Please disable your adblock and script blockers to view this page


Kisah Tim FFW Universitas Brawijaya Berjaya di Jepang


Ada pepatah mengatakan apa yang menjadi sampah seseorang bisa menjadi harta karun bagi orang lain. Pepatah inilah yang diamalkan sekelompok mahasiswa-mahasiswi tim Feed From Waste (FFW) Universitas Brawijaya Malang. Mereka mengolah limbah eceng gondok menjadi sebuah harta karun berharga nan bermanfaat.
Melalui penelitian cukup lama, mereka menyulap limbah eceng gondok, tanaman air yang dianggap tidak berguna. Limbah ini menjadi panganan ternak alternatif. Hasilnya dapat menjadi solusi masalah peternak di Indonesia. Temuan itu dihasilkan oleh para mahasiswa yang serius dalam penelitian.
Para penelitinya Moh. Mario Alvin Supandhi, Rahma Andita Desi Pramesti, Nur Wasiatil Chairiyah, Graziela Putri Destamara, Dandy Fajar Mahendra, Taufik Hidayat Soesilo, Try Probo Ardiyansyah dan Lilin Putri Jasmine. Delapan mahasiswa UB dari fakultas berbeda ini, memberi nama produknya Silace.
Silace belum lama ini berhasil menyabet Gold Medal Bio Technology di ajang Japan Design Idea and Invention Expo (JDIE) 2019. Silace pada dasarnya adalah produk pakan ternak yang memanfaatkan eceng gondok sebagai bahan dasarnya. Padahal, selama ini eceng gondok dianggap sebagai limbah. Bahkan, kehadiran tanaman  ini disebut sebagai tanda jika air di wilayah tersebut sudah tercemar.
Rahma Andita, salah satu anggota tim menjelaskan prosesnya. Pertama bahan dasar, yakni eceng gondok dipotong kecil-kecil terlebih dahulu. Bahan tersebut kemudian dicampur rumen atau kotoran yang ada pada perut sapi. Setelah itu ditambahkan dengan molasses atau nutrisi tambahan. Setelah itu dilakukan proses anaerob atau fermentasi di tempat tertutup tanpa udara selama tiga pekan.
”Kalau rumen kami minta ke kantor Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang di Gadang,” kata mahasiswi asal Sukun, Kota Malang ini.
Ia ditemani beberapa anggota tim lainnya bertemu dengan Malang Post.  Menurutnya, produknya makanan hewan ternak yang disukai banyak hewan ternak, seperti sapi. Itu karena mudah dicerna. Diyakininya, ini bisa mengatasi permasalahan peternak yang kesulitan mendapatkan rumput saat musim panas,
Lantas bagaimana kemudian penelitian mereka bisa dibawa ke ajang di Jepang? Semua bermula saat Ria–sapaan akrab Nur Wasiatil Chairiyah–diajak Mario, dua anggota lainnya di tim ini, untuk ikut lomba JDIE 2019 di Jepang. Lomba yang dilaksanakan The World Invention Intellectual Property Association (WIIPA). Di sinilah, mereka sepakat membentuk sebuah tim.
Hanya, saja, tim dirasa kurang personel sehingga membutuhkan bantuan mahasiswa lain dari disiplin ilmu masing-masing. ”Saya ajak Dandy, terus ajak yang lain sampai lengkap delapan orang,” kata Ria, menyambung Dita saat menceritakan awal mula pembentukan tim.
Mahasiswi semester 5 Fakultas Kedokteran UB ini meneruskan, ide soal inovasi bio teknologi, awalnya datang dari Mario. Malah, Mario bersama dirinya sempat ingin mengikutkan makalah tersebut dalam event lain di Shanghai. Hanya, karena waktunya mepet, akhirnya mereka mendapat informasi lomba di Jepang.
”Sebelumnya, Mario memang punya ide, tapi kami secara tim melengkapi penelitian dan proses penyempurnaannya,” terang mahasiswi kelahiran 1999 itu. Maret lalu, mereka kemudian mendaftarkan abstrak ide tim FFW.
Rupanya, panitia WIIPA melirik inovasi yang dibawakan delapan mahasiswa UB ini. Dua pekan pasca mengirim abstrak, panitia mengirimkan pemberitahuan kalau mereka dinyatakan lolos. Mereka pun langsung membayangkan datang ke Tokyo Bay Ariake Washington Hotel, tempat acara diselenggarakannya acara, pada 15–17 Juni lalu.
Anggota tim lainnya, Taufik Hidayat Soesilo menjelaskan inovasi pakan ternak dengan eceng gondok ini merupakan kali pertama di dunia. Karena selama ini, eceng gondok dianggap tidak cocok untuk pakan ternak. Eceng gondok, kata dia, hanya biasa dimanfaatkan menjadi pupuk.
Meski begitu, delapan mahasiswa tersebut harus melewati jalan terjal pada proses lomba. Taufik misalnya, dia sempat tidak diizinkan ikut lomba ke Jepang oleh rekannya di sesama jurusan. Sebab, dia juga tergabung dalam tim untuk lomba lain di tingkat nasional.
”Sempat juga cekcok karena ngotot saya bisa ikut dua-duanya. Dan akhirnya saya dibolehkan, tapi tetap fokus untuk lomba yang satunya,” cerita singkat mahasiswa semester 5 Fakultas Teknik UB ini menutup perbincangan.(Sisca Angelina/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :