Mengenal Mohammad “Pacho” Aminudin, Darah Biru Arema


"Kate dadi opo wong Malang lek gak dadi Aremania (Mau jadi apa orang Malang kalau tidak jadi Aremania)."

Penggalan kalimat tersebut adalah dialog khas yang diucapkan oleh Pacho, dalam film karya asli Arek Malang. Kalimat itu ada di Film  Darah Biru Arema (DBA) 1 dan DBA 2 yang bertitelkan Satu Jiwa Untuk Indonesia. Siapakah sosok Pacho sebenarnya dan seperti apa keterlibatannya dalam film yang kali ini sudah tembus bioskop tersebut?
Ya, pemeran Pacho bernama asli Mohammad Aminudin. Pacho adalah salah satu talent yang tergabung dalam film DBA 1 maupun DBA 2. Dia merupakan pemeran utama yang mengisahkan sebagai seorang anak Malang, yang suka dengan Arema. Dengan dialek yang khas Malangan, Pacho berhasil membuat film DBA identik dengan dirinya. Di DBA 1, kalimat Pacho diucapkan kepada ibunya, sehingga ada tambahan kata Mak. Di DBA 2, kalimat itu ia ucapkan ke temannya bernama Erik.
Pada film yang disutradarai oleh Taufan Agustyan itu, Amin, begitu nama dia akrab disapa, berperan ganda. Terutama di DBA 2, dirinya merangkap menjadi asisten sutradara. Amin bertugas menjadi astrada talent, membantu mencari talent untuk film yang berdurasi 110 menit tersebut.
" Saya ikut terlibat dalam casting, lalu mencari mana karakter yang pas untuk para pemeran di DBA 2," ungkapnya.
Dia terlibat dalam mencari pemain berdasarkan hasil casting. Menurutnya, dia harus menyeleksi calon talent yang beraneka ragam. Ada yang berbakat tapi tidak terlatih, ada yang semangat tetapi tidak berbakat.
"Menilainya mungkin sulit. Tetapi saya jadikan kriteria yang sudah ditetapkan saja untuk menjadi patokan," papar dia.
Tidak sampai mencari talent, Amin juga membantu dalam hal akting. Meski ada acting coach, dirinya ikut membantu mencarikan kosakata Malangan dalam beberapa scene. "Saya jadi dialog coach saat sesi reading. Mungkin mencari kata khas Malang seperti ndlahom, godir, njegidek atau digado," ungkapnya kepada Malang Post.
Menurutnya, sebatas itulah dia menjadi astrada. Setelah syuting berjalan, maka tugasnya kembali menjadi talent. Dia harus menjadi sosok Pacho, sosok yang tetap dipertahankan sejak DBA 1.
"Saya terlibat di scene saya saja. Scene tentang Sekar dan Rochman, saya sudah tidak terlibat.  Saya kembali jadi talent biasa saat syuting. Tetapi, saat coaching tadi lumayan menguras waktu dan tenaga. Saya harus merelakan waktu latihan saya dan menambah sendiri di rumah agar hafal dialog," urai dia.
Lantas, sebenarnya siapa sosok Amin?  Ternyata dia adalah guru Seni Budaya di SMAK Cor Jesu Malang. Sejak enam bulan terakhir, dia menjadi guru di sekolah swasta tersebut. "Pas syuting, saya masih belum jadi guru di Cor Jesu. Tetapi saya guru ekstra di sekolah negeri," papar pemilik nama panggung Amin Sumantri itu.
Terkenal menjadi sosok Pacho,terlebih setelah film DBA 2 tayang di bioskop, menjadi nilai lebih baginya sebagai guru. Sejak film tersebut mulai dipromosikan, dia jadi dikenali murid-muridnya yang sebagian besar tidak paham sepak bola atau Aremania.
"Saya punya nilai plus dengan menjadi Pacho. Paling tidak saya mendapatkan respek dari siswa," tambah dia.
Pria berusia 24 tahun itu mengakui, sebelum menjadi guru dan terlibat dalam film, dia adalah sosok pekerja seni tradisional. Dia sempat tergabung dalam grup ludruk Karya Budaya di Mojokerto. Grup milik Supali itu, menjadi tempat dia berkarya selama dua tahun, antara 2012-2014.
"Sebelumnya, sejak SMP bergabung dalam Sanggar Srikandi. Ya manggung di acara dinas di Kota Malang hampir setiap bulan," tuturnya.
Kini, setelah namanya cukup dikenal terutama di kalangan suporter, dia menegaskan jika cita-citanya adalah menjadi guru.  Guru yang normal mengajar di pagi sampai siang hari, lalu sore harinya sudah berada di rumah.
Jika ada tawaran main film lagi, dia akan berpikir dua kali. "Kalau sesekali boleh lah. Tetapi kalau berkarier jadi bintang film dan stay di Jakarta, mungkin tidak. Di DBA ini saya suka karena misinya bagus. Menunjukkan kalau orang Malang bisa membuat karya yang menembus perfilman nasional," aku pria kelahiran 29 September 1993 itu.
Dia sangat senang terlibat dalam film Darah Biru Arema. Karena dari film tersebut, selain menunjukkan kehebatan Arek Malang, dia juga mendapatkan banyak saudara. Dari dia yang bukan siapa-siapa, akhirnya banyak dikenal juga oleh Aremania.(stenly rehardson/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...