Kisah Kampung Keroncong Woekir di Temas Kota Batu


Tak banyak anak muda yang menekuni keroncong. Karena musik jenis ini bisa disebut sebagai musik zaman old. Namun itu tidak berlaku bagi anak-anak muda di Kampung Wukir, Kelurahan Temas, Kecamatan/Kota Batu. Di Kampung Wukir, hampir separoh anak mudanya (usia rata-rata 25 tahun, red) menekuni kegiatan positif.
Salah satu kegiatan positif tersebut adalah membuat grup keroncong. Tak tanggung-tanggung, para penerus Gesang (maestro keroncong Indonesia, red) memiliki empat grup di satu kampung. Dengan jumlah anggotanya mencapai 36 personel.
Dari empat grup tersebut meliputi Keroncong Woekir 1. Menjadi grup keroncong pertama anak-anak muda dari Kampung Wukir dan berdiri sejak 27 Oktober tahun 2014. Kemudian setiap tahunnya bertambah satu grup hingga 2019 ini. Sehingga ada 4 grup keroncong hingga kini. Yakni Keroncong Woekir 1, 2, 3 dan 4.
Malang Post disambut ramah para personel Keroncong Woekir di base camp mereka Jalan Wukir, Kelurahan Temas, Kecamatan/Kota Batu. Mereka tengah membersihkan sejumlah beberapa alat musik, seperti cello, biola, gitar, ukulele, cakalele dan bass. Pasalnya dalam waktu dekat ini Keroncong Woekir bakal mengudara di RRI.
Aulia Ramadhan Arif dan Muhammad Ilham Zulkarnain, dua personel Keroncong Woekir yang menceritakan kisah berdirinya grup keroncong. Jelasnya, grup ini digawangi anak-anak muda dari berbagai latar belakang ini.
"Grup Keroncong Woekir ini terbentuknya karena keinginan dari dua teman kami. Yakni Fajar dan Rudi yang sebelumnya memiliki grup keroncong. Namun harus berhenti di tengah jalan karena alasan yang tak kami ketahui," ujar Zulkarnain.
Namun selang dua tahun. Tepatnya tahun 2014, mereka ingin membentuk kembali grup keroncong. Yang pada akhirnya terbentuklah beberapa orang personel. Sehingga terbentuklah Keroncong Woekir.
Para personel yang tergabung adalah Fajar Bramanto pada cello yang saat ini berdagang, Rudi Hartono pada biola dengan pekerjaan bertani, Aulia Ramadhan Arif pada gitar sebagai guru, Muhammad Yusak pada ukulele dan bekerja sebagai petani.
Kemudian ada Rio Oktaviano pada bass yang bekerja di bidang mebel dan Muhammad Ilham Zulkarnain pada cakalele yang keseharian sebagai guru dan bertani di waktu liburnya. Serta Dian Machruz Syaifudin sebagai vokal dengan pekerjaannya sebagai pedagang.
Mereka inilah yang masuk dalam grup Keroncong Woekir 1. Karena mereka adalah anak-anak muda pertama yang pada akhirnya mampu membentuk grup lainnya seperti Keroncong Woekir 2, 3, dan 4. Namun secara umum dan penyebutan sama. Yakni Keroncong Woekir.
"Untuk nama Keroncong Woekir sendiri mengambil dari lokasi atau base camp dan berdirinya grup ini. Yang memberi nama adalah orang tua Fajar. Yakni Dwi Widyastono alias Dodo dan Agustin Mayangsari alias Titin. Mereka berdua yang punya andil besar di grup ini," paparnya.
Ia menjelaskan, Dodo dan Titin dulunya juga pemain keroncong. Sehingga untuk alat musik dipinjami secara gratis. Baik untuk belajar hingga ikut parade atau perlombaan. Berdirinya Keroncong Woekir juga bukan tanpa alasan. Yaitu keinginan agar musik keroncong tetap lestari, digandrungi anak muda dan kemudian bergabung.
"Nah untuk mendekatkan keroncong pada anak muda. Dalam bermusik kami padukan dengan lagu-lagu pop dan dangdut. Harapannya anak-anak muda bisa menikmati dan akhirnya melestarikannya," ungkap laki-laki berusia 27 tahun ini.
Sementara untuk kiprah, diceritakan oleh Aulia bahwa Keroncong Woekir menilai dari festival di tingkat desa seperti bersih desa. Kemudian ikut perlombaan tingkat daerah hingga provinsi. Beberapa prestasi yang pernah diraih, di antaranya tahun 2017 dalam festival akustik se Malang Raya meraih juara 2 di Kota Batu. Lalu Juara 2 pada Parade Keroncong Jatim di Jombang. Lantas pada tahun 2018 Parade Keroncong Jatim di Jember sebagai penyaji terbaik ke dua dan ke lima.
Pada tahun 2018, grup ini juga juara 3 dalam Festival Rock di Kabupaten Malang. Peringkat ketiga diraih karena Keroncong Woekir berani membawakan genre yang berbeda dari festival yang digelar. Tak hanya prestasi, Keroncong Woekir juga telah membuat tiga buah lagu yang diciptakan sendiri. Beberapa lagu tersebut diberi judul 'Semesta' pada tahun 2016, 'KR. Titisan Melati' tahun 2017 dan 'Kidung Wukir' pada tahun yang sama 2017.
Kini, mereka berkomitmen untuk terus menghidupi keroncong. Mengingat di Malang Raya hanya ada empat grup yang digawangi oleh anak-anak muda. Berbeda jauh dengan para pendahulunya yang lebih banyak mencapai 20 grup keroncong.
Meski keroncong tak menjadi mata pencaharian mereka. Setiap tampil mereka bisa mendapat fee Rp 3 juta – Rp 6 juta. Dengan durasi antara 3-5 jam setiap tampil.
"Untuk rata-rata tampil sebulan bisa dua kali. Kalau lagi musim kawin bisa lebih dari tiga kali," imbuhnya dengan tertawa.
Dengan latar belakang yang berbeda-beda tersebut, para punggawa Keroncong Woekir ini ingin tetap di genre keroncong. Karena keroncong buat mereka adalah hiburan melepas penat dan ajang berkumpul bersama teman-teman.
"Jadi keroncong bagi kami bukan sebagai mata pencaharian. Kalau ada orang nanggap dan bayar itu bonus," pungkasnya.(Kerisdianto/ary)

Berita Terkait