Kolektor Kelas Dunia, Ingin Bangun Museum Louis Vuitton di Batu


Banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan pula untuk mencatatkan nama besar di Indonesia, meski sebelumnya meninggalkan jalan lapang yang dilaluinya. Hal itulah yang dilakukan Lia Candrasari, Arek Malang, artis yang memutuskan mundur dari dunia entertainment. Kini, dia justru dikenal sebagai salah satu kolektor barang prestige nan branded, Louis Vuitton (LV). Bahkan, dia mendapatkan apresiasi dari LV dengan beroleh kesempatan mengikuti pameran LV bersama para kolektor dunia.
Nama Lia Candrasari cukup memiliki nama di dunia entertainment Indonesia di tahun 2000an. Namun, secara mengejutkan dia mengundurkan diri dari dunia seni peran ketika namanya melambung. Selain wira-wiri sebagai model iklan, Lia dulu juga dikenal melalui film Bangsal 13 ketika dia berperan sebagai suster. Di 2006, dia memutuskan mundur dari dunia artis dan memilih menjadi pengusaha.
Lia membuat keputusan itu karena ingin mendapatkan kesempatan berkumpul bersama anaknya lebih lama. Dia merasa sedih, ketika memerankan film, sinetron atau iklan, ia justru lebih banyak bercengkerama dengan anak orang lain, sementara anaknya sendiri terabaikan.
Ia lalu konsentrasi untuk membesarkan perusahaan tambangnya. Dan saat itulah dia mulai intens menambah koleksi barang fashion mewah miliknya, terutama LV. "Sebenarnya, (mulai koleksi) bukan dari 2006 saja. Selain itu bukan hanya LV. Saya suka dengan barang-barang yang memiliki nilai," ujar dia, mengawali cerita.
Menurut Lia, prinsip dia dalam membeli barang, harus bisa dijual lagi. Tidak hanya prestige, tetapi juga memiliki nilai investasi. Lantas dia melihat, brand LV yang memiliki informasi lengkap. Atas dasar kelengkapan tersebut, dia dominan memberi produk merek LV.
"Kalau informasi mudah didapat, sejarahnya lengkap, pasti brand ini dipercaya. Informasi itu sebuah value bagi saya," tutur Lia.
Ia mengatakan, dalam mengumpulkan produk, juga tidak menggebu-gebu. Ibu dua anak ini membeli ketika memiliki dana yang lebih. Namun jangan salah, jumlah koleksinya untuk LV saja sudah mencapai ratusan.
"Saya sampai lupa berapa jumlahnya. Saya jarang menghitung jumlah. Selain itu, koleksinya kan ada yang lain juga," papar dia.
Harga pun demikian, dia tidak mau mengingatnya. Entah itu harganya setara sepeda motor, bahkan sampai seharga rumah. Bahkan, dia mengakui ada koleksi yang mencapai miliaran, yang bisa saja digunakan untuk menyelamatkan perusahaannya.
"Pernah kejadian, saat kondisi sedang susah, saya jual koleksi saya. Tetapi bukan koleksi LV. Ya, ini harus saya lakukan untuk perusahaan saya," beber dia kepada Malang Post.

Berita Terkait