Penerima Dapat Sertifikat Sepersusuan, Dirikan Bank ASI

dr. Meralda Nindyasti Eka Budi Astutie pembuat aplikasi berbagi ASI, sudah sering dimintai donor oleh rumah sakit di Malang.
 
Lactashare, Aplikasi Donor ASI se-Indonesia Bersyariat
Teknologi memudahkan banyak orang untuk berbagi apapun. Informasi terkait isu terbaru, kesehatan, kebutuhan darah hingga kebutuhan ASI. Di dunia ibu dan anak, dr. Meralda Nindyasti Eka Budi Astutie untuk membuat suatu aplikasi khusus untuk sharing ASI yang diberi nama Lactashare. Melalui aplikasi tersebut, seluruh ibu se-Indonesia bisa mendonorkan ASI-nya sesuai dengan aturan dan syariat agama.
"Kami hadir dalam bentuk aplikasi. Sehingga, lebih memudahkan calon pendonor ASI. Serta, bisa diakses di seluruh Indonesia. Para pendonor bisa mendaftarkan diri dan memenuhi persyaratan yang ada. Kemudian, kami tinggal verifikasi," terang dia ketika ditemui Malang Post.
Menurutnya, selama ini, para pendonor ASI hanya mendapatkan informasi melalui media sosial dan langsung memberikan ASI-nya tanpa observasi. Padahal, hal tersebut beresiko terhadap bayi yang akan menerima ASI. 
"Karena kemudahan teknologi, semuanya bisa diakses dengan cepat. Tanpa verifikasi dan pemeriksaan, mereka langsung memberikan ASI. Padahal itu nggak boleh," lanjut dia.
Sebab, melalui ASI, ada beberapa penyakit yang kemungkinan bisa ditularkan. Di antaranya Hepatitis B, C, HIV/AIDS dan lainnya. Untuk itu, ia memfasilitasi para ibu yang memiliki ASI berlebih untuk mendonorkan ASI-nya. 
“Jangan sampai semangat mendonorkan ASI kendur karena terhalang berbagai macam hal,” kata dia.
Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa Alda tersebut mengibaratkan, jika masyarakat hendak melakukan donor darah, harus ada pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. 
“Begitu juga degan donor ASI. Harus dilakukan tes kesehatan juga,” lanjut dia.
Untuk itu, ia terpikir untuk membuat Lactashare. Melalui aplikasi tersebut, selain masyarakat bisa mendonorkan ASI-nya, juga akan mendapatkan banyak edukasi tentang ASI. 
“Saat ini, satu dokter, perawat, konselor, perawat dan bidan yang ada di tim kami. Sebelum mendonor dan menerima ASI. Kami betul-betul melakukan identifikasi terlebih dahulu,” kata dia.
Selama dua tahun berdiri, sudah ada sekitar 750 pendonor ASI yang sudah terdaftar dan berasal dari seluruh Kota/Kabupaten se-Indonesia. 
“Sementara, untuk penerima ASI, ada sekitar 500 orang bayi. Namun, hanya 110 yang kami verifikasi,” kata dia.
Sebab, lanjut dia, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan bagi para penerima ASI. 
“Para penerima harus benar-benar mendapatkan rekomendasi dari dokter. Atau bayi yang ibunya meninggal dunia saat melahirkan dan masih banyak lagi,” papar ibu satu anak ini.
Sementara, utuk wilayah Malang raya, Lactashare sudah menjadi langganan beberapa rumah sakit utuk memberikan referensi calon pendonor ASI. “Selama ini, kami sering diminta oleh RSSA dan Lavalette. Ketika ada bayi yang lahir prematur dan butuh donor ASI, misalnya. Mereka langsung menghubungi kami,” lanjut lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini.
Lebih lanjut, Alda menguraikan, para penerima ASI, nantinya akan mendapatkan sertifikat sepersusuan. “Ini sesuai dengan syariat. Para penerima donor jadi tahu silsilah saudara sepersusuannya dan tidak putus begitu saja. Jadi tahu juga siapa mahramnya,” ujar perempuan berhijab itu.
Perempuan berusia 31 tahun tersebut menambahkan, selama ini, para pendonor maupun penerima donor tidak dipungut biaya alias gratis. Bahkan, ada beberapa orang yang tidak mampu dibantu pembiayaan oleh Lactashare. 
“Selama ini, dana kami dapatkan dari donasi masyarakat. Serta, kami membuka toko e-commerce yang menjual perlengkapan ibu dan bayi. Hasilnya, kami berikan kepada Lactashare,” jelas perempuan asal Bangkalan itu.
Ke depan, lanjut dia, pihaknya akan terus memberikan edukasi tentang ASI kepada masyarakat. Baik melalui seminar secara langsung maupun konsultasi online. “Ke depan, kami akan membuat lembaga wakaf atau Bank ASI. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi,” tandas perempuan yang tinggal di kawasan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini.(Amanda Egatya/ary)
 

Berita Terkait