Perjalanan Karir Desainer Yusi The Mantra


Dengan berkembangnya fashion, para desainer berlomba-lomba menghasilkan karya dan menyedot perhatian pasar. Seperti yang dilakukan oleh Yusi Purwanti atau yang lebih dikenal dengan Yusi The Mantra. Perempuan berambut panjang ini, berhasil menyulap kain khas daerah menjadi satu produk fashion dan diburu oleh beberapa ibu pejabat.
Kepada Malang Post, Yusi tak ragu menceritakan perjalanan panjangnya untuk menjadi seorang desainer. Ia memulainya dari hobi. Sebab sejak SMA, ia mulai sering menggambar desain baju.
“Untuk hobi gambar, sudah mulai kelas 5 SD. Nah, waktu SMA itu, saya coba tirukan gambar baju Tony Braxton saat menyanyikan lagu Unbreak My Heart,” papar dia.
Sejak saat itu, Yusi hobi mengumpulkan desain gambar baju dan mulai menjahitkan baju untuk photoshoot. “Saat itu, memang hobi foto. Kemudian, teman-teman fotografer suka dengan baju saya, itu yang membuat saya termotivasi,” jelas dia sambil tersenyum.
Pelan-pelan, Yusi yang saat itu bekerja sebagai karyawan bank demi passionnya di bidang desainer baju. Ia mulai menseriusi bisnis bajunya. Apalagi, ada agency foto yang meminta sponsor untuk buat event photoshoot.
“Saat itu, dimintain label. Akhirnya muncul ide The Mantra. Sebab, saya berharap, bisa memberikan penampilan seseorang jadi lebih baik. Apa mantranya? Ya Bismillah,” papar dia sambil tertawa.
Sejak saat itu, ia mulai kebanjiran pesanan. Teman-temannya yang berasal dari Banjarmasin tertarik untuk meminta dibuatkan gaun untuk foto kehamilan.
“Saat itu, langsung ngebut. Saya yang gambar dan yang jahit ibu saya. Kebetulan, ibu saya perias sekaligus penjahit,” kata dia.
Pesanan baju tersebut kemudian berlanjut, salah satu temannya yang ada di Lombok memesan baju untuk kebaya akad dan juga resepsi. “Saya memiliki ciri khas tersendiri, yakni sexy unik dan etnik,” papar ibu satu anak ini.
Lebih lanjut, Yusi menerangkan, untuk gaun dan kebaya, ia selalu menyertakan kain batik yang berasal dari Jogjakarta, Solo, Pekalongan, Madura, Sidoarjo, Banyuwangi, Tulungagung, Kalimantan, Papua dan Lampung. Sementara, untuk kain tenun, mulai dari Lombok, Makassar, Sumba dan lainnya.
“Melalui karya, saya ingin memperkenalkan kain khas Indonesia yang menjadi ikon. Supaya mereka lebih dikenal oleh masyarakat. Motif asli Indonesia memberikan keunikan tersendiri,” lanjut perempuan yang tinggal di Jalan Raya Karangsono, Kebonagung, Pakisaji ini.

Berita Terkait