Kisah Empat Sekawan Pemilik Warkop Brewok


Empat sekawan ini pernah diusir pemilik warung kopi karena nongkrong terlalu lama. Mereka adalah Linggar Ramawijaya, Oktafianza, Anas Abin Bahar serta Hero Shaghira. Sangat hobi nongkrong di warung kopi, hingga akhirnya memutuskan menjadikan hobinya sebagai ladang penghasilan. Kini mereka memiliki dua cabang warung kopi di Kota Malang!
Mereka melewati perjuangan panjang hingga menuai hasil yang menggembirakan. Bisnis itu sukses dalam status mereka yang masih mahasiswa. Mereka memang bertemu di bangku kuliah. Pemuda pertama, Linggar Ramawijaya lahir di Trenggalek, 17 Juli 1993, pernah menempuh pendidikan di Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komunikasi (Filkom) Universitas Brawijaya. Ia drop out kuliah dan kini tinggal di Jalan Poncowati.
Pemuda kedua, Oktafianza Putra asli kelahiran Malang pada 6 Oktober 1994. Tinggal di Perum Griya Shanta. Jurusan kuliahnya sama dengan Linggar, ia angkatan 2012.  Lalu ada Anas Abbin Bahar kelahiran Lumajang, 18 Agustus 1993. Ia kuliah angkatan 2012, namun drop out dari Sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM). Kini tinggal di Perum Joyogrand.
Pemuda terakhir adalah Hero Saghira lahir di Trenggalek pada 30 Januari 1995. Kini masih aktif menjadi mahasiswa jurusan Akuntansi UM. Ia angkatan 2013 dan sekarang tinggal di Kota Araya.
Mereka berempat adalah pemilik Warkop Brewok. Bisnisnya ini, setiap bulan bisa memberikan keuntungan lebih dari Rp 350 juta. Pendapatan ini tentu tidak sedikit bila dibandingkan dengan menu di kedainya yang hanya dibandrol kisaran Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu.
Salah satu founder Warkop Brewok, Linggar Ramawijaya, mengungkapkan, apa yang dicapainya saat ini bersama tiga rekannya tersebut tidak serta merta berjalan mulus. Banyak rintangan terutama di awal tercetusnya membangun bisnis yang terkendala dengan modal itu.
“Untuk mengumpulkan modal tersebut tidaklah mudah, kami harus merelakan barang pribadi kesayangan seperti merelakan menjual motor dan beberapa benda favorit lainnya,” ujar laki-laki yang akrab disapa Linggar ini.
Penjualan barang pribadi rupanya tidak cukup untuk menutupi modal membuka usaha. Sembari menunggu modal terkumpul dan mencari inspirasi, empat pemuda masih sering nongkrong di warung kopi.
“Kalau dulu kami sering nongkrong di warung kopi sampai pagi, pernah juga diusir oleh pemilik warungnya,” akunya sembari tersenyum.
Tujuan mereka nongkrong untuk observasi konsep dan ide untuk diaplikasikan dalam bisnisnya kelak, yang tentunya berbeda dari tempat lainnya. Dengan bantuan utang di salah satu bank, terkumpullah modal sebesar Rp 55 juta. Tepat di akhir tahun 2016 mereka memutuskan untuk menyewa sebuah rumah dengan harga sewa nyaris mencapai angka Rp 40 juta. Dengan sisa modal mereka membuat Warkop Brewok ala kadarnya terlebih dahulu sembari mengumpulkan uang untuk pengembangan.
“Nekat namun harus terukur, karena dalam berbisnis biar pun nekat tetap harus ada perhitungan,” terangnya.

Berita Terkait

Berita Lainnya :