Mohammad Sugri, Pelukis Sepuh Pendiri Sanggar Bambu


Seni merupakan sebuah wujud keindahan. Keberadaannya pun tak lekang oleh zaman. Usia tak menghalangi siapapun untuk berkarya, termasuk Mohammad Sugri. Di usia ke 72 tahun, dia tetap hidup dan mencintai seni. Beberapa waktu lalu, bapak  empat anak ini ikut pameran lukisan di Balai Kota  Malang, dengan dua karya lukisannya.
Agar seni tetap lestari, Semi begitu Mohammad Sugri akrab dipanggil, menularkannya kepada anak-anak. Ia membuka Sanggar Bambu, dan bersama sang istri Suprapti, 70 tahun, mengajar seni dengan gratis. ”Siapapun boleh datang ke Sanggar Bambu. Kami mengajarkan seni tari dan seni lukis, tanpa imbalan apapun,’’ katanya.
Pria kelahiran 30 Juni 1947 ini menceritakan, Sanggar Bambu berdiri sejak 2015 lalu. Dia mendirikan sanggar, karena prihatin dengan pergaulan bebas anak-anak dan remaja. Saat itu, Semi melihat banyak anak-anak yang pekerjaannya hanya bermain tanpa arah. Bahkan banyak remaja pacaran tanpa batas dan juga menggunakan narkoba.
”Dari rasa prihatin itu kemudian muncul rasa peduli. Saya kemudian mengajak istri berbicara, untuk menekan pergaulan bebas itu dengan mendirikan Sanggar Bambu,’’ katanya.
Dia tidak menyangka Suprapti yang merupakan pengajar di salah satu Sekolah Luar Biasa di Kabupaten Malang setuju dengan usulnya. Tak menunggu lama, dengan memanfataankan bagian teras depan rumahnya, Semi mendirikan sanggar seni.
Begitu bangunan sanggar jadi, dia pun mulai menyosialisasikannya. Warga Jalan  Gilimanuk ini door to door ke rumah para tetangga, memberitahukan keberadaan sanggar tersebut. Tak jarang dia memanggil anak-anak datang ke rumahnya, agar mereka mau belajar seni atau melakukan kegiatan positif lainnya.
Tentu saja, upaya itu bukan hal mudah. Sekalipun banyak tetangga yang mengetahui aktivitas Semi dalam dunia seni, tapi tak banyak warga yang percaya  serta tertarik untuk belajar seni. Sehingga dia pun membutuhkan waktu lama agar ada anak yang datang ke sanggarnya.
”Saya tidak menyerah sama sekali. Tekad saya bulat saat itu, yaitu membuka sanggar untuk anak-anak belajar tari atau melukis. Selain peduli kepada anak-anak dan warga, saya juga ingin melestarikan seni yang saya bisa. Itu sebabnya saya terus melakukan sosialisasi,’’ tambahnya.
Hingga akhirnya, ada salah satu anak yang datang ke rumahnya untuk belajar seni lukis. Rasa bahagia pun menyeruak di hati Semi saat itu. Dia pun langsung mengajari anak tersebut tentang seluk beluk seni lukis, mulai dari dasar. Dari satu anak, kemudian bertambah menjadi dua anak, tiga dan sekarang lebih dari 30 anak yang rutin belajar di sanggarnya.
Mereka umumnya merupakan anak-anak atau remaja yang tinggal di Jalan Gilimanuk atau seputar wilayah Sukun. Karena yang bergabung terus bertambah, Semi pun harus membagi waktu untuk latihan. Penjadwalan itu dilakukan agar proses belajar bisa fokus dan anak-anak tidak terganggu.
”Pertemuan dibuat seminggu satu kali per kategori.  Contohnya hari Selasa bejar melukis, Rabu latihan tari, dan Kamis pelajaran seni menganyam atau origami,’’ katanya.
Semi senang dapat berbagi ilmu dengan anak-anak. Menularkan ilmunya dan diterima baik oleh masyarakat, baginya merupakan anugerah yang luar biasa. ”Ilmu tidak boleh disimpan sendiri. Tapi ilmu harus dibagi, itu yang orangtua ajarkan kepada saya,’’ katanya.
Sejauh ini, Semi mengaku tak mendapatkan bantuan apapun. Kalaupun  anak-anak binaannya menggelar pertunjukan, dia sendiri yang mengupayakan dananya.  ”Belum pernah melakukan pertunjukan besar sih. Tapi kalau tampil sudah beberapa kali di sini, saat event Agustusan atau acara lain,’’ tambahnya. Dia mengaku tak akan putus asa mengajarkan kesenian kepada anak-anak. Semi juga terus memberikan motivasi kepada anak-anak binaannya agar terus belajar.  
Selain melakukan aktivitas mengajar seni, Semi juga sibuk menjadi pelukis. Hampir setiap hari, dia bergelut dengan kanvas dan cat minyak. Menurut Semi, melukis tak hanya menjadi hobi tapi melalui lukisan, dia dapat berkarya dan mendapatkan uang.
Dua lukisan hasil karnyanya yang beberapa waktu lalu dipamerkan di Balai Kota Malang masing-masing berjudul Pertiwi dan Reog Ponorogo. Menurutnya, dua lukisan itu dipilih untuk ikut pameran karena memiliki cerita. ”Kalau yang Pertiwi ini saya buat saat musim kampanye tahun 2013 lalu. Dimana dua srikandi sedang berebut tahta,’’ katanya.
Dia pun menggambarkan jelas, dua srikandi tersebut pada lukisannya. Dimana ada dua wanita, masing-masing mengenakan kebaya dengan selendang warna hijau dan merah. Di depan keduanya ada seekor harimau, yang menunjukkan sebagai kekuasaan.
Semi mengaku, cintanya pada kesenian berawal dari seni tari, yang ia pelajari pertama kali. “Melalui gerakan tari, saya melihat keindahan, ada unsur estetika yang luar biasa, dan bahasa budaya yang disampaikan,” ujarnya. (ira ravika/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :