Langsung Datang ke Lokasi Pengungsian Agar Bantuan Tepat Sasaran


SELAMA dua hari, tim Malang Post mengirim bantuan untuk korban bencana di Palu, Sigi dan Donggala. Bantuan dari pembaca ini disampaikan kepada korban gempa dan tsunami yang terjadi 28 September 2018 lalu. Mereka masih butuh banyak bantuan. Tak mudah membagi bantuan di sana. Berikut catatan Buari selaku koordinator penggalangan donasi di Malang Post.
Pasca gempa dan tsunami yang terjadi tiga bulan lalu, aktivitas masyarakat Palu dan sekitarnya sudah terlihat kembali. Namun masih banyak warga yang harus tinggal di pengungsian. Menyusul kondisi rumah mereka yang hancur, baik yang diguncang gempa maupun diterjang tsunami. Termasuk para korban likuifaksi, tanah gerak dan ambles.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Malang Post sebelum kirim bantuan, banyak titik pengungsian di Palu, Sigi dan Donggala. Tidak mungkin ribuan pengungsi yang tersebar di banyak tempat ini bisa tercover dari bantuan pembaca Malang Post. Total donasinya adalah Rp 119 juta, yang dirupakan dalam bentuk fresh money dan barang sesuai kebutuhan pengungsi.
 “Sudah tepat jika Malang Post menerima donasi bantuan dalam bentuk uang, karena dalam bentuk barang yang masuk untuk bantuan, prosesnya agak ribet. Bantuan dari pembaca Malang Post ini sebaiknya dikirim langsung ke lokasi pengungsian, biar tepat sasaran,” ungkap Roni, redaktur Radar Sulteng yang ditemui tim Malang Post di Graha Pena Radar Sulteng.
Menurutnya, saat ini tidak mudah untuk menentukan pihak-pihak yang bisa dipercaya dalam proses penyaluran bantuan di Palu dan sekitarnya. Apalagi sebelumnya beredar kabar adanya bantuan berupa rendang dari Pemda Sumatera Barat yang tak sampai ke pengungsi.
“Baunya rendang itu saja kita tidak tahu,”sebut Roni perihal kabar rendang itu.
Untuk itu, Malang Post pilih untuk mengirim langsung ke beberapa tempat pengungsian. Meski juga harus pilih lokasi yang tepat. Lantaran beberapa tempat pengungsian, khususnya yang sudah ada hunian sementara, tercukupi dari sebuah lembaga bantuan. Meski fakta di lapangan, beberapa bantuan yang dititipkan tersebut tidak semuanya merata ke pengungsi.
 “Kondisinya memang sulit, ada juga pengungsi yang tinggal di hunian sementara itu tidak kebagian bantuan. Bisa jadi koordinator atau perangkat yang dipercaya untuk membagikan bantuan, lebih mendahulukan saudara-saudara mereka, sehingga kadang ada pengungsi yang tidak dapat bagian,” sebut Indra, relawan bencana yang membantu Malang Post
Bahkan ada satu daerah yang dikenal sulit bekerjasama dalam proses pembagian bantuan. Lantaran begitu ada bantuan datang, sekelompok orang menghadang dan menurunkan paksa bantuan tersebut. Kondisi seperti ini yang jadi pertimbangan Malang Post harus pilih lokasi yang tepat, agar bantuan diterima lokasi dengan baik dan tertib.
Usai menyampaikan bantuan di Posko Madinah 517 yaitu di tempat Habib Sholeh Rotan, tim Malang Post bergerak ke beberapa lokasi pengungsian. Diantaranya pengungsian di daerah STQ Palu. Malang Post beruntung, di lokasi ini ada koordinatornya yang kooperatif. Menerima bantuan dengan baik. Mengaku saat ini kesulitan air bersih, dan biasanya harus membeli untuk minum.
Selain menyerahkan beras, kasur, sarung dan lampu tenaga surya, Malang Post menyerahkan uang untuk mereka bisa membeli air bersih. Penyerahan barang dan uang ini dilakukan secara terbuka dengan disaksikan beberapa keluarga yang tinggal di tenda pengungsian. Berharap barang dan uang tersebut benar-benar terpakai sesuai kebutuhan bersama. Berikutnya, sedikit kendala kami hadapi di lokasi pengungsian di daerah Lagaruttu, tepatnya di lapangan Dayadora.

Berita Lainnya :