Ridho Zikri, Pesilat Tangguh dari UIN Maliki


Ridho Zikri menggapai prestasi tinggi hingga tingkat internasional. Pesilat asal Aceh yang merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut meraih gelar terbaik. Ia menjuarai Asia Open Pencak Silat 2019, bertajuk Sumedang Larang Open Championship (SLOC). Namun satu mimpinya belum terwujud. Ia belum sempat dilatih silat oleh sang kakek yang sudah meninggal dunia.
Ridho, menjadi juara pertama di nomor Tanding Dewasa di SLOC 2019 yang tidak hanya diikuti oleh pesilat dari Indonesia saja. Ada beberapa negara lain yang turut bertanding untuk kejuaraan antar mahasiswa tersebut. Sebelum itu, dirinya juga menjadi juara dalam Kejuaraan Nasional ke 5 di Jogjakarta, medio Maret lalu.
"Saya dikirim ke SLOC Asia di Sumedang itu karena juara di Kejurnas dan permainan saya dianggap layak untuk bertanding di level lebih tinggi lagi," ujar Ridho, mengawali ceritanya.
Ridho mengakui, prestasinya di bidang pencak silat dimulai ketika dia tertarik saat melihat kakeknya melatih olahraga tradisional tersebut di kampungnya, di Aceh Tenggara. Dia lantas mengutarakan keinginan untuk menekuni pencak silat dan minta dilatih sang kakek. Namun sayang, sang kakek terlanjur jatuh sakit. Padahal, menurutnya, kakeknya sudah berjanji mengajari dia.
 "Beliau belum sempat sembuh juga, sudah meninggal. Akhirnya tidak sempat mengajar saya. Dari situ saya janji ikut pencak silat dan tekun belajar," ungkap dia.
Ia ingin menjadi juara, dikenal banyak orang terutama di kampung halamannya. Seperti sang kakek. "Saya ingin beliau senang dari surga," papar dia kepada Malang Post.
Lantas, saat bersekolah di Madrasah Aliyah dia mengikuti ekstrakurikuler pencak silat di sekolahnya, yang kebetulan juga menjadi tempat dia mondok, yakni di Pesantren Darul Arafah Raya, Medan. Ia mendapatkan guru yang kebetulan, Ketua Dewan Pencak Silat di Sumatera Utara.
 "Sampai sekarang saya sering berkonsultasi dengan dia. Meminta masukan. Dia berjasa besar pada prestasi saya," sahut dia.
Saat masih di Ponpes Darul Arafah Raya, dia pun menuai banyak prestasi. Ia sempat masuk pemusatan latihan di Pemprov Sumut untuk pertandingan naisonal, berkat prestasinya di tingkat propinsi. Salah satunya menjadi atlet di Sumut yang menjadi juara 1 di Asia Tenggara Open 2017 dan beberapa kejuaraan nasional.
"Saya pun masuk ke UIN dengan kemudahan karena jalur prestasi. Saya diberikan kemudahan biaya," tambah mahasiswa Semester 2 Jurusan Hukum Tata Negara tersebut.

Berita Terkait

Berita Lainnya :