Mahasiswi UM yang juga Santriwati Sabilurrosyad Gasek


Malang Post, Status sebagai Santri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek, Malang dengan bermacam aktiVitasnya tidak menyurutkan semangat Himmatul Ulya Alfaratri Syachofina untuk mengikuti beberapa organisasi di kampus. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang (UM) ini bahkan tetap bisa berkarya.
Hebatnya, ia juga menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Di 2018 saja, gadis kelahiran 18 April 1996 ini telah menulis  dua Program Kreativitas Mahasiswa sekaligus. Selama menunggu pengumuman dari Pimnas yang cukup memakan waktu, mahasiswa semester akhir ini meluangkan waktu, tenaga dan biayanya untuk mengikuti ajang bergengsi di Negeri Jiran, Malaysia. Mahasiswi asal Jember ini pun mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Bersama tiga anggotanya yang tergabung dalam satu tim, menjadi satu-satunya tim dari UM bersama empat tim lainnya dari Kota Malang yang mengikuti ajang tersebut. Penelitiannya tentang metode pembelajaran paperless berhasil meraih Medal Gold cabang lomba ”Event C: Teaching Methode”. Acara bertajuk Exhibition and Competition Crown I-Dea 2018 tersebut diselenggarakan oleh Universiti Teknologi Mara (UiTM) Perlis, Malaysia.
Pencapaiannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rintangan dan kendala terbesar yang ditemui, salah satunya masalah pendanaan. Namun pada akhirnya, timnya sukses bersaing dengan 199 tim hebat lainnya dari tujuh negara berbeda. Seperti India, Sri Lanka, Australia, Tunisia, Thailand, Maroko, Malaysia dan juga tim-tim lain dari Indonesia.
Penelitian berkonsep metode pembelajaran assesment formative yang menggunakan web go formative ini sebetulnya telah lolos Pimnas pada tahun lalu. ”Pada ajang di Malaysia kemarin itu kami lolos dan berkesempatan memperkenalkan tentang assesment formative. Karena tidak semua orang pendidikan kan mengerti,” kata Ratri, sapaan akrabnya.
Persiapan mengikuti lomba dilakukan cukup singkat. Bahkan, Ratri berjuang lebih untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggrisnya. Pasalnya, semua produk penelitian maupun presentasinya menggunakan Bahasa Inggris. Semua proses dan pencapaian yang diraih, menurutnya merupakan pengalaman luar biasa. Apalagi ia dan teman nya belum pernah menjejakkan kaki ke luar negeri.
Ratri menceritakan, aktivitasnya yang sangat padat baik di kampus maupun di pondok tidak begitu mengganggu persiapannya. Kuncinya, ia harus pandai membagi waktu. ”Ikut lomba bukan jadi alasan buat gak ikut kegiatan pondok atau meninggalkan kewajiban sebagai santri,” terang Ratri.
Setelah menang ajang tersebut, Ratri mengharapkan hasil penelitiannya bisa lebih dikenal oleh banyak orang. Keikutsertaannya dalam ajang seperti ini juga ia harapkan dapat memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. ”Pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah bagus, tetapi yang kurang adalah tidak adanya pendampingan di setiap siswa. Tidak seperti di Amerika yang slogannya no child left behind. Semoga penelitian kami bisa bermanfaat,” tutupnya. (mg6/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :