Kisah Hidup Mantan Gengster Chairul Anwar Tembel


Pendeta pembantu (Pdp) Chairul Anwar alias Tembel, telah melalui lembah kegelapan dunia sejak kecil hingga dewasa. Bandar narkoba, perampok, penjambret, pembalap liar. Bahkan ia pernah menjadi gangster yang selalu membawa pistol ke mana-mana. Puluhan tahun, dunia hitam dia pilih sebagai kehidupan.
Namun, jalan hidupnya berubah 180 derajat, ketika dia menemukan cahaya di lubang terdalam kehampaan hidupnya. Saat ditemui Malang Post di Pulosari, Sabtu malam sebelum perayaan Paskah, Pdp Chairul Anwar atau yang akrab disapa Tembel menceritakan kisah perjalanan hidupnya yang sangat gila. Sebelum terpanggil dan terpilih untuk menjalani hidup sebagai seorang hamba dan pelayan, pria 51 tahun ini menyebut dirinya sebagai sampahnya sampah masyarakat.
“Sebelum terpanggil dan terpilih, saya ini dulu penjahatnya penjahat, nakalnya orang nakal, dan bajingannya orang bajingan,” kenang Tembel mengingat masa lalu kelamnya.
Lahir di Malang pada 1968, Tembel hidup sebatang kara. Dia tidak pernah tahu siapa ayah dan ibu kandungnya. Karena, setelah lahir, dia hidup di Bandulan, bersama keluarga angkat. Dia tidak pernah tahu kasih sayang, karena dia juga sering dianiaya dan dipukul oleh keluarga angkatnya.
Suatu saat, saat masih kecil, ketika tahu bahwa dia adalah anak pungut, Tembel memberontak. Dia dendam kepada ayah angkatnya dan bahkan berikrar akan membunuh ayah angkatnya ketika besar nanti.
Dia mulai terlibat kenakalan remaja. Dia tidak naik dua kali saat SD Bandulan 2, dan tidak naik dua kali saat SMP. Pada masa SMP dan SMA, dia berpindah-pindah sekolah sebanyak tujuh kali karena kegemarannya berkelahi. Dia merokok, mengganja, mengedarkan sabu dan ekstasi saat masih duduk di bangku SMP dan SMA.
Uang pun mengalir ke kantong Tembel. Dia semakin menjadi-jadi sebagai seorang pemuda yang tumbuh di dunia hitam yang keras dan tanpa kasih sayang.
“Saya juga mulai masuk motor balap liar waktu itu. Saya pernah menjadi juara Asia di bidang motor cross sekitar tahun 1990-an,” ujar Tembel.
Dia ditakuti di dunia motor cross kala itu, karena perangainya yang brutal dan tak segan melukai lawannya di lintasan dengan cara menyerempet motor rival. Tahun 1989, dia sempat merasakan bangku kuliah di Universitas Gajayana dan Universitas Merdeka Malang. Tapi, karena kehidupan di dunia hitam yang menyeretnya, Tembel dropout.
Dia meninggalkan pendidikan, sibuk menjadi bandar narkoba kelas kakap. Dia menjadi penyuplai utama peredaran di Malang. Sejak keluar dari bangku kuliah sampai memasuki millennium, Tembel pulang pergi Jakarta-Malang untuk mengirim narkoba.
“Saya cuma pulang sebentar di Malang, karena ngedrop narkoba, lalu balik lagi ke Jakarta,” tambahnya.
Pasca reformasi, tepatnya tahun 2002, Tembel tertangkap karena kasus narkotika di Kota Malang. Dia ditahan, menjalani hukuman di penjara lalu keluar. Setelah itu, dia memutuskan pergi ke Bali, dan terlibat jaringan narkoba yang lebih besar lagi. Tembel memiliki jaringan besar dari berbagai negara, dan melakukan begitu banyak kejahatan.
Uang miliaran rupiah dikantonginya. Setiap hari hidupnya penuh foya-foya, kemabukan dan wanita. Saat hidupnya terjerembab dalam lembah kelam terdalam, dia merasakan kehampaan dan kekosongan luar biasa dalam hatinya. Dia mengisap sabu, mabuk bahkan bermain wanita, namun tak bisa merasakan apa-apa.

Berita Terkait

Berita Lainnya :