Kombes Polisi Asli Malang Kibarkan Bendera d’Kross Di Ketinggian 12 Ribu Kaki


Band d’Kross menggelar sayembara untuk memberi judul lagu baru yang sudah siap dipublikasikan kepada Aremania. Dkross juga membuat cuplikan video klip lagu yang judulnya masih dilombakan itu. Dalam cuplikan video klip, Kombes Pol Almas Widodo Kolopaking, Arek Bunul, terbang di atas ketinggian 12 ribu kaki sebelum mengibarkan bendera Dkross.
“Disini, kita trus bernyanyi. Disini, kan tetap berdiri. Suara kita, dari dasar hati. Tak akan, pernah terhenti. Demi sebuah kejayaan Singkirkan, semua perbedaan. Demi sebuah kehormatan. Semua, kita bersaudara. Tak kan pernah menyerah. Kita selalu bersama. Tak kan pernah terpisah. Karena kita saudara. Kita selalu ada. Dalam suka dan duka. Tuk Arema”
Begitulah kira-kira, petikan lirik lagu yang sudah diproduksi oleh d’Kross, komunitas musik asli Malang yang dimotori oleh Ade Herawanto. Lagu yang sudah siap dirilis sebagai anthem Arema, kini sedang dalam proses sayembara. Aremania dan Aremanita dari penjuru jagad raya, memberi sumbangsih ide untuk memberi judul lagu ini.
Namun, selain lagu anthem, proses pembuatan video klip lagu ini juga mbois. Karena, pembina d’Kross, Kombes Pol Almas Widodo Kolopaking, Kapusdik Brimob Polri Watukosek, ikut terlibat dalam proses pembuatan video klip. Wiwid, sapaan akrabnya, free fall atau terjun bebas, sembari mengibarkan bendera d’Kross di ketinggian 12 ribu kaki.
Kepada Malang Post, Wiwid mengungkapkan bahwa proses syuting pengibaran bendera d’Kross ini terjadi pada pekan terakhir ramadan. “Dalam proses pembuatan lagu, kami ada ide untuk mengibarkan bendera d’Kross di atas ketinggian ribuan kaki. Penerbangan pertama, dilakukan H-5 sebelum lebaran,” kata Wiwid.
Selain Wiwid yang berasal dari Pusdik Brimob, perekaman video klip ini juga melibatkan Komando Pasukan Katak, Marinir, pensiunan Paskas, Gegana Mabes Polri, Gegana Brimob Kelapa Dua serta warga sipil dan Angkatan Darat. Tim sejumlah 13 orang ini, terbang dari Bandara Juanda dengan pesawat CN 235, dari Skadron Udara 600 Angkatan Laut.
“Setelah tiba di udara ketinggian 12 ribu kaki, kami terjun. Saya lalu membuka bendera. Tapi, karena benderanya terlalu berat, akhirnya munting di atas ketinggian ini. Untuk penerbangan yang pertama, kami belum bisa merekam gambar yang bagus untuk bendera d’Kross,” ujar Wiwid yang juga asal Bunulrejo Kota Malang itu.
Setelah ini, Wiwid langsung memesan sebuah bendera yang biasa digunakan untuk terjun bebas. Bendera ini, lalu dipasangi logo d’Kross, dan dibawa lagi ke atas pada H-2 sebelum lebaran. Wiwid merinci, bendera ini lebih enteng, dan ukurannya pas untuk dikibarkan saat terjun bebas di ketinggian ribuan kaki.
“Kami memakai payung Mamba 150 aerodyne yang biasa digunakan untuk terbang cepat. Dari ketinggian 12 ribu kaki, kami terjun, lalu mengibarkan bendera d’Kross di ketinggian tersebut. Pengibaran ini sukses. Kami baru buka payung pada ketinggian 5000 kaki,” ujar perwira polisi yang kental dengan logat Malangan saat wawancara dengan Malang Post ini.

Berita Terkait

Berita Lainnya :