Kisah Emak-Emak Kabinet Sego Bungkus Lawang

Tak berpikir lama, Nonie dan rekan-rekannya, yaitu Yulin Kristanti, Wiwik Wulandari, Anies Prasetyanti, dan Ririn Cahyaningayu pun langsung bergerak. Mereka mengumpulkan uang, untuk melakukan kegiatan yang sama seperti yang ada di foto yang dikirim oleh Anies.
”Saat uang sudah terkumpul, lebih dulu kami membuat etalasenya, sebagai tempat nasi,’’ tambah alumni SMPN 1 Lawang ini.
Etalase dibuat dengan ukuran 60 x 40 dengan tinggi 1 meter. Di bagian depan dilengkapi stiker dengan tulisan tempat nasi gratis.
”Stikernya dibuat besar, agar warga mengetahui, bahwa nasi di dalam sana adalah gratis,’’ ujarnya.
Setelah etalase jadi, launching pun dilakukan. Kali pertama komunitas ini menyediakan 20 nasi bungkus. Mereka tidak berani menyediakan banyak, karena takut tidak habis. Nasi bungkus yang disediakan pertama dari uang sisa donasi yang dikumpulkan para anggota komunitas.
Di luar dugaan, nasi yang disediakan langsung habis, dalam waktu tak lebih dari 15 menit. Dan inilah yang menjadikan semangat para anggota komunitas ini untuk terus menyediakan nasi bungkus.
”Awalnya yang menyediakan adalah anggota komunitas saja. Tapi kemudian, banyak warga yang kemudian ikut andil. Mereka langsung meletakkan nasi bungkusnya, untuk kemudian diambil oleh warga yang membutuhkan,’’ ucapnya.
Nonie mengatakan, kalau saat ini KSB hanya menerima nasi atau makanan saja untuk dibagikan. Kalaupun ada donatur yang menyumbangkan uang, maka uang itu juga diberikan nasi.
”Dulu saat awal-awal ada yang meletakkan rokok di etalase. Banyak yang ambil sebetulnya, rata-rata mengambil satu sampai dua batang. Namun sumbangan rokok itu kemudian kami hentikan, untuk kebaikan,’’ jelas wanita berjibab ini.
Apakah tidak khawatir dengan kondisi makanan, sumbangan dari warga? Nonie mengatakan tidak sama sekali. Itu karena sekalipun tidak membuat daftar penyumbang, namun mereka yang menjadi donatur nasi bungkus umumnya adalah warga sekitar Lawang.  
”Insya Allah, karena niatnya baik, makanan yang disumbangkan pun adalah makanan terbaik,’’ ungkapnya.
Apakah ada standar lauk pauk untuk nasi yang disumbangkan? Nonie menggelengkan kepala. Tapi yang jelas, dia dan komunitasnya berharap nasi yang disumbangkan adalah yang tahan lama atau tak mudah basi. Sehingga warga yang mengambil nasi tidak kecewa, dan kenyang tentunya. Warga yang mengambil tak dibatasi. Bahkan meskipun mereka adalah orang-orang mampu sekalipun, boleh mengambil nasi bungkus gratis tersebut.
”Prioritasnya memang warga tidak mampu. Tapi kalau ada warga yang berkecukupan juga mengambil juga tidak masalah,’’  ungkap istri dari Nanang Wahyudi ini.
Dia pun mengatakan, jumlah nasi bungkus yang terkumpul di etalase terus bertambah setiap hari. Bahkan jumlahnya sangat banyak, di hari Jumat. ”Kalau hari Jumat jumlah nasi bungkus bisa mencapai 200. Kami juga membagikan ke masjid-masjid terdekat,’’ bebernya.
Ke depan, Nonie dan kawan-kawannya berharap bisa menyediakan lebih banyak lagi nasi bungkus. Dia dan rekan-rekannya saat ini juga sedang melakukan pendataan terhadap warga tidak mampu, untuk kemudian diberi nasi bungkus setiap hari.
”Mereka yang berhak nasi bungkus setiap hari ini adalah warga yang betul-betul tidak mampu. Dan saat ini kami sedang melakukan pendataan,’’ tandasnya yang diamini oleh rekan-rekannya yang lain.(Ira Ravika/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :