. Ada juga yang dia dapat dari agen pemain dan keluarga pemain. "Jadi buka rahasia ini. Biasa, ada yang menawari, lalu jika ada yang saya taksir, saya datangi," tambah dia.
Jika dihitung, uang puluhan juta dia keluarkan. Namun, Suhe enggan membahas berapa dana yang dia keluarkan. Harga jersey yang dia beli, mulai dari nol rupiah karena barter, sampai Rp  2 jutaan.
"Kadang sesama kolektor jersey Arema, saling barter juga. Tetapi, saya  punya yang paling mahal match worn milik Kurnia Meiga (Rp 2,5 juta, Red) saat melawan Persebaya di era Robert Alberts," sebut dia.
Lantas, dia berbagi cerita tentang beberapa jersey yang kini dia letakkan di salah satu sudut ruang rumahnya. Dulu, dia sempat ingin sekali memiliki jersey Joao Carlos. Ada rekannya yang memiliki jersey tersebut, ditambah pemain lain seperti Franco Hita dan Prastowo. Dia mencoba menawar untuk membeli jersey Joao.
"Tetapi saya rayu-rayu tidak bisa. Tidak diberikan. Saya coba ikhlas saja. Eh, tidak lama itu malah ada yang menawari match worn lima pemain. Selain Joao, ada Arif Suyono, Aris Budi , Putu Gede dan Sutaji. Rejeki ini bagi saya," terang dia.
Selain koleksi tersebut, sebagai pengidola Joao Carlos, dirinya juga bangga memiliki jersey dari pemain tersebut. Untuk koleksinya, dia juga tidak segan memakai untuk pertemuan dengan komunitas jersey. "Saya beruntung, terutama saat dapat match worn. Ya sudah saya pakai saja, kan tidak mungkin terus dipajang," ungkap bapak satu anak itu.
Beberapa kejadian 'beruntung' dalam mendapatkan jersey, membuat di berprinsip menjadi kolektor bukan untuk gaya atau banyak-banyakan koleksi. Tetapi, justru berbagi. Alhasil, ketika ada yang menginginkan koleksinya, dia akan melihat bagaimana keinginan dari kolektor lainnya.

Lantas, dia juga bercerita, jika menjadi kolektor, kini dia juga didukung oleh istrinya. Istrinya tidak mempermasalahkan dia berburu jersey, asal uang untuk keluarga aman. "Istilahnya, uang gincu istri saya juga aman. Bahkan, dia membantu transaksi, kalau saya beli dia yang transfer," tandas dia. (Stenly Rehardson/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :