Please disable your adblock and script blockers to view this page


Langsung Datang ke Lokasi Pengungsian Agar Bantuan Tepat Sasaran

Malang Post tak menemui koordinatornya, sehingga proses penyaluran tak bisa maksimal. Padahal di tempat ini infonya ada beberapa bayi yang baru lahir dan kondisi tendanya mulai rusak. "Jumlahnya banyak, kalau mau bagi bantuan, bisa disegerakan, sebelum datang semua, dan biasanya ada yang telepon ke saudaranya di luar," ungkap seorang pengungsi yang baru keluar dari tendanya begitu kami datang di lokasi lapangan.
Ternyata benar. Dalam proses pendataan, tiba-tiba warga sudah berkerumun di sekitar pick-up yang mengangkut bantuan yang telah disiapkan. Bahkan tak selang berapa lama, datang juga beberapa warga yang mengendarai sepeda motor juga. Pembagian bantuan mulai tidak teratur, bahkan ada ibu-ibu yang mengambil kasur sendiri di atas pick-up, lebih dari satu.
Akhirnya diputuskan pembagian di tempat tersebut kami hentikan. Dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tak diinginkan, kami berpindah ke lokasi lain. Selanjutnya kami bergerak ke Kabupaten Sigi yang banyak ditemui rumah hancur karena gempa.
Ada beberapa huntara (hunian sementara) di Sigi. Namun kami prioritaskan untuk langsung ke beberapa rumah warga yang terdampak bencana. Kami jumpai dari jalan besar, spanduk yang bertuliskan permohonan bantuan. Kami masuk ke jalan kecil, dan memang banyak tenda yang dibangun warga di depan rumah mereka yang hancur. Bantuan kami sampaikan langsung kepada mereka yang membutuhkan. Tanpa berebut. Beberapa keluarga berkumpul dan menerima bantuan dari pembaca Malang Post ini.
Berikutnya kami juga mendatangi sebuah Huntara, yang ternyata penghuninya belum menerima bantuan sejak tinggal di huntara. "Sejak kami tinggal di huntara ini, pihak yang bangunkan kami ini tidak ada bantuan apa-apa lagi sampai sekarang," ungkap pengungsi ini kepada Malang Post. Artinya, pihak yang membangun huntara memang hanya bantu membangun hunian sementara yang jumlahnya ada 20 unit tersebut. Namun untuk bantuan lain seperti sembako, rupanya belum ada.
Melanjutkan pengiriman bantuan, kami pilih Kamp Terpadu Jono Oge Kabupaten Sigi yang dikelola oleh PMI. Ada ribuan pengungsi yang tinggal di tenda-tenda. Lebih tertib dalam adminitrasi penerimaan bantuan, memudahkan kami dalam menyalurkan bantuan. Tercatat resmi di posko bantuan, ada laporannya yang terpapang di depan. Bisa dilihat oleh warga yang tinggal. Distribusi bantuan yang datang pun tampak lebih teratur. Untuk itu semua beras, kasur, sabun dan sarung yang tersisa kami turunkan semua. Termasuk sedikit uang juga kami sampaikan untuk bisa membeli kebutuhan lain. "Terimakasih untuk Malang Post dan pembaca Malang Post atas bantuannya ini," ungkap petugas posko bantuan sebelum kami melanjutkan ke lokasi lain.(Buari/ary/bersambung)

Berita Lainnya :