Please disable your adblock and script blockers to view this page


Kisah Tiga Arek Malang Keliling Indonesia


Journey for humanity (perjalanan untuk kemanusiaan). Itulah yang menjadi tekad dari Tim Antar Titik, yang memulai perjalanan untuk berkeliling Indonesia Juli 2019 ini. Berangkat dari Malang, tiga anggota Antar Titik menuju Pulau Sumatera, dengan titik utama adalah Kota Sabang, sebagai awal catatan mereka menjelajah dan berbagi untuk dunia.
Tiga anggota Antar Titik, yang berangkat ke Pulau Sumatera adalah Lutfi Kurrahman, Agus Samsudin dan Muhammad Rizky Wahyu Utomo. Ketika Malang Post menghubungi mereka, rombongan yang berangkat menggunakan mobil modifikasi Suzuki Ignis ini tengah berada di Suku Anak Dalam, di Desa Medak, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Rencananya, mereka selama tiga minggu akan berada di Sumatera.
“Ini sebuah kolaborasi sosial dari Malang, untuk menjelajah dan berbagi untuk dunia. Kami ingin menunjukkan, kalau dari daerah, dari Malang pun bisa bermanfaat untuk dunia,” ujar M. Rizky Wahyu Utomo, salah satu anggota Antar Titik.
Pulau Sumatera menjadi destinasi pertama mereka. Setidaknya, akan ada 20 titik yang mereka singgahi. Baik itu sekolah atau komunitas. Utamanya, mereka akan berbagi buku, demi membuka ‘jendela dunia’ bagi siapapun yang bakal disinggahi tim Antar Titik.
“Dalam perhitungan kami, saat ini adalah 20 titik Sekolah Dasar dan Taman Baca Masyarakat. Kami akan membagikan buku yang sudah terkumpul,” papar dia.
Namun, itu adalah rencana Antar Titik. Pria dengan sapaan akrab Boncel itu mengatakan, rombongan akan berhenti, begitu melihat suatu tempat membutuhkan buku. Misalkan ada sekelompok anak kecil, yang tentu saja terlihat jauh dari kebiasaan membaca buku.
“Di Sumatera, banyak tempat yang jauh aksesnya untuk mendapatkan buku. Kami berhenti, berbagi. Kalau rencana, ya kisaran 20 tadi,” terangnya.
Lantas, mengapa mereka memilih Pulau Sumatera? Menurut dia, Antar Titik ingin melalui dengan 0. Indonesia, angka 0 dianggap berada di Sabang, kota paling ujung barat di Indonesia. “Ya walaupun kami tidak memulai berbagi langsung dari Sabang, tetapi kami harus melewati kota itu,” imbuh Boncel.
Pria yang bekerja sebagai MC tersebut menceritakan, dalam awal-awal perjalanan pun sudah banyak cerita. Seperti ketika di Suku Anak Dalam, di Musi Banyuasin (Muba). Mereka nyaris tenggelam, ketika menyeberang menuju lokasi.
Kisahnya, perahu yang ditumpangi bocor. Air masuk ke dalam perahu kecil yang mereka tumpangi. “Kami berlima, perahu sampai miring. Tadi sempat berusaha menyeimbangkan perahu, membuang air yang masuk juga,” tuturnya.
Tim Antar Titik menyadari, kisahnya bakal lebih banyak lagi. Baik itu suka atau duka. Akan tetapi, begitu misi mereka bertemu dengan anak-anak, berbagi buku dan sejenak mengajak mereka bersenda gurau, rasa takut sebelumnya langsung sirna.
“Kami malah mau bertahan selama dua malam di Suku Anak Dalam. Kami mau belajar budaya mereka, kehidupan sosial mereka,” sambung Lutfi Kurrahman, salah satu anggota yang merupakan inisiator Antar Titik.
Menurutnya, mental mereka benar-benar diuji untuk bisa mewujudkan semua misi tersebut. Tak terkecuali dirinya, yang harus meninggalkan keluarga, yakni anak dan istrinya. Lutfi, harus meninggalkan tiga anaknya, salah satunya masih berusia tiga bulan.
“Lalu ketika ingat lagi dengan keinginan bisa berbagi, belajar bermacam budaya, semangat pasti muncul lagi,” sebut pria pemilik Pro Mobile, bengkel perbaikan dan perawatan mobil di kawasan Tunggulwulung tersebut.
Lutfi lantas menjelaskan, bagaimana persiapan mereka hingga akhirnya telah memulai perjalanan ini. Mobil modifikasi miliknya yang pernah dia ikutkan untuk perlombaan, akhirnya menjadi armada untuk berkeliling Sumatera. Mobil Suzuki Ignis itu, telah mendapatkan banyak modifikasi. Mulai dari header, knalpot, roda, hingga ditingkatkan tenaganya sampai 30 persen. Selain itu, dia menambah wings (sayap) di sisi kiri dan kanan bodi mobil.
“Karena mobilnya kecil, dan bodinya sekarang dibuat lebih tinggi, jalannya lebih lemot. Makanya tenaganya harus ditingkatkan lagi. Lalu, untuk keamanan bila nanti melewati medan berlumpur, kami pasang sayap, nanti kalau terjadi hal yang tidak diinginkan seperti terperosok, tinggal menarik di bagian sayap itu,” terangnya.
Lutfi sudah mengantisipasi, dan menjadikan mobilnya siap off road. Body dari mobil benar-benar disesuaikan untuk melewati berbagai medan. “Kebetulan saya juga punya bengkel sendiri, jadi mengerti untuk modifikasinya,” tambah dia.
Mobil yang ditumpangi bertiga ini pun berisi berbagai macam kebutuhan mereka. Mulai dari pakaian, peralatan darurat jika harus berkemah di hutan hingga bahan makanan seperti Indomie. “Pas awal berangkat, beberapa ada di atas, kami pasang rak. Di dalam mobil ada beberapa dus buku,” sebut Lutfi.
Ia menyampaikan, untuk perjalanan kali ini mereka menyiapkan biaya sekitar Rp 20 juta sampai Rp 25 juta. Hanya untuk biaya pribadi. Misalkan untuk BBM, ganti oli dan biaya makan. Sedangkan biaya buku, di luar dari itu.
“Kalau buku, ada yang berdonasi. Baik berupa buku atau uang. Di beberapa kota yang kami lewati, kami juga berbelanja buku. Ada toko buku juga yang memberikan voucher,” tambahnya.
Sementara itu, dia mengatakan, usai dari Sumatera, mereka bakal mempersiapkan diri untuk ke Kalimantan. Namun, waktunya mereka masih memperhitungkan lagi. Termasuk personel yang akan berangkat.
“Kami ada sekitar 10 personel yang aktif. Nanti, rencananya kami akan ke Kalimantan, dan berlanjut ke perbatasan Malaysia dan Brunai. Kebetulan, saya baru dapat konfirmasi, carnet mobile (paspor khusus mobile lintas negara), sudah jadi,” pungkas dia.(Stenly Rehardson/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :