Kisah Edi Setiawan, Sang Penghayat Kepercayaan Sapta Darma Kota Batu


Sudah satu tahun lebih Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan penghayat kepercayaan di Indonesia, terkait Undang-Undang Administrasi Kependudukan pada November 2017 lalu. Sehingga masyarakat penghayat kepercayaan tak perlu lagi takut dengan adanya diskriminasi akan adanya status mereka.
Hal itu menjadi cerita tersendiri bagi beberapa orang penghayat kepercayaan di Kota Batu. Beberapa di antaranya adalah warga yang tergabung dalam Paguyuban Sapta Darma Kota Batu, Edi Setiawan dan istrinya Bibit Samini.
Mereka tinggal bersama enam orang di rumah sederhana. Selain pasangan suami istri Edi dan Bibit ada satu putrinya, dua cucu dan mertua Edi. Tepatnya di Jalan Kasiman, RT 2 RW 9 Kelurahan Ngaglik, Kecamatan/Kota Batu.
Edi, adalah orang yang memperjuangkan apa yang diyakininya dan dipercayainya. Yaitu sebagai penghayat kepercayaan Sapta Darma. Bahkan dirinya adalah orang yang pertama mengganti kolom kepercayaan di KTP miliknya. Yang awalnya beragama Islam, kemudian menjadi Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, pada tahun 2017.
Tentu tidak mudah mengganti kolom kepercayaan dalam KTP. Bahkan setelah MK memutuskan dan mengesahkan aturan tersebut. Namun juga tak jarang ada penolakan dari masyarakat di lingkup yang lebih luas dan dalam keluarga di lingkup yang lebih inti. Mulai tahun 2015 KK dan KTP kolom kepercayaan dikosongi dulu. Baru tahun 2017 setelah ada kebijakan dari MK baru diisi oleh Dispenduk. Ia sendiri mengurus hingga tahun 2015 dan baru bisa terisi status keyakinannya pada 2017.
"Saya mulai ikut sebagai penghayat kepercayaan Sapta Darma sejak tahun 1991. Tentu ada saja yang mengatakan bahwa saya pengikut aliran sesat ataupun yang lainnya. Begitu juga dari keluarga saya," ujar Edi membuka ceritanya kepada Malang Post.

Berita Terkait