Jamiludin, Tukang Tambal Ban Sekaligus Seniman Kecapi


Sekarang ini orang yang bisa memainkan alat musik kecapi tergolong langka. Begitu juga membuatnya. Orang langka itu adalah kakek Jamiludin (69 tahun) asal Dusun Krajan, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Dari tangannya lahir alat musik kecapi yang uniknya berasal dari bahan-bahan bekas.
Jamil sapaan kakek yang memiliki empat orang anak ini, tengah termangu menunggu pelanggan, ketika Malang Post mengunjunginya. Pelanggannya memang datang tak pasti. Jika datang pun sudah pasti pelanggan itu tengah apes. Karena pekerjaan Jamil adalah tukang tambal ban.
Namun, ia bukanlah tukang tambal ban biasa. Karena disela-sela menunggu pelanggan, Jamil memanfaatkan waktunya dengan membuat kecapi. Itu dilakukannya sejak tahun 1980, kurang lebih sudah ratusan kecapi yang telah dibuatnya.
"Selain membuat kecapi juga buat siter (sejenis kecapi dimainkan dengan dipetik.red) dan juga peking," ujar Jamil membuka ceritanya kepada Malang Post.
Kesenangannya bermain musik dan kesenian Jawa, diungkap suami dari Farida Andriyani ini sejak duduk di bangku sekolah dasar. Namun saat itu ia belum mengenal kecapi.
"Jadi dulu suka musik dan kesenian Jawa. Itupun bisa bermain musik dari belajar sendiri. Begitu juga dengan bermain kecapi," bebernya.
Jauh sebelum ia aktif bermain kecapi dan membuat kecapi berbagai pekerjaan ia lakoni. Seperti loper susu dan buruh tani. Barulah ia menjalankan profesi tetap sebagai tukang tambal ban dan perajin kecapi tahun 1980. Berkat kepiawaian bermain kecapi ia kerap di panggil sebagai pengiring bermain musik. Mulai dari hotel-hotel, tempat wisata dan juga Pemkot Batu.
Jika sedang padat agendanya, sebulan ia bisa manggung hingga lima kali. Saat tanggapan sepi, belum tentu satu bulan ia bisa manggung. Untuk pendapatan sebagai pengiring musik, ia bisa mengantongi uang Rp 100 ribu – Rp 150 ribu. Sementara dari ketrampilannya membuat kecapi, dalam sebulan ia bisa membuat 3 kecapi. Begitu juga dengan siter dan peking.
Yang menarik, alat musik yang dimainkan dengan dipetik tersebut dibuatnya dari bahan-bahan bekas. Di antaranya kayu bekas, kabel sling, kopling vespa, baut dan mur. Hasilnya tak kalah dengan kecapi buatan pabrik. Itu nampak dari irama kecapi yang dimainkannya dengan merdu.

Yang unik, Jamil mampu menghasilkan nada yang berbeda dari setiap petikan kecapinya. Padahal senar yang digunakan Jamil berbahan dasar kabel sling dan kopling vespa. Dengan ukuran yang berbeda-beda. Barnag itu, didapat dari penjual barang bekas dan dari barang bekas pelanggan yang memperbaiki motor.
Untuk nada tinggi menggunakan kabel sling ukuran mulai dari 0,5 mm hingga terbesar ukuran 2 mm untuk mendapatkan nada rendah. Selain itu, untuk mencari nada yang berbeda dari sekitar 20 senar juga dilakukan melalui pengatur kekencangan nada. Meski ada beberapa kabel sling yang berukuran sama.
Bahkan saat Malang Post menemui Jamil di tempat kerjanya. Ia sempat memainkan kecapi yang dibuatnya. Luar biasa, Jamil memainkan dengan sempurna dari setiap petikan yang mampu menghasilkan nada-nada indah.
Dari hasil kerajinan tersebut, untuk satu kecapi dan siter ia mampu menjual dengan harga Rp 400 ribu. Sedangkan peking dijualnya Rp 50 ribu tiap satuannya.
Apa yang dilakukannya tersebut, diungkap Jamil tentu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mengingat sebagai tukang tambal ban, dalam sehari bisa membawa uang Rp 50 ribu sudah sangat banyak.
Dari kesenian dan kerajinan yang ia geluti ini, mampu menutupi kekurangan di rumah. Setidaknya sebagai musisi, perajin dan tukang tambal ban dapur miliknya bisa ngebul dan anak-anak bisa sekolah.
"Alhamdulillah anak bisa sekolah semuanya. Meski haya lulus SMP. Tapi itu bukan jadi masalah. Karena yang terpenting sekarang mereka semuanya suda bekerja sendiri-sendiri," pungkasnya. (Kerisdianto/ary)

Berita Terkait