Pakai Aplikasi, Bisa Kontrol Pupuk dan Pengairan dari Smartphone

PANEN LANGSUNG: Rahmad Hardiyanto memberikan penjelasan kepada peserta ATM, merkea bisa menyajikan hasil sayur menjadi produk kuliner yang dipanen langsung dari kebun.
 
 
Kisah Rahmad Hardiyanto Inisiator Akademi Petani Milenial
 
Sektor pertanian merupakan mata pencaharian masyarakat Kota Batu. Secara perlahan lahan pertanian semakin menyusut karena fungsi lahan menjadi perumahan hotel, dan bangunan lainnya. Parahnya lagi, mayoritas petani Indonesia berusia lebih dari 50 tahun. Rahmad Hardiyanto (33 tahun) berjuang agar pertanian bisa menjadi milik generasi milenial.
 
Ya, masalah petani saat ini, salah satunya kurang atau bahkan tidak melek teknologi. Padahal, dengan penguasaan teknologi, akan sangat membantu dalam pengembangan pertanian. Belum lagi generasi muda saat ini gengsi untuk kuliah dan bekerja di bidang pertanian. Itu karena paradigma masyarakat yang negatif terhadap petani dan menganggap pertanian tak keren lagi. 
Bagi Rahmad Hardiyanto, petani asal Dusun Banaran, Desa/Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, bertani itu keren. Ia memiliki ide cemerlang untuk mengajak anak muda bertani. Yakni dengan membuka Academy Tani Milenials (ATM).
"Saat ini tak bisa dipungkiri sektor pertanian semakin menurun. Baik lahan yang diikuti hasil produksi. Hingga SDM yang semakin menyusut," ujar Hardi membuka percakapan kepada Malang Post.
Atas dasar itulah Hardi mencoba merangkul masyarakat untuk kembali bertani. Khususnya bagi anak muda melalui ATM yang diinisiasi dirinya awal tahun ini. Sesuai dengan namanya, ATM adalah sistem pertanian cerdas berbasis Internet of Things (IOT). Yakni pertanian yang dikendalikan melalui teknologi mulai dari hulu hingga hilir. Sehingga petani bisa mengendalikan sistem tersebut melalui aplikasi di gawai.
Hardi menceritakan, ATM yang diinisiasinya sejak bulan April lalu diikuti oleh sekitar 16 orang dengan usia mulai dari 25 - 35 tahun dari Kota Batu. Serta dengan latar belakang yang berbeda. Karena dalam ATM memiliki konsep yang terstruktur, sistematis dan masif. 
"Artinya dalam ATM petani mudah harus mengetahui semua alur pertanian dari hulu ke hilir atau terintegrasi. Mulai dari cara menanam, merawat, memanen, mempacking hingga memasarkan," beber laki-laki yang menjadi pioneer dari wisata jambu kristal di Bumiaji ini. 
Karena itu dalam angkatan pertama ATM ada berbagai petani mudah dengan latar belakang yang berbeda. Mulai dari guide lokal yang nantinya masuk dalam pemasaran, komunitas lingkungan yang nantinya mampu mengolah limbah dari hasil pertanian, hingga mereka yang jago desain grafis untuk branding dan desain program.
Selain itu, juga ada pelaku kuliner, nantinya dari panen bisa langsung masak di tempat. Sehingga sayur tersebut memiliki nilai tambah. Juga dari latar belakang e-commerce yang nantinya memasarkan secara online. Serta dari basic pertanian juga. 
"Jadi ATM adalah pertanian yang mengakomodir dari suplay, distribusi hingga demand. Makanya banyak latar belakang yang tak hanya ke pertanian. Tapi mereka concern terhadap pertanaian," tegasnya. 
Sedangkan untuk hasil, dengan menggunakan IoT dari tanam lebih cepat lebih cepat. Seumpama untuk letuce, kangkung dan kale yang ditanamnya dengan menggunakan IoT bisa terbantu lebih cepat 25 hari dari 30 hari. 
Pada intinya, prinsip IoT mempermudah dalam operating sistem. Lebih memudahkan control nutrisi mulai habis yang dikontrol melalui internet. 
"Untuk pertemuan yang kami selenggarakan di ATM sebanyak 20 kali selama 20 hari. Dengan materi yang kami sampaikan membuat screen house mulai nol, pembibitan, instalasi hidroponik, aquaponic, pembuatan pupuk organik cair, hingga persemaian,” terangnya. 
Sementara itu, salah satu peserta yang tergabung dalam ATM dan masuk sebagai tim IT, Ifan Desprantika (30 tahun) asal Dusun Nglonggong, Kelurahan Temas mengatakan bahwa pertanian menggunakan IoT membutuhkan investasi sekitar Rp 1 juta. 
Dari investasi tersebut petani harus membeli Arduino Rp 300 ribu, soil sensor Rp 50 ribu, relay Rp 70 ribu, tds sensor Rp 400 ribu, pump Rp 150 ribu. Kemudian dirangkai menjadi satu bagian. Untuk aplikasinya menggunakan Blynk download free di Playstore bagi Android atau Appstore bagi IOs.
Jika dibanding dengan pertanian konvensional tentu memiliki banyak kelebihan. Yakni petani sudah dapat mengatur ladang secara otomatis. Mulai dari mengatur kebutuhan air, mencampur pupuk B dan B, mengisi air, dan mengetahui kadar kelembapan tanah.
"Melalui IoT semua bisa di monitoring dan dikontrol dari smartphone. Tidak perlu belajar bahasa pemrograman yang rumit sehingga petani muda bisa sangat mudah mengoperasikannya," pungkasnya.(eri/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :