Mengikuti Pola Hidup Zero Waste Dini Kusuma Wardhani


Selama satu tahun keluarga asal Dini Kusuma Wardhani tidak menghasilkan sampah rumah tangga sama sekali. Bahkan, petugas kebersihan di komplek perumahannya langsung saja melewati rumahnya ketika mengumpulkan sampah. Dini, sapaan akrabnya, selama satu tahun menerapkan aktivitas Zero Waste atau Minim Sampah bersama keluarga.
Ia menghasilkan sebuah buku yang menceritakan pengalamannya beraktivitas untuk menghasilkan sampah seminim mungkin. Buku itu berjudul “Menuju Rumah Minim Sampah”. Semua itu terjadi di rumahnya yang terletak di Perumahan Bumi Meranti Wangi Sulfat Kota Malang .
Buku “Menuju Rumah Minim Sampah” tersebut bahkan sempat dipesan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KemenLH) sebanyak 3.000 copy.  Untuk kebutuhan sebuah event kementerian. Sebagai salah satu souvenir acara.
Dini sendiri bukanlah penulis asing. Sejak 2010 ia sudah mulai menulis buku. Akan tetapi awalnya adalah buku-buku dengan tema anak-anak hingga kerajinan tangan (crafting). Padahal ketika itu, Dini berprofesi sebagai Dosen Planologi (Perencanaan Wilayah Kota) di Universitas Brawijaya (UB) Malang.
“Ya memang suka nulis ya. Tetapi baru mulai nulis soal isu lingkungan itu di 2014. Saat itu masih buat buku anak-anak sih, tetapi didalamnya saya sisipkan materi tentang ramah lingkungan dan zero waste,” terang ibu dua anak yang sudah menghasilkan 50 buah judul buku beredar secara nasional ini.
Salah satu bukunya yang terbit di Tahun 2014 berjudul “Kisah Kota Kita”, bahkan mendapatkan rekomendasi dari Presiden Joko Widodo yang pada saat itu baru saja terpilih dalam Pemilu. Juga direkomendasikan oleh Anies Baswedan. Di mana testimoni mereka tertera dalam buku karya Dini ini. Apa yang kemudian membuat Dini, yang sudah terkenal mengeluarkan buku tentang anak-anak ini kemudian menulis buku tentang Zero Waste atau hidup minim sampah? Menurut Dini, semua bermula ketika ia membaca sebuah buku.
“Di 2015 an saya baca buku judulnya"Zero Waste Adventure" pendakian gunung yang tidak menghasilkan sampah. Di sini saya itu jadi terinspirasi dan memang sih sebelumnya sudah tertarik dengan pola-pola hidup minim sampah karena memang resah lihat sampah di mana-mana,” tegasnya.
Alumnus SMAN 3 Malang ini mengatakan, ia kemudian semakin mendalami aktivitas tersebut. Apalagi dirinya sendiri mengajar tentang teknis tata kota. Sebuah ilmu yang juga sejalan dengan program minim sampah yang tengah digalakkan saat ini.
Meski begitu ia tidak langsung menuliskan ide buku “Menuju Rumah Minim Sampah”. Di tahun itu, ia diundang menjadi pembicara penulisan buku anak di Jogjakarta.
“Waktu itu sebenarnya saya enggan berangkat karena saya ndak bisa pergi jauh.Tapi saya mikir ini juga untuk bagi ilmu. Dan saya juga terpikirkan saya juga mau eksperimen. Ke panitia saya minta syarat akhirnya. Agar acara itu tidak boleh menghasilkan sampah. Panitianya setuju,” jelas perempuan yang sempat menjadi anggota tim konsultan perencana kota dan arsitektur Kota Bandung pada tahun 2003 ini.
Baru setelah acara tersebut, Dini semakin bertekad memilih pola hidup minim sampah. Dari acara di Jogja tersebut, Dini menginisiasi sebuah grup whatsapp yang isinya adalah mantan peserta acara yang ingin membuat gerakan minim sampah.
Di sana ia pun membuat modul-modul berbentuk seperti kurikulum, tentang pengalamannya mengamalkan pola minim sampah. Tidak hanya di grup media sosial itu, Dini juga memposting di media sosialnya.
“Sampai ketika ada teman, dia editor, tertarik dengan tulisan saya dan ngajak untuk dibikinkan saja buku. Saya sempat mikir, emangnya ada yang baca ya” ungkapnya sambil tertawa kecil.
Ia berpikiran saat itu isu tentang sampah ataupun lingkungan belum banyak diminati. Dini sendiri pun kerap berkunjung ke toko buku, dan buku-buku tentang komposter hingga daur ulang terlihat sangat tidak menarik tanpa warna dan ditaruh di pojok toko.
Meski begitu, kawan editornya meyakinkan Dini untuk tetap menuliskan sebagai sebuah buku. Karena akan melakukan pendekatan berbeda. Yakni dibuat berdasarkan pengalaman sendiri. Dari situ buku tersebut lahir.
Nah, apa saja sih yang dilakukan Dini dan keluarganya yang juga tertulis dalam bukunya tersebut? Sederhana saja. Dini menerapkan konsep aktivitas minim sampah.
Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menjelaskan dirinya memiliki tiga komposter, enam lubang biopori dan melakukan pemilahan sampah di rumahnya. Bahkan alat-alat untuk bersih-bersih ia buat sendiri dari buangan minyak, yang biasa disebut jelantah.
“Kalau sabun mandi, kami buat sendiri ada caranya pakai dengan soda dan ada bahan cair sabunnya. Kalau sabun untuk bersihin lantai atau cuci-cuci piring saya buat dari jelantah. Nah kalau sampah sisa makanan kita olah di komposter,” jelas Dini saat ditemui Malang Post kemarin.
Meskipun ia dan keluarganya dapat melakukan aktivitas rumah tangga yang minim sampah, tentu saja ada hal yang tidak bisa dihindari. Yakni menerima sampah dari luar. Maksudnya seperti mendapatkan hantaran atau oleh-oleh dari tetangga, keluarga dan kerabat.
Jika ia mendapatkan sampah plastik dan sebagainya, Dini akan memilah sampah tersebut kemudian mengantarkan sampah ini ke Bank Sampah Kota Malang. Atau dibuatkan handicraft.
“Memang untuk memulai pola minim sampah benar-benar harus dari diri sendiri ada paradigma yang selama ini belum disadari banyak orang bahkan pemerintahan kita,” tandasnya.
Dini berpandangan bahwa Zero Waste sendiri selama ini kerap identik dengan gerakan daur ulang. Bahkan event pemerintah mana yang saat ini tidak mengedepankan karya-karya daur ulang tambahnya. Padahal Zero Waste bukan seperti itu. Warga tidak harus sampai melakukan daur ulang jika sampah tidak ada. Hal ini yang menjadi kunci dari pola hidup minim sampah.
“Jadi memang harus dari hulunya. Ya dari kita sendiri di rumah. Sebisa mungkin sampah yang dihasilkan harus dalam jumlah paling minim. Sebenarnya kita sangat bisa. Tinggal bilang tidak kepada plastik, tidak pada bungkusan makanan. Lalu bawa kantung sendiri kalau belanja. Nah masalahnya kan kita semua sudah terbiasa dan selalu banyak alasan,” pungkas Dini. (Sisca Angelina/ary)

Berita Terkait