Ratu Tita Quritama Putri, Koordinator Komunitas Alzi Kota Malang


MALANG - Tak banyak putri atau anak dari penderita demensia alzheimers yang bersedia berbagi kisah. Namun Ratu Tita Quritama Putri, justru rajin membagi kisahnya saat menjadi caregivers alias perawat penderita penyakit itu. Tita sapaan akrabnya ingin masyarakat mengenal penyakit ini agar bisa menangani penderitanya. Seperti ketika ia merawat ayahnya, yang kini sudah meninggal dunia.
Ya, berawal dari ayahnya didiagnosa Demensia Alzheimers, Tita berusaha mencari tahu mengenai penyakit ini. Tidak banyak yang tahu bahwa Demensia Alzheimers atau yang biasanya dikenal pikun ini adalah penyakit berbahaya yang bisa berujung kematian. Tahun 2013 lalu, ketika Tita sapaan akrabnya berusia 19 tahun Ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahanda mengalami Demensia Alzheimers stadium 5.
Apa yang menimpa ayahnya ini mengantarkannya pada sebuah komunitas Alzheimers Indonesia (Alzi) Kota Malang, diinisiatori oleh Debora Dewi. Tita sapaan akrabnya, sebagai koordinator Alzi. Dari komunitas tersebut Tita bisa sharing dengan teman sesama caregivers. Sharing tentang pasien, obat yang dibutuhkan, cara merawatnya hingga dokter dan rumah sakit yang bisa menangani penyakit tersebut.
“Penyakit alzheimers saat ini belum bisa disembuhkan jadi obat yang ada pun hanya memperlambat progresivitasnya. Penyakit ini termasuk berat setaraf dengan HIV, diabetes dan stroke. Alzheimers bisa dikategorikan penyakit mematikan,” terang Tita yang juga alumni Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang ini.
Bisa dikatakan berat, karena ia mengalaminya sendiri ketika merawat sang Ayah selama lima tahun dari tahun 2013 hingga April  2018. Banyak lika-liku yang dijalaninya selama kurun waktu tersebut. Mulai dari sang ayah hilang di luar kota empat hari. Ayahnya hilang sampai ke Bandung, namun ketemu di Jogjakarta.
“Saat itu bisa ketemu karena di dompet ayah ada kartu nama kakak,” akunya.
Selain pernah hilang, gejala penyakit yang dialami ayahnya adalah juga sering marah-marah. Tidak bisa membedakan yang baik dan benar. Bahkan ayahnya juga mandi sebanyak 20 kali baik saat malam maupun dini hari.
Tidak hanya itu, demensia alzhaimers ini juga membuat sang ayah bisa memakai baju tiga lapis alias rangkap tiga. Dan yang paling parah tidak bisa membedakan di mana ia harus buang air besar dan kecil. Dari tujuh fase alzheimers, puncaknya yakni stadium terminal di mana sang Ayah sudah mulai kesulitan berbicara dan bergerak.
“Penyakit fisiknya jadi lebih kelihatan dominan, itu ternyata cukup bikin stress juga karena tidak hanya menangani alzheimernya saja tetapi juga penyakit lain yang turut menyertai,” jelasnya.
Setiap individu tingkat penyerangannya berbeda-beda. Bisa jadi menyerang otaknya dulu atau fisiknya dulu. Sementara yang dialami oleh ayahnya yakni gangguan otak terlebih dahulu. Baru kemudian fisiknya, disertai penyakit lain seperti pembengkakan paru-paru dan gagal ginjal.

Berita Terkait

Berita Lainnya :