Riska Kuarti Handayani, Pelestari Seni Batik Lukis


Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Prinsip itulah yang dipegang oleh Riska Kuarti Handayani. Ibu satu anak ini memiliki keahlian membuat batik lukis. Namun dia tak mau menyimpan sendiri keahlian itu. Riska sapaan akrabnya, membaginya kepada orang lain lewat pelatihan gratis untuk keluarga tidak mampu.
"Ilmu kan tidak harus disimpan, tapi lebih baik dibagi, agar tidak hilang, dan bermanfaat juga bagi yang menerima,"  katanya mengawali cerita.
Riska pun mengaku bangga, karena banyak warga yang ikut pelatihan membuat batik lukis, kini sudah berdikari dan memiliki usaha sendiri.  Malang Post berbincang dengan wanita yang juga memiliki tugas sebagai pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Pakis, wilayah Desa Bunut Wetan dan Desa Saptorenggo ini.
Ia mengaku jika menekuni dunia batik lukis sejak kecil. Awalnya  tahun 1992 lalu, saat dia duduk di bangku SMP. Di mana saat itu, salah satu ekstrakurikuler yang diajarkan adalah seni menjahit. Riska sangat tekun belajar, karena dia senang, dan mempelajari seni menjahit dengan serius.

Tapi demikian di usianya yang masih sangat muda yaitu 15 tahun, wanita yang pernah sekolah di SMPN 1 Kota Malang ini tidak mudah puas. Dia ingin mempelajari yang lain, yaitu melukis.
"Kebetulan saya juga suka melukis. Jadi saat itu terpikir melukis di kain panjang, untuk kemudian menjadi bahan pakaian, seperti batik begitu,’’ tambahnya.
Tak lama ide itu muncul, alumni SMKN 8 Surabaya inipun langsung mencoba. Membeli kain panjang warna putih, ibu dari Ariq Kristi Vidianto inipun mulai melukis. Motif bunga-bunga dipilih saat itu.
Sekalipun bukan hal mudah, namun Riska sangat bersemangat. Hingga akhirnya, kain putih sepanjang 2,5 meter itu telah dilukis sesuai keinginannya. Setelah dilukis, melanjutkan dengan pewarnaan.
”Prosesnya sama persis dengan batik sebetulnya, hanya motifnya saja yang berbeda,’’ ungkapnya.
Bahan itupun kemudian dijahit menjadi baju. Hasilnya, cukup mengejutkan, banyak orang yang memberikan pujian. ”Kalau jahitannya ya seperti itu, maksudnya karena belum ahli betul tapi juga ya tidak mengecewakan,’’ tambah wanita berjilbab ini.

Dari situlah rasa ingin belajar Riska semakin besar. Terbukti, setelah lulus SMP, dia memiliki SMKN Surabaya sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Dan di sekolah ini, wanita kelahiran 30 Oktober ini mengembangkan bakat. Dia terus melukis dan berkarya. Bahkan, meskipun saat itu masih duduk di bangku sekolah,  beberapa kali dia menerima pesanan untuk kain batik lukis. Riska menerima itu dengan senang hati.
Saat kuliah ia memilih Fakultas Teknik, Jurusan Tata Busana (Fashion Design) Universitas Negeri Jakarta. Di sini tak sekadar mengembangkan bakatnya melukis batik, tapi juga membuat design pakaian, serta tata cara mengajar.
”Mungkin karena passion saya di sini ya, saya senang sekali menjalaninya,’’ akunya.
Selama 4,5 tahun kuliah, Riska pun lulus dengan IPK  3.43. Meskipun demikian, bukan berarti wanita berkulit putih ini berhenti sekolah. Dia semakin memantapkan ilmunya dengan sekolah desainer di Jakarta. Di sekolah desainer ini tidak sekadar mengandalkan bakat atau otodidak. Tapi, semua diajarkan. Dan perolehan ilmu itulah yang kemudian dia tularkan kepada masyarakat.
”Waktu kuliah, saya sudah banyak mendapat pesanan, baik itu kain ataupun souvenir. Sehingga begitu saya lulus kuliah, sembari mencari pekerjaan, saya juga mengamalkan ilmu yang saya miliki ini kepada masyarakat,’’ tambahnya.

Berita Terkait